
Orang bilang kita harus sering-sering menikmati waktu berkumpul bersama keluarga. Rasanya sudah lama juga kami tak mengadakan acara kumpul-kumpul di rumah. Terakhir kami mengadakan acara aqiqah untuk Hadziq. Itupun dibantu emak-emak readers dalam prosesi masaknya. Beruntung sekali bukan aku ini? Banyak sahabat juga saudara yang saling memahami.
Ada satu sisi yang membuatku sedih. Melihat Bagas, terkadang ingat pada diriku yang dulu. Saat terlalu mendamba pada seseorang. Tapi, ternyata rasa itu bertepuk sebelah tangan. Sakit!
Hubunganku dengan Bagas tak ada masalah. Hanya mungkin, dia sedikit patah hati atas ulah keterlaluan Eryn padanya.
Beberapa kali kulihat dia sering melamun. Waktunya banyak ia habiskan untuk mengejar target. Ia jadi sangat gila dalam bekerja.
Atau kalau sedang libur, seringnya ia pergi ke gym. Nyari keringat juga refreshing katanya.
Sepertinya aku bisa menjadi pakar untuk masalah hatinya. Suatu saat nanti, mungkin. Devan si Pak Comblang! Argh! Nggak cocok sepertinya.
***
Malam semakin larut. Kulihat putra kami tertidur dengan pulasnya. Betapa sangat bersyukur diri ini, sekian lama jalan berliku yang dilalui. Kini aku bisa benar menikmati indahnya hidup.
Terlebih memiliki seorang istri yang baik lagi pengertian, Nayla.
Kupandangi paras cantiknya. Tampak kedua pipinya semakin berisi. Membuatnya terlihat chubby juga menggemaskan.
Mengingat kembali saat ia melahirkan Hadziq. Membuatku semakin sayang dan cinta kepadanya.
"Kenapa, Mas?" Pertanyaan Nayla mengagetkanku. Dia yang sedang sibuk membaca ternyata peka juga jika aku memandanginya.
"Nggak papa, Sayang," ujarku seraya tersenyum dari atas pembaringan.
Dia lalu melipat kembali bukunya. Meletakkan benda persegi itu di atas meja kamar. Istriku rajin sekali. Ia banyak membaca demi memahami bagaimana cara menjadi ibu baru alias mamah muda.
Baju tidur panjangnya menjuntai ke bawah. Dengan renda warna pink di bagian atasnya. Manis sekali.
"Sini," panggilku sambil menepuk sisi ranjang.
Nayla beringsut naik, ia lalu merebahkan diri di sampingku.
"Makasih banyak, yah," ujarku sambil membelai lembut rambutnya. Semerbak wangi shampo menguar tajam di hidungku.
"Buat apa, Mas?" tanyanya lagi.
"Buat semuanya."
Nayla mengernyit. Ia menatapku lama. "Mas Devan kenapa? Jangan ngasih kode, deh. Nay masih nifas." Ia mencubit perutku manja.
Astaga! Dia kenapa berpikir kesitu aja sih? Pasti efek bisikan emak-emak readers! Ish! Hayo Mak ngaku! Ngaku!
"Sayang, bukan begitu." Aku meraihnya mendekat, memeluk erat dalam dekapan.
"Waktu Mas di Banyumas kenapa sih nggak ngehubungin? Kan, Nay jadi kepikiran yang enggak-enggak." Dia mendongak. Menatap kedua mataku dengan harap aku memberi jawaban.
"Jangan libatin emak-emak readers deh, mereka udah jujur kok. Gak ada yang berani deketin milik Nay," ujarnya lagi. Padahal baru juga aku mau memakainya untuk alasan.
Aku menarik nafas. Menghembuskan pelan kemudian. Dia, kenapa jadi sering menggunakan kata-kataku?
"Mas, jawab jujur Ihh. Pasti ada sesuatu," gumamnya lagi.
"Disana ada Eryn," lirihku pelan. Takut melihat reaksinya. Apakah istriku ini akan marah.
