
Bercak merah menjadi tanda, melebur sudah cinta kita berdua. Tanda aku telah menjadi miliknya, seutuhnya hanya untuk dia.
Hari-hari yang berlalu tak lagi kaku. Ia semakin bergairah menunjukkan betapa besar cintanya padaku.
"Mas sayang banget sama kamu, Dek," ia berbisik lembut.
Dan lagi, untuk yang kesekian kali. Ia menghujamiku dengan berjuta cinta kasih sayangnya. Hingga aku terbuai dan tenggelam di dalamnya.
* * * * *
Mentari pagi sepertinya sedang enggan beranjak dari singgasananya. Berkali kuintip dari daun jendela, pekatnya langit masih mendominasi. Meski jarum jam menunjuk ke angka delapan pagi. Seperti sang surya, mas Rahman tak jua ingin beranjak dari pembaringan.
"Mas, udah siang nih. Ayo bangun, nanti Ibu curiga kita nggak keluar-keluar kamar." Aku mencoba mengingatkan Mas Rahman. Sejak pulang dari masjid subuh tadi, Ia benar-benar menghukumku. Sama sekali tak boleh turun dari ranjang.
"Nanti lah, sini dulu." Ia semakin erat memeluk.
"Lagian di luar mendung, gelap. Jarang-jarang libur kaya gini." Ia membenamkan mukanya di tengkuk leherku.
Aku membalik badan. Melihat dengan utuh wajahnya. Guratan di sana terbaca, seolah ia sedang mengkhawatirkan sesuatu.
"Mas masih ragu?" tebakku.
Ia tersenyum kemudian mengecup kening wajah milikku.
"Bukan sekarang, mungkin nanti," ujarnya kemudian.
Aku terpaku, jawabannya tadi begitu absurd.
* * * * *
Minggu pagi di rumah Mas Rahman memang selalu terlambat. Seperti halnya Mas Rahman dan aku. Ibu dan ayah mertua juga belum terlihat di beberapa sisi rumah. Mungkinkah ibu juga sama sepertiku tadi? Di hukum Ayah sampai tak boleh keluar kamar.
Ish, kenapa juga pikiranku jadi ngelantur begini.
Tapi aneh memang. Biasanya ibu mertua sangat rajin. Kulihat tadi di dapur juga tak ada sama sekali makanan tersaji.
Pun kalau pergi, ibu selalu memberi pesan. Tapi, kenapa mereka tak jua tampak batang hidungnya.
Kulihat mas Rahman sedang sibuk dengan gawainya. Sesekali ia tersenyum dan mengerlingkan sebelah matanya kepadaku.
"Ih lagi telpon juga!" Aku mendelik. Menirukan tangannya yang memegang gawai di telinga.
Aku mengambil empat lembar roti tawar di kulkas. Memberinya selai di satu sisi. Menumpuknya lalu mengoles mentega di sisi luarnya.
Kunyalakan kompor, meletakkan roti di atas pan yang sudah di oles mentega. Memanggangnya hingga matang.
__ADS_1
Selesai itu, aku mengambil susu kemasan di dalam kulkas. Membaginya menjadi dua, untuk mas Rahman juga untukku sendiri.
Bau harum mentega yang terpanggang, semakin menggoda perut untuk menimbulkan bunci keroncongan.
"Udah matang belum?" Suara mas Rahman mengagetkanku. Selalu saja begitu. Tiba-tiba datang tanpa aku sadari.
"Duduk aja dulu di situ, Mas," titahku.
Kulirik dari ekor mataku, ia terus saja tersenyum dan memperhatikan.
Meski sudah tak canggung jika harus berduaan dengannya. Tetap saja, debaran di dada masih belum sirna.
Kuletakkan piring berisi roti bakar dan dua susu di atas meja makan. Mas Rahman dengan kaos biru lautnya, semakin terlihat tampan dan menawan.
"Terima kasih, Nyonya Rahman." Godanya.
"Ish, apaan sih Mas," timpalku.
Di tenggaknya susu di dalam gelas. Seteguk, dua teguk, tiga teguk. Aku terus memperhatikan.
