
Pov Rahman.
Beberapa tahun silam, sejak pertama kali melihatnya. Fikiran ini terus melayang entah kemana. Berulang kali aku menahan diri, agar gejolak dihati tak semakin menjadi-jadi.
Gadis berlumpur dan seekor kambing yang dituntunnya. Pertemuan yang unik juga klasik.
Saat itu mobil pick up milik pakdhe yang kukendarai melewati jalanan penghubung antar desa, yang sisi kiri dan kanannya dihiasi tambak-tambak ikan. Jalan itu menghubungkan desa Ambeng-Ambeng dan desa Tebalo. Kebetulan aku ada urusan di salah satu desa itu. Untuk mempersingkat waktu aku memilih jalan penghubung, ternyata di tengah jalan ada pertemuan singkat dengan gadis itu. Gadis berlumpurku.
"Maaf om, boleh minta tolong?saya mau ikutan nebeng ke desa seberang." Ucapnya langsung tanpa basa-basi.
Saat itu ia berdiri dibawah pohon waru yang daunnya berbentuk hati, melambaikan tangan kiri memberi kode agar aku menepi, berhenti. Penampilannya sangat kotor. Ia memakai kerudung lebar dan gamis lengkap dengan sepatu yang berlumpur. Untung siang hari, kalau malam hari mungkin kukira ia penampakan. Hiiiyyy!
"Gimana, om?" Ia bertanya lagi.
Sempat tersinggung dengan cara menyebutnya, masih muda gini tapi kenapa musti dipanggil om? Dasar bocah!
Aku memutar bola mata. Sengaja tak melepas masker yang menutup sebagian wajah. Memberinya kode agar naik di belakang. Saat itu kutaksir usianya baru belasan tahun.
Gadis itu sungguh sangat berani. Separuh badannya penuh lumpur, sebab menolong kambing yang terjebak di tambak ikan yang habis di panen, katanya.
"Makanya kamu jangan jauh-jauh kalo lagi main, Mbing." Celetuknya sendiri kepada sang kambing.
__ADS_1
Kulirik dari kaca depan kemudi. Gadis itu apakah sudah tidak waras?berbicara sendiri sama kambing? Aku terkekeh geli.
"Kamu tau kan, mbah kakung sedih kamu udah dua hari ini gak pulang." Lirihnya lagi seraya membelai punggung kambing.
"Embeeekkkkkk..." Kambing itu seolah menjawab, betapa konyolnya mereka.
"Ahahahahaha, haduh dek itu kambing mana ngerti bahasa manusia?" Aku meledeknya, lucu.
Ia melirik tajam ke arahku, bisa kulihat dari kaca spion. Ia mengomel panjang lebar. Etah apa yang diucapkan, suaranya mengambang, beradu dengan desau angin yang kencang.
Pick up yang kukemudikan membelah kesunyian jalanan. Tak habis fikir bagaimana gadis itu bisa jauh-jauh mencari kambingnya?apakah tidak takut jika tiba-tiba ada yang menculik? Mendadak aku prihatin padanya.
"Om brenti di depan situ aja om!" Teriaknya lantang seraya menunjuk sebuah gubug tua.
Mobil menepi. Tepat di depan sebuah gubug yang ditunjuknya tadi. Bangunan yang terbuat dari kayu semi permanen. Sepertinya sudah lapuk termakan usia, ada bolong-bolong juga di beberapa sisinya.
Kuperhatikan gadis itu turun perlahan bersama kambingnya. Padahal jarak menuju desa seberang masih lumayan jauh. Mungkinkah ini rumahnya? aku semakin prihatin dan kasihan.
"Makasih banyak om tumpangannya. Semoga Allah membalas kebaikan om." Ia tersenyum. Menampilkan cekungan di pipi kanannya. Untuk sesaat pandangan kami beradu, ada rasa yang mendadak muncul, getaran itu menjalar lembut kedalam hati. Menimbulkan irama detakan yang tak beraturan.
* * * * *
__ADS_1
Sejak pertemuan yang sedikit aneh itu, sangat sulit bagiku untuk tidak memikirkannya.
Antara penasaran, kasihan dan juga rindu.
Tentang siapa namanya, latar belakangnya, kenapa ia pakai baju tertutup sempurna meski sedang masuk lumpur, tentang gubug reyot itu, benarkah itu rumahnya?
Ah, berhari-hari aku gelisah. Bahkan kuliahku saja berantakan, tak bisa berkonsentrasi penuh seperti biasa.
Usia gadis itu sepertinya masih kecil. Tapi aku bukan pedofil yang suka dengan anak-anak. Rasaku ini fitrah. Melihat ia dengan pakaian yang tertutup sempurna, membuatku bertambah kagum dengan perbandingan umurnya yang masih belia. Ia menjaga kehormatan diri dengan menutup aurat secara sempurna.
* * * * *
"Namanya Rani, dia cucu perempuan Karjo, rumahnya di desa seberang sana, Le." Aku mendengar seksama penjelasan dari mbah Yono. Setelah beberapa hari gelisah, merana, sedih berkepanjangan akhirnya kuberanikan diri mengunjungi gubug tua ini, yang kukira rumah Rani. Ternyata bukan.
Setelah mengumpulkan informasi tentangnya. Ada kebahagiaan tersendiri saat ini. Setidaknya aku masih memiliki harapan untuk bisa kembali bersua dengannya, mungkin di waktu yang tepat. Saat kelak usianya telah matang.
"Pondok Pesantren Riyadhusholiihin."
Aku tersenyum simpul, lima atau tujuh tahun lagi aku akan datang.
Gadis berlumpurku.
__ADS_1
🍁 Terkadang seseorang bisa menjadi tidak stabil dalam bertindak, berfikir ataupun berucap. Hanya sebab sebuah pandangan mata. Yang memberi efek dahsyat setelahnya. Itulah kenapa Allah memerintahkan, agar setiap insan bisa saling menjaga pandangan. 🍁