Kepingan Hati

Kepingan Hati
Ini Tentang Devan


__ADS_3

Pov Devan


Kukira jungkir balik kehidupan akan berakhir setelah masa KKN selesai. Ternyata tidak sama sekali. Bahkan itu adalah titik awal kehidupanku yang sangat curam.


"Plakk!"


"Ayah!!!!"


Kini, untuk pertama kalinya, aku benar melihat apa sebab muka mamah selalu di make up tebal.


Tak lain karena ringannya tangan Ayah. Begitu mudah mendaratkan dimana saja semaunya. Mamah tersungkur, mukanya sedikit lebam. Bahkan ada luka berdarah di pelipis kanannya.


Aku, masih dengan jaket almamater kampus. Baru saja membuka pintu rumah, terpaku dan tertahan di sana. Pemandangan itu, seketika membuat darahku mendidih.


Langkah kaki tergesa, deru nafasku memburu. Ku gamit tangan Mamah, mendudukkannya dikursi.


"Ceraikan aku, mas! Ceraikan sekarang juga!!" Mamah berteriak-teriak. Ayah menatap geram. Kedua matanya melotot nyaris keluar.


Aku menatap tajam. Ternyata benar kata mbok Pinah selama ini. Ayah suka memukul.


"Diam!!!" Bentak Ayah meninggi.


"Sekarang pilih, perempuan ****** itu atau aku istri sahmu!" Mamah berteriak lantang, ia lalu berdiri, menunjuk muka Ayah yang sudah murka.


"Kamu tega Mas! Kamu tega!! Kurang apa aku ini? Siang malam bantu banting tulang, kamu malah main di belakangku!! Kamu keterlaluan."


"Mah, udah tenang dulu." Aku mencoba melerai. Menghalangi langkah Mamah yang semakin menyulut emosi Ayah.


"Aku juga sudah tidak tahan lagi denganmu, Baiklah jika itu kemauanmu. Aku ceraikan kau sekarang juga." Ujarnya sambil melangkah pergi, meninggalkanku dan Mamah yang masih terperangah tak percaya.


"Ayah!!!!" Suaraku melengking. Mencoba menyadarkannya.


"Hey, diam! Anak tak tau diri! Nggak usah ikut campur!" Teriaknya kembali sambil menoleh menatap nyalang kepadaku.


Panas, rasa panas di hati seolah mengalirkan energi jahat dalam pikiran. Membuatku telah tanpa kendali memukul muka Ayah. Hingga dia tersungkur nyaris membentur anak tangga.


* * * * *


Berhari Ayah tak pernah pulang. Mamah terlihat sering melamun bahkan tanpa sadar menangis sendiri. Mungkin teringat tentang Ayah. Juga perjalanan hidup mereka yang penuh liku. Teringat dulu sebelum mereka sesukses ini.


Untuk apa mengumpulkan pundi rupiah jika akhirnya rumah tangga hancur. Istana megah yang dibangun kandas tak berbekas.


Mamah hancur. Hatinya remuk berkeping-keping. Betapa perempuan itu begitu rapuh. Jika cinta sesakit ini, apa jalan cintaku nanti akan kandas tak bertepi?


Rani, bisakah kau menungguku sedikit lebih lama?


* * * * *


Berbulan kemudian Mamah resmi menjanda. Disusul foto ayah yang telah kembali membangun rumah tangganya. Dengan perempuan lain yang lebih tua dari Mamah.


Ayah, secepat itukah merubah dermaga? Kenapa kapalnya berlabuh di tempat yang tak seharusnya.


Akupun ikut hancur. Tak tau lagi arah kehidupan akan membawa kami. Selain fisik sakit, mental Mamah pun ikut sakit.


Aku tak mungkin berdiam saja. Ekonomi kami terpuruk tanpa ada bahu yang menopangnya.


Banting arah, mencari celah. Berusaha mencari pundi rupiah sendiri. Demi menyambung hidup. Juga pengobatan Mamah yang menelan biaya tidak sedikit.


Rani, masihkah kau menunggu? Ternyata jalan hidupku sekarang, penuh duri juga liku.


* * * * *


Aku mengelap keringat yang membanjiri kening. Lelah, pekerjaan susah dengan bayaran tak seberapa. Aku mencoba bertahan, mengingat bayangan wajah Mamah juga Rani. Kedua wanita yang memberi semangat lebih.