"Ibu sama Ayah lagi ke rumah budhe. Tadi nelvon, katanya mau pamitan ke kita, tapi sungkan kitanya gak keluar-keluar." Mas Rahman membuka suara. Di letakannya kembali gelas berisi susu yang tinggal setengahnya.
"Tuh kan, apa tadi Rani bilang." Aku cemberut. Malu jika nanti mertua berfikir macam-macam.
"Hah??ihh kedengeran nggak? Kedengeran nggak mas?" Mendadak aku panik.
"Kedengeran apa?" Jawabnya enteng. Selera makanku jadi hilang seketika. Berganti dengan panik, memikirkan yang tidak-tidak.
"Tadi kan kita habis...,"
"Habis apa?"
"Habis itu, mas.ihhh...." Aku menangkupkan kedua telapak tangan di muka. Malu.
"Bercanda, Sayang," ucapnya lagi dengan sangat lembut dan hati-hati. Ia meraih tanganku, dan menggenggamnya erat.
"Kamu nggak cuman cantik kalo lagi malu, tapi lebih cantik lagi kalo sedang panik."
Aku mengulum senyum. Ia senang sekali menggodaku.
"Rani mau lagi?" Mas Rahman bertanya.
"Mau apa?"
"Mau dihukum kaya dikamar tadi?"
__ADS_1
Aku melotot. Mendelik. Masih saja menggoda seperti itu.
"Mmmppphhtt." Kujejalkan roti bakar ke mulut Mas Rahman.
"Bercandanya jelek," ucapku kemudian.
Dan setelah sarapan yang terlambat dengan susu dan dua lembar roti bakar. Kami bersama-sama membagi tugas membersihkan rumah. Selain lebih cepat selesai, pekerjaan rumah juga menjadi menyenangkan jika dikerjakan bersama pasangan. Walau terkadang ada saja tingkah konyol mas Rahman yang membuatku tertawa terbahak. Hingga tak jarang pekerjaan yang tadinya sudah selesai, mendadak kembali harus diulang lagi.
Selesai pekerjaan rumah, kami memilih duduk di depan tv. Sambil menikmati acara hiburan yang ada.
Jari tangan mas Rahman membelai rambutku. Sesekali ia menggelitik dan memainkannya.
"Gadis berlumpur, masih ingat ndak sama kambingmu?" Mas Rahman mencubit pipiku, sayang.
"Heh? maksudnya apa Mas?"
Ia tersenyum. Lalu menggeleng.
"Kamu nggak ingat?" tanyanya lagi.
"Ish, kok main tebak-tebakan sih?" Aku menatapnya lekat.
"Inget ndak enam tahun yang lalu, tengah hari kamu melambai ke mobil pick up Mas. Mana pakaian penuh lumpur sambil pegangin tali kambing."
Aku mengernyit. Mencoba mengingat-ingat.
"Oh, om-om itu?" tanyaku sambil membekap mulut sendiri. Kaget.
"Dasar nakal." Ia menarik hidungku gemas.
"Jadi, Mas om-om itu?" Aku mencoba meyakinkan diri. Karena seingatku, om itu pake masker. Cuman liat matanya aja.
Ia lalu menggelitik perut. Menarik dan merengkuh tubuhku.
"Masa masih muda dipanggil om?"
"Ting tong!" Seketika kami tersentak. Mas Rahman menarik diri dan bergegas membuka pintu, setelah sebelumnya menyuruhku merapikan kerudung. Demi melihat tamu siapa yang datang.
Lama tak kudengar Mas Rahman kembali ke dalam. Penasaran, siapa gerangan yang berkunjung. Apakah saudara? Atau kawan mas Rahman?
Setelah yakin gamis dan kerudungku terpasang rapi. Aku membawa nampan berisi air minum. Gelak tawa ku dengar dari ruang tamu. Suaranya seperti tidak asing.
Langkahku tercekat, mendadak muka ikutan kebas. Kedua mata kami bersirebok. Ia dengan sangat tersamar, memberi senyuman tipis yang terulas di wajahnya.
'De ... van?'
__ADS_1