Kepingan Hati

Kepingan Hati
Kepingan hati yang belum utuh


__ADS_3

Apa jadinya jika saat terbangun dari mimpi panjang nan melelahkan, tiba-tiba disuguhi sebuah pemandangan yang aduhai indahnya.


Wajah yang damai dalam tidurnya, alis tebal tersusun rapi, hidung mancung dengan bibir yang tipis. Mashaa Allah pangeran dari mana ini? kedua mata ini tiba-tiba saja menangkap seorang laki-laki tengah tidur tepat di sebelahku.


Eh tunggu. Ulang lagi.


Seorang laki-laki !!


Huwaaaaaa!!!! Aku menjerit sejadi-jadinya. Kaget melihat sosok lelaki yang tidur seranjang denganku.


Dia tersentak kaget, melotot dan bergerak cepat membekap mulutku dengan telapak tangan kanannya.


Ternyata bukan mimpi!


"Sssssttt! Jangan teriak begitu, kalau kedengeran yang diluar gimana?"


Ia menyuruhku diam. Dengan tangan yang masih membekap mulut rapat. Aku mengangguk-angguk cepat. Seirama dengan detak jantungku yang berdetak kencang.


'Dubh dubh dubh'


"Kamu ini kenapa?" Ia bertanya kebingungan. Kedua alisnya bertaut dengan garis di tengahnya.


Perlahan, kesadaranku berangsur membaik. Mencoba mencerna keadaan yang terasa asing bagiku. Tidur bersama laki-laki. Dengan hanya memakai baju panjang dan tanpa menggunakan hijab penutup kepala.


Hah?!


Seketika aku terbangun dan membuka bekapan tangannya. Dengan frontal menarik kain selimut, menutupi kepala hingga hanya muka saja yang tersisa.


Gugup!

__ADS_1


Juga panik!


Kulihat ia menghela nafas berat. Ikut bangkit lalu duduk bersilah di depanku. Untuk sejenak, kami sama-sama terdiam. Aku menoleh ke arahnya, Ia memandangiku begitu lekat. Mungkin saja kesal. Atau ada belek yang bertengger di mataku saat ini. Mengingat sepertinya ini masih sangat pagi dan aku sudah berteriak sehisteris tadi.


Rasanya pingin nangis sambil meluk guling. Tapi gulingnya di pegang sama dia. Ish!


Iyah, aku memang salah. Terlalu shock. Belum terbiasa dengan kehadirannya. Dan dengan posisi tidur yang saling berhadapan seperti tadi. Oh tidak! Bahkan aku sempat mengaguminya. Karena, kukira itu hanya sebuah mimpi.


Jika dulu dikamar ini hanya aku sendiri yang menempati, kini ada seseorang yang mau atau tidak mau harus kubagi ruangan ini dengannya. Termasuk harus menyadari akan keberadaannya.


Risih, tapi konsekuensi menikah ternyata harus seperti ini. Walau pernikahan yang kujalani bukan seratus persen murni akan keinginanku, tapi, semua ini telah terlanjur kupilih.


"Maaf, Mas. Aku panik," ucapku lirih sembari memilin ujung selimut yang kukenakan.


Kukira dia akan marah. Tapi, justeru ia tertawa kecil melihatku seperti ini.


Apanya yang lucu?hah?! Aku berteriak kencang. Teriakan yang hanya bisa kudengar sendiri. Karena hanya sudut hati yang mengerti.


Aku melengos. Menghadap dinding kamar. Iyah juga, teriak histeris seperti tadi. Sungguh memalukan! Apalagi ini dini hari, ditambah ini malam pertama kami sebagai suami isteri. Bagaimana jika ada yang mendengar tadi?


Bahkan dekorasi ruangan ini pun lupa mengingatkanku.


"Kita sudah menikah, Dek, dan kamu masih malu-malu begini? Saya suami kamu. Harusnya kamu nggak perlu nutup aurat seperti ini." Ia menarik selimut yang menutupi kepala.


"Dan kamu juga tau kan, saya juga berhak ...," kalimatnya menggantung.


Mendadak mukaku kebas. Tatapannya begitu menyelidik. Terlebih dibagian diriku yang sensitif.


Mau ditabok hah?!

__ADS_1


"Dih, kok gitu sih ngomongnya!" Aku mendengkus kesal. Ku ambil lagi selimut yang sempat ditariknya tadi. Menutup sempurna keseluruh tubuh.


"Tuh kaan! Hahahahhahaha." Kembali ia tertawa.


"Kamu cantik kalau lagi malu."


Oh hey! Dia mulai lagi dengan kata-katanya. Aku memberengut, kesal.


"Eh tapi, tadi malam tidak terjadi apa-apa kan?" tanyaku cemas. Mengingat selepas shalat isya aku pingsan tak sadarkan diri dan ketika terbangun, sudah terbaring di ranjang dengan pakaian yang sudah terganti juga? Ya Allah apa yang terjadi?!


"Maaf." Ia berucap datar.


Pikiranku kembali kalut. Takut dengan kenyataan yang sudah terjadi saat pingsan. Sedangkan di kamar ini hanya ada kita berdua. Sepasang suami isteri.


Mendadak hatiku sakit. Ada jarum tajam yang mengoyaknya, di sini.


"Jangan salah faham, saya hanya menggendong kamu ke kasur. Ibu yang menggantikan bajunya. Saya sudah berjanji sama kamu, tidak akan menyentuh sampai kamu benar bisa menerima saya." Ia menjelaskan panjang lebar. Mungkin karena melihatku terisak seperti ini.


"Te ... terus kenapa bilang maaf?" tanyaku sambil sesenggukan.


"Karena, saya harus menggendong kamu." Dia menatap lekat. "Tanpa izin," sambungnya lagi.


Ia meraih kotak tisue di atas nakas. Menyerahkanku tapi dengan membuang pandang ke arah lain.


"Maaf jika kamu masih malu, saya tidak akan memandang rambut itu lagi. Saya tidak akan memaksa."


Ada rasa hangat menjalar di hati. Akankah ia benar memegang janjinya? sedangkan aku sendiri, tak tau bagaimana hubungan ini kedepannya nanti.


🍁 Ada kalanya, kepingan hati yang kita inginkan. Bukanlah dia yang bersanding di pelaminan. 🍁

__ADS_1


__ADS_2