Masihkah kelak kau mau menerima meski keadaanku teramat jatuh di bawah?


* * * * *


Ayah tak lagi menampakkan batang hidungnya. Mamah semakin terpuruk kondisinya. Rumah yang begitu banyak menyimpan kenangan, membuatnya semakin frustasi.


"Van, bawa ke Bandung aja. Nggak usah mikirin biaya. Ntar uwa bantuin."


Pesan suara yang kuterima dari saudara Mamah di Bandung memberiku sedikit titik cerah.


Setidaknya saudara masih ada yang mau membantu. Betapa Allah maha baik. Di saat lemah seperti ini, kenapa justeru baru teringat pada Nya?


Ku kirim selembar kertas terakhir dari Surabaya. Entah berapa banyak surat yang telah kukirim padanya. Rani, tak pernah sekalipun membalas.


Dia tak mempunyai gawai. Juga tak ada jalur lain untuk menghubunginya kecuali dengan surat saja.

__ADS_1


Aku tak mungkin menggunakan mobil untuk menemuinya. Telah lama teronggok di pegadaian. Beruntung mobil itu masih atas namaku. Ayah tak berani mengungkit atau memintanya. Semua harta bersama yang dibangun dengan Mamah, ludes tak tersisa. Ayah mengambil semua. Aku sangat membencimu Ayah!


* * * * *


Kereta melaju cepat tanpa hambatan dan kata terlambat. Aku setelah sekian lama, kembali menginjakkan kaki di tanah kelahiran Mamah. Di stasiun Bandung, keluarga besar Mamah menunggu. Tak ada yang mengungkit tentang Ayah. Karena aku memang melarangnya. Andai Mamah dulu mendengar nasehat Kakek juga Nenek agar tak menikah dengan Ayah. Mungkin jalan hidupnya tak sepahit ini.


Tapi semua telah berjalan. Sudah terjadi dan tak mungkin terulang kembali.


"Welcome back," uluran tangan dari Bagas kusambut hangat. Uluran yang kemudian menjadi pengantar estafet perjalanan hidupku. Terakhir kami bertemu semasa SMA. Saat ia dan keluarganya berkunjung ke surabaya.


Mamah hanya diam. Aku tak pernah tahu jika trauma yang di alaminya begitu dalam. Hingga membuatnya semakin hilang akal.


Demi kebaikannya, aku terpaksa membawa Mamah ke rumah sakit jiwa. Lagi, sakit itu kembali mendera. Membuncah begitu hebat. Ingin kulampiaskan kepada lelaki bejat yang ternyata Ayahku. Sialan!


Enam bulan berlalu. Aku semakin bersemangat karena sepertinya keberuntunganku saat ini sedang berpihak. Bisnis yang kumulai bersama Bagas berhasil berkembang begitu cepat. Aku semakin banyak belajar. Benar, ujian hidup memang yang terbaik. Selain kini cara berfikirku sudah mulai matang, aku juga banyak memperdalam ilmu agama. Di Bandung banyak komunitas mengaji bersama. Aku hanya ingin menjadi lebih baik dari kemarin. Juga lebih pantas jika kelak bersanding dengan gadis galakku. Rani, sepertinya rindu ini tak bisa dipendam lebih lama. Aku sangat menginginkan hidup bersamamu.


* * * * *


Hari ini jadwal besuk Mamah. Kudengar dari bibi, kondisinya sekarang semakin membaik. Mamah, kekuatanku terbesar saat ini adalah engkau. Bisakah untuk sejenak saja kau memanggil namaku? Mengingat dalam memori yang telah rusak? Mengingat dengan benar bahwa aku ini putramu.


Tesss...


Aku, setelah sekian lama menjalani jungkir balik kehidupan. Baru sekali ini benar menangis, air mata tak mampu lagi terbendung. Melihat perempuanku itu, memainkan sendiri boneka di tangannya.


"Devan, anak mamah yang ganteng. Pinter juga soleh. Nanti jalana-jalan yah sama Mamah. Emmm kita beli eskrim." Ujarnya menunjuk-nunjuk muka boneka dalam dekapan.


Rambut nya di kepang dua. Dia gadis kecilku.


Aku mendekatinya. Membawa beberapa makanan juga mainan untuk Mamah.


"Pergi! Pergi Afif! Aku tak sudi melihatmu!" Mamah membentakku. Masih saja memanggilku dengan nama Ayah. Lalu kembali memainkan boneka di tangannya. Seolah bayi itu adalah aku.


