Kepingan Hati

Kepingan Hati
Tabir


__ADS_3

Di tempat berbeda. Kesedihan terus terukir di wajah tirus milik Rani. Raganya telah lelah. Menunggu kabar baik akan kesehatan suaminya.


Rani tahu betul bagaimana hubungan Rahman dan juga Ayah tirinya. Sejak kepergian Devan dari kota Surabaya beberapa tahun lalu, sikap Ayah mertua terhadapnya berubah sangat drastis.


Rani tak betah. Bahkan ia meminta untuk secepatnya pindah rumah. Teriakan dan umpatan selalu terdengar dari mulut lelaki yang juga adalah Ayah tiri suaminya itu. Dan puncaknya, saat tiga hari yang lalu, pertengkaran besar yang tak di elakkan terjadi. Ayah mertuanya yang telah bangkrut dan mengalami krisis ekonomi, menyusun rencana untuk membuat usaha penipuan di rumah mereka.


Orang licik dan berhati busuk akan selalu seperti itu. Tak peduli asal uang yang di dapatkan dari mana. Entah halal atau haram, semua tak benar-benar bisa ia pikirkan. Rahman menolak, bahkan menentang keras usaha yang disebut dengan penipuan itu . Namun, pertentangan tetaplah pertentangan. Tak ada sedikitpun penyelesaian.


Saat Rahman berniat mengancam akan menghubungi pihak kepolisian. Sang Ayah justru memiliki niat jahat untuk melenyapkan. Dilepasnya fungsi rem yang ada pada kendaraan milik Rahman. Hingga saat dipakai, yang terjadi adalah kecelakaan besar. Berupa tabrakan menghantam badan truk di depan.


Mobil remuk dan hancur alias ringsek. Beruntungnya, Rahman masih bisa di selamatkan. Meski kondisinya hingga saat ini masih sangat kritis dan tak sadarkan diri.


Di sisi lain, hubungan Afif dan istrinya tak baik-baik saja. Kejadian yang nyaris membuat Rahman harus kehilangan nyawanya. Membuat Lela, Ibu Rahman. Harus bertundak tegas. Tanpa menunggu izin, ia melaporkan suaminya sendiri kepada pihak yang berwajib. Ia tak menyadari, bahwa setelah proses pelaporan itu, namanya juga akan tercatut akan kasus hukum yang membelitnya. Ia juga terseret atas kasus penipuan yang di alami Afif. Bagai makan buah simalakama. Ia sendiri, ikut terkena batunya.

__ADS_1


Hidup memang kejam. Bagi mereka yang mencoba menikmati rupiah dengan cara instant lagi curang.


***


Berbagai alat medis menempel di tubuh Rahman. Wajahnya masih sama, ia tak sedikitpun mampu berbicara. Di lehernya terpasang penyangga. Di tangan dan kaki, gips pula terpasang sempurna. Perban membelit kepala, sedang kesadaran hingga detik ini belum juga menyapanya.


Rani terisak, ia hanya bisa melangitkan doa. Cinta sengaja ia titipkan kepada paman dan bibi Rahman. Agar ia bisa fokus menjaga suaminya. Meski letih dan pikiran telah terbagi menjadi dua.


Rani mengusap punggung tangan Rahman. Air matanya terasa kering, karena sejak awal telah terkuras habis ubtuk menangis. Lidahnya tak mampu lagi berucap. Harapannya hanya satu. Semoga pertolongan segera datang untuknya. Juga untuk suami dan keluarga mereka.


"Tok! Tok!" Suara pintu di ketuk pelan. Satu ruangan yang hanya di huni Rahman itu menggemakan bunyi ketukan teratur. Rani menoleh, di dapatinya seraut wajah yang ia nantikan. Bunyi alat medis yang berisik tak mampu membuatnya lekas sadar.


Pandangan itu saling bertaut. Sinar kedua matanya yang redup, menatap lamat pada sosok di ambang pintu. Satu wajah menatapnya penuh rasa. Ada satu kata yang ingin ia sebut. Namun, seakan tercekat bersama waktu yang perlahan melambat. Jeda itu mengunci, membuat bulu mata lentik miliknya tak mau bergerak meski sedetik saja.

__ADS_1


Dari tempat ia memandang. Seolah binar di ambang pintu itu berkata.


Tak masalah, semua akan baik-baik saja.


Rani mengerjap pelan, langkah kaki terdengar semakin mendekat ke arahnya.


"Devan ...."


***


💕Maaf yah part ini sedikit. Maaf juga karena nggak bisa posting tiap hari. Terima kasih sudah baca novel ini. Bagaimana? Sudah mengaduk perasaan? 😁


Selamat menjalankan ibadah puasa untuk semuanya 💕

__ADS_1


__ADS_2