"Teh Eryn? Kenapa bisa sama dia ihh." Kulihat bibirnya mengerucut tanda tak suka.
"Kenapa? Cemburu?" godaku. Sudah lama sekali tak menggoda Nayla. Rindu ingin melihat ekspresinya.
"Dia ikut ke Banyumas. Bagas yang ngajak, Mas mah nggak tau. Tiba-tiba aja dia ada di kereta." Ku usap pelan pipi Nayla. Masih terlihat rona cemburu disana.
"Pasti dia bikin masalah," ujarnya sambil menyocok-nyocokkan jemarinya di lenganku.
Dia mirip sekali seperti anak kecil yang merajuk. Membuatku semakin gemas.
__ADS_1
"Iyah, dia bikin masalah. Dia itu udah gak waras. Ngejebak Masmu ini. Mas Difitnah di depan Bagas." Aku mencoba menjelaskan berapi-api. Akankah dia tersulut emosinya? Ayolah Nay, tunjukkan kecemburuanmu itu.
Dia memandangku lama. Terkejut kedua alisnya bertaut sempurna. Saat ekspresinya gemas seperti itu, aku mencuri sesuatu di wajahnya.
"Mas! Ihh ...." pipinya memerah. Istriku ini, sudah menikah masih malu-malu juga.
"Kenapa?" tanyaku.
"Orang lagi serius juga," jawabnya sambil cemberut.
"Terus?"
Nayla menghela nafas panjang. Ia lalu memandang lekat ke arahku. Kulihat manik coklat miliknya.
"Nay percaya sama Mas Devan," ucapnya sambil tersenyum.
💕💕💕💕💕
Minggu pagi waktu yang selalu kunanti. Menghabiskan waktu seharian bersama keluarga, betapa itu sangat menyenangkan sekali.
Kulihat Mamah sibuk di dapur. Sedangkan Nayla tengah mengasuh Hadziq di pangkuannya. Kadang aku merasa iri, ingin sekali dimanja seperti jagoan kecilku ini. Tapi, sadar umur. Sudah bukan waktunya lagi seperti itu.
"Nih Mamah bikinin gehu sama bala-bala," ucap Mamah sambil berjalan mendekat. Di tangannya tampak sebuah piring berisi penuh dengan gorengan yang tadi di sebutkan.
"Pas banget lagi dingin-dingin begini," ujarku sambil meraih satu gorengan. Menyuapnya ke mulut dalam sekejap kemudian.
"Heh, masih panas!" Mamah memekik.
"Biarin, Mah. Lapeeeer," ujarku sambil megap-megap. Emang asli masih panas.
"Ya Allah Mas." Nayla menggelengkan kepalanya.
"Mumpung belum kesaingan sama Hadziq. Ntar kalo udah gede malah rebutan haha," aku tertawa membayangkan itu semua.
"Kapan nih liburan keluarga?" Mamah membuka suara. Kedua tangannya menimang Hadziq dengan lembut.
Jangan tanya aku. Posisi kami sudah berubah. Aku merebahkan kepala di pangkuan Nayla. Sambil memainkan game cacing yang sudah lama tak kumainkan.
Buat yang cemburu, biarlah! Makanya kawin sana!
"Mamah mau kemana?" tanyaku sambil tetap fokus memainkan gamenya.
"Puncak gimana?" sahutnya.
"Kejauhan, Mah. Hadziq masih kecil," tolakku halus.
"Kalo di Surabaya? Gimana?" Nayla mengusulkan.
"Enggak!" Aku dan Mamah menjawab serempak.
Kenangan buruk! Itu kenangan buruk! Sungguh, tak ingin rasanya menginjakkan kaki di sana.
"Jadi, kemana?" tanya Nayla.
"Entahlah, yang deket-deket aja," sahutku. Kami kemudian terdiam untuk beberapa saat. Memikirkan tujuan yang akan kami datangi. Sampai akhrinya, terdengar bel pintu berbunyi.
"Ting Tong!"
Aku menatap Nayla. Ia mengangguk paham. Sekejap saja sudah terpasang hijab berwarna biru muda di kepalanya. Aurat istriku jangan sampai terlihat orang lain. Sungguh, aku ingin benar-benar menjaganya.