Aku menangis. Mama kenapa masih seperti ini? Terisak sendiri di ambang pintu. Mamah, sembuhlah. Perpisahan yang menyisakan rasa sakit, begitu dalam hingga merusak akal juga pikiran.


"Devan," ucap Mamah lirih. Menghenyakkanku dari lamunan, ada semburat bahagia dalam dada. Mamah mengenaliku?


Mamah berjalan, menghampiriku di ambang pintu kemudian mengusap kedua pipiku lembut.


Tetapi tatapannya begitu kosong. Datar tanpa ekspresi.


Dia lalu menarik tanganku. Masuk kedalam kamar. Mengajakku duduk dengan tertawa cekikikan. Iyah, mamah masih belum sembuh benar.


Kemudian Mama kembali bermain dengan bonekanya. Aku tertegun, menatap kotak di tanganku. Cincin milik Rani yang ia tolak waktu aku memintanya menjadi istri.


Mamah masih menyimpannya? Bahkan dalam kondisi hilang akal mamah memberikannya padaku?


"Aku akan membawa menantu mamah kesini," ucapku mantap sambil memeluk erat Mamah.


Setahun lebih tak bertemu, apakah kau masih setia menunggu? Aku tersenyum membayangkan pertemuanku dengannya. Kan kutunjukkan, aku bisa berubah lebih dewasa.


* * * * *


Udara dingin kota Bandung membuatku betah berlama-lama bersembunyi di bawah selimut. Ditambah lagi hari ini toko libur. Toko online juga udah ada dua orang yang megang. Bagas bilang mau ngecek barang di pusat. Artinya aku bisa bersantai untuk sehari ini saja.


Bocah itu, selain otaknya encer dia juga gesit dalam mencari peluang. Aku hanya membantu memasarkan barang, menjadi endorse atau ikut mengatur keuangan toko. Dia sangat percaya padaku.


Rumah yang kutempati ini. Meski kecil tapi hasil keringat sendiri. Aku sangat bersyukur, tak terbayang jika masih di Surabaya. Mungkin untuk sekadar makanpun aku tak punya. Karena di sana tak memiliki saudara.


"Drrrrrtttttttt" gawaiku bergetar. Mungkin dari toko, pikirku.


"Drrrrrtttttt, drrrrrrtttt..." kembali bergetar dengan begitu intens bertubi-tubi.


Kulihat nomor tak dikenal. Mengirimkan beberapa foto. Belum terdownload. Karena malas membukanya.


Paling juga orang iseng. Ku lihat foto profilnya.


"*******!" Umpatku memaki. Pria di foto itu adalah ayahku.


Aku menscroll ke bawah. Melihat dia sedang mengetik.


[Lihat foto mempelai wanitanya.] Ada firasat buruk disana. Perasaanku mendadak tidak enak.


Semua foto kudownload sempurna.


Gadis itu, dia, Raniku?


Masih tidak percaya, kuperbesar foto di layar. Memastikan jika itu tidak benar. Berharap itu hanyalah sebuah foto yang di edit.


Sekeras apapun aku menyangkal. Foto itu, memang benar dia Raniku.

__ADS_1


Kembali kuterima video yang menunjukkan prosesi akad nikah.


"Bruaaakkkk!!!" Gawai kubanting sempurna membentur dinding.


Aku mengusap muka kasar. Pikiranku kacau, hati kembali terasa sakit.


Aku patah!


Harapanku kandas sempurna. Dia telah menikah.


Bahkan sebelum kami sempat bertemu dan aku kembali melamarnya. Kenapa kau tidak bisa sedikit saja menunggu?


Aku tergugu. Tangisku pecah. Meringkuk dalam kamar. Sendirian. Dengan hati yang terbakar.


Mama, tak perlu kau pinjamkan hati agar aku bisa merasakan dukamu. Karena sekarang aku pun merasakan duka yang sama.


Pengharapan lebih kepada manusia hanya akan memberikan rasa sakit.


Kepalaku pening. Semua seolah berputar. Lalu gelap. Dan semakin pekat. Aku sepertinya akan pingsan.


* * * * *


Pandanganku nyalang, sebotol minuman yang kuteguk tak mampu membuatku hilang kesadaran. Berkali bagas menarik tangan agar aku pergi dari tempat ini. Tapi aku tak peduli, biarlah kutuntaskan rasa sakit hatiku ini.


