Kepingan Hati

Kepingan Hati
Booking?


__ADS_3

Dia sangat keras kepala sekali. Memaksa dalam segala hal, sudah kubilang aku nggak mau! Dia masih saja maksa! Dasar keras kepala! Nayla mendengkus kesal dalam hati.


Atau jangan-jangan dia kesini mau nyita rumah Bapak? Iyah, pasti dia ada hubungannya sama Pak Heru, rentenir yang kaya raya itu. Bukankah mereka ada kesamaan, orang kaya mah bebas.


Nayla menggeleng-gelengkan kepala sendiri. Teringat lelaki yang sebulan lalu juga datang kerumahnya, persis seperti Devan. Nyelonong masuk hendak menyita rumah.


"Hey! Kamu mikirin apa, Nayla?" Devan menatap tajam. Ia menangkap jika Nayla berfikir yang tidak-tidak.


"Mas Devan ngapain sih kesini? Jangan-jangan ada hubungan sama Pak Heru itu yah?" tebak Nayla. Ia lalu memilin ujung kerudungnya sendiri. Takut mendengar kenyataan pahit yang sesungguhnya.


"Pak Heru?" Devan mengernyit.


"Iyah, Pak Heru. Rentenir tak punya hati itu, pasti Mas Devan kenal, iyah, pasti mau nyita rumah Nay juga kan?" Nayla mengangguk-anggukan kepala. Ia yakin tebakannya tidak salah.


Lelaki di depannya itu tersenyum. Ia kembali mendapat ide cemerlang. Selalu saja ia ingin menggoda, setiap melihat Nayla panik juga tegang.


"Iyah mau nyita rumah, sekalian sama orangnya!" Devan berseru seraya menaik turunkan alisnya. Ia lalu merubah posisi duduk menjadi bersila, menekuk satu tangan di atas lutut untuk menopang dagunya.


Nayla berkacak pinggang. Ia yang sedari tadi berdiri di tembok rumah, tanpa sedikitpun berani mendekat Devan, menjadi sedikit tersulut emosi.


"Sampai kapanpun rumah ini nggak akan aku lepasin, biar Mas Devan mau bayar mahal sekalipun! Mau di sita juga gak boleh! Pokoknya gak boleh!" Nayla mencak-mencak. Ia teringat pesan almarhum Bapak. Rumah ini tak boleh sampai terjual. Meski hutang mereka menggunung.


Devan terkekeh geli melihat tingkah konyol Nayla. Ia sudah sangat gemas sekali dengan gadis itu. Harus bagaimana lagi cara menyampaikan padanya. Ia benar-benar ingin menikahi gadis itu. Sayangnya, Nayla selalu saja berkelit.


Devan sengaja memilih diam. Ia menikmati sekali segala kekonyolan yang ada di depannya. Nayla meracau yang tidak-tidak. Rentenir? Sita rumah? Hutang? Pak Heru? Astaga, ada yah gadis se aneh Nayla, untuk sekedar memahami permintaannku saja harus bersusah payah begini? batin Devan kesal.


Dia masih dengan santainya duduk di atas tikar. Memandang lurus kepada Nayla. Kadang terlihat sesekali ia tersenyum, membuat gadis itu semakin salah tingkah. Dan ingin menggaruk apa saja yang ada.


Dilihatnya Nayla yang menggaruk tangan sendiri, kemudian menggaruk lengan sendiri, bahkan dia pun menggaruk kaki kanan dengan kaki kirinya. Terlihat ia sangat kalut. Astaga, Devan gemas sekali!


"Kamu ngapain sih? Garuk-garuk terus, sini mau digarukin?"


Devan seketika berdiri. Melangkahkan kaki di atas tanah yang tak berubin. Menghampiri gadis itu yang semakin kalut, mencoba menetralkan hatinya yang semakin berdegub kencang. "Please, mengertilah. Jangan buat ini semakin sulit," lirih Devan bersuara.