Bergegas aku berjalan menuju pintu. Siapakah tamu yang datang pagi-pagi begini?
"Iyah, siapa?" tanyaku sambil membuka pintunya.
Sosok pemuda membelakangi pintu. Celana kain berwarna hitam dengan kemeja navy terpasang rapi di badannya. Dari punggungnya saja aku sudah mngenali.
__ADS_1
"Bagas?" tanyaku terkejut.
"Kamu ada waktu? Bisa kita pergi sebentar? Ada urusan, Van," ucapnya gelisah.
"Urusan? Apa ada hubungannya sama kerjaan, Gas?" tanyaku memastikan. Ia yang tampak kalut membuatku lupa menyuruh masuk.
"Bukan," jawabnya.
💕💕💕💕💕
Kuamati dua lembar kertas yang Bagas berikan tadi pagi. Kukira ada apa, ternyata dibalik kekalutannya ada rejekiku tersendiri.
"Itu, apa Mas?" Nayla menjinjit. Mengintip kertas yang sedang kuamati dari tadi.
"Ini buat bulan madu kita," sahutku sambil menaik turunkan alis padanya.
"Ish!" Nayla menepuk lenganku.
"Inget ihh, udah tua, udah jadi bapak-bapak weeeek!" Dia meledek. Menjulurkan lidahnya.
Gemas, kupencet hidung kecilnya itu. Enak aja ngatain udah tua. Masih banyak penggemarnya gini. Yekan makk?
"Asli ihh, penasaran!" Serunya kemudian. Dia kepo sekali.
"Udah, nanti kalo udah waktunya Mas kasih tahu," ucapku sambil nyengir.
"Hadziq mana?" tanyaku setelah sebelumnya menyimpan lembaran kertas itu di laci lemari.
"Ada sama Mamah," jawab Nayla acuh. Ia lalu berjalan keluar kamar sambil membawa beberapa alat mandi bayi. Sekeranjang kecil aneka minyak juga bedak. Tak lupa beberapa lembar pakaian di siapkan.
Sore ini kami akan berjalan-jalan di taman kompleks. Kata Mamah ada pasar dadakan di sana. Kedua perempuanku itu senang sekali kalau ada event seperti itu. Katanya sih lihat-lihat aja. Tapi pas begitu tiba disana. Hampir segala makanan juga barang dibelinya.
Siap-siap saja kalau sudah begitu. Anggaran bisa membengkak tak kenal waktu. You know lah Mak, gimana hebohnya perempuan kalo udah ketemu yang namanya pasar dadakan.
Oke sekali lagi,
Membengkak!
Catet yah,
Membengkak!
***
Rasanya seperti bintang iklan. Berjalan menggendong Hadziq dalam dekapan. Banyak pandangan mata mengarah pada kami, terlebih saat aku memberi senyuman kepada warga yang ada.
Nayla dan Mamah biasa-biasa saja. Tapi, tidak denganku. Mendadak panas dingin seperti ini. Sungguh, untuk pertama kali aku seperti ini.
"Mas kenapa sih?" tanya Nayla tiba-tiba. Kulihat ia berhenti menyendokkan bakso kedalam mulutnya. Sedangkan Mamah sibuk dengan Hadziq, memilihkan pakaian lucu-lucu untuk jagoan kecilku itu.
"Tuh, Dek. Coba liat di belakang Mas," jawabku memberi kode lirikan ke belakang.
Nayla memicingkan kedua matanya. Menatap beberapa orang yang berkerumun di belakangku.
"Oh, itu?" Tanyanya sambil menganggukkan kepala.
"Iyah, kamu kenal nggak?" tanyaku.
Nayla tersenyum. Dia lalu membisik, "itu emak-emak readers! Mereka gak rela Mas Devan ditamatin sama authornya! Makanya ngikutin jauh-jauh kesini."
Astaga! Dasar emak-emak Readers!
Aku padamu pokoknya!
💕💕💕💕💕
__ADS_1