Suara musik yang berdentum, meledak-ledak memekakkan telinga. Aku mengikuti dentuman irama yang memberiku semangat lebih.


Loncatan, teriakan, semua bergemuruh jadi satu. Keringat basah membanjiri seluruh tubuh. Aku menikmatinya. Bersama kekecewaan hati yang perih tak terkira.


"Sudah di siapkan." Perempuan muda. Dengan pakaian yang tak kalah erotis. Menari-nari bersamaku, menyelipkan sebuah kunci dalam genggaman.


Aku tersenyum, mengedipkan sebelah mataku padanya.


Aku bergegas pergi. Menuju ruangan yang sesuai dengan kunci dalam genggaman.


"Ayolah, bukankah ini malam pertamamu," aku membuka pintu. Bayangan Rani selalu berkelebat dalam benak. Dia, bahkan bayangannya saja, mencoba untuk menahanku. Agar tak terjerumus semakin jauh.


"Klek," pintu terbuka. Langkah kakiku setengah terhuyung, mungkin pengaruh minuman yang kuteguk tadi.


Di bibir ranjang terduduk seorang gadis. Ia menyilangkan kakinya. Pakaian sexy transparan yang dikenakan, membuat desir dalam darahku membuncah.


Gadis itu berjalan mendekati. Menangkap tubuhku dalam pelukannya. Harum wangi tubuhnya menyeruak, memberiku sedikit rasa nyaman.


Kupandangi parasnya. Sial! Kenapa justeru wajah Rani yang terbayang. Aku mendorongnya kuat ke atas ranjang.


"Kau menikmati malam pertamamu bukan? Baiklah mari kita selesaikan." Aku bicara pada gadis di depanku, dia mengernyitkan dahi. Berfikir mungkin aku sudah gila.


"Iyah, gila karenamu Rani!" Aku mebentak kasar.


"Pergilah!" Aku kembali membentak gadis itu. Dia yang kusewa, bahkan belum sempat menjalankan tugasnya.


"Pergilah cepat!"


Gadis itu tak bersuara. Ia masih kebingungan. Kulihat ia kembali memakai jaket menutup tubuhnya. Dia bahkan sebelum pergi menatap lekat ke arahku."terima kasih, tuan," ucapnya berlalu pergi meninggalkan kamar.


Aku tergugu di sini. Kembali menikmati rasa sakit yang teramat dalam. Biarlah malam ini aku tidur disini. Memeluk bayangan Rani dalam mimpiku.


* * * * *


Berkali kumelihat gawai. Memandangi foto Raniku yang memakai gaun putih bersama lelaki di sampingnya. Mas Rahman, saudara tiriku. Anak dari perempuan yang telah menghancurkan kehidupan mamahku. Duhai, kenapa dunia terasa begitu sempit.


Kupandangi paras Rani dalam layar. Dia masih terlihat cantik, bahkan semakin cantik dengan make up sederhana di mukanya. Tapi, tak tampak gurat bahagia terpancar. Bahkan senyumpun seolah di paksakan.


Rani... bisa kah kau tahu, aku masih menginginkanmu.


"Kenapa Van?" Bagas menyenggol kasar lenganku. Dia seperti bisa membaca kondisiku yang benar berantakan.


"Kamu mah yah, kalo ada apa-apa cerita ke aku. Mereun bisa bantu." Ucapnya sambil menepuk punggungku.


"Ok," sahutku singkat. Aku sedang tidak berselera bicara.


Satu bulan mencoba membenahi hati. Berkali Ayah kembali menghubungi, berbasa-basi agar aku mau tinggal di rumahnya barang sebentar saja.


Entah apa maksudnya, bukankah Ayah juga tahu jika Rani adalah gadis yang kupilih dulu.


Aku pernah beberapa hari tinggal di rumah Ayah, sebelum mendaratkan kaki ke kota Bandung. Mengamati perempuan yang sekarang menjadi isterinya. Dulu sempat ingin kuracun, tapi sedikit kesadaranku mengatakan bahwa itu tidak benar.


Mereka bahagia di atas luka mamah yang menganga. Dan kini anaknya berbahagia, di atas luka yang tergores dalam dada.


Baiklah, akhir pekan ini aku akan datang.

__ADS_1


__ADS_2