💕💕💕💕💕


Langit malam tampak gelap. Mendung sejak sore tadi membuat rembulan dan bintang-bintang enggan memancarkan pantulan sinarnya. Udara yang dingin terasa semakin dingin.


Di teras rumah, dua lelaki yang tak memiliki hubungan darah tengah melebur dalam kehangatan ikatan keluarga. Mereka berbincang bersama.

__ADS_1


"Mas Rahman sekarang tinggal dimana?" Tanya Devan penasaran.


Lelaki di sampingnya itu meraih cangkir kopi, menyesap sedikit isinya, kemudian meletakkan kembali.


"Kami ngontrak, Van," jawab Rahman.


"Kenapa nggak tinggal bareng seperti dulu?" Devan menatap lekat ke arah saudara tirinya itu. Tampak kharismanya masih tetap sama, tak tergerus waktu yang ada.


"Enggak, biar bisa mandiri aja," sahutnya sambil menyesap kopi kembali.


"Hubungan kita, aneh yah," ujar Rahman sambil menatap jauh keluar, menerawang.


Devan tersenyum, sudah sejak lama ia berfikiran begitu. Dan hubungan aneh itu, telah membuatnya banyak di rugikan. Hanya saja, ia mencoba menikmati setiap alur yang ada.


"Maaf yah, andai mas tahu kamu sama Rani..." ucapan Rahman menggantung. Ia seperti enggan hendak melanjutkan kalimatnya.


Nafas Devan seolah tercekat. Apa tadi dia tidak salah dengar? Mas Rahman menyebut namaku bersama Rani? Batin Devan.


"Mas seperti melakukan kesalahan yang sama, merebut milik orang lain," lirih Rahman getir. Ia selalu menghakimi diri sendiri.


"Mas, sudahlah." Devan menatap lekat saudaranya itu. Lewat pandangan ia menunjukkan, bahwa itu sudah tidak penting lagi untuk di bahas.


💕💕💕💕💕


Cinta, bocah berusia tiga tahun, buah hati Rani dan Rahman, menjadi penghibur dikala suntuk mendera.


"Mas Rahman sama isterinya kemana, Mah?" Tanya Devan ketika pulang kerja. Ia lalu mencium punggung mamahnya dengan takzim. Kemudian mengecup lembut pipi cinta yang terduduk di pangkuan.


"Lagi beli pampers ke mini market di depan," jawab mamah Devan.


"Dia, lucu yah? Gemes," ujar Devan sambil kembali memainkan pipi bayi yang gembul itu.


"Van," panggil mamahnya dengan lembut.


"Iyah, Mah? Kenapa?" Devan mengempaskan punggungnya di sandaran sofa. Hari ini ia lelah sekali, banyak expor barang yang tertunda.


"Sebenernya, kamu sama Nayla beneran serius nggak sih?" Pertanyaan mamahnya membuat Devan seketika menatap serius.


"Kan Mamah udah tau, Devan serius mau nikahin Nay, yah meski awalnya cuman pura-pura aja," jawab Devan sambil nyengir. Pembahasan tentang sandiwara itu akhirnya ia tunaikan. Dan Mamah Devan tak menyoalkan terkait itu. Ia tak pernah ingin memberatkan hati putra semata wayangnya. Yang sudah terlalu banyak menelan pil pahit atas dirinya selama ini.

__ADS_1


"Bukan karena Rani kesini?" Tebak mamah Devan.


"Bukan!"


"Bukan untuk sekedar mempermainkan perasaannya saja kan?"


"Bukanlah, Mah, Devan nggak seperti itu," jawab Devan kembali


"Bukan sekedar pelarian? Atau sekedar rasa kasihan?" Pertanyaan mamah Devan menyentil sedikit hatinya. Ia bahkan tak berfikir tentang itu.


Diam. Pemuda itu tak lagi menjawab. Mamah Devan menghembus nafas pelan, hatinya seperti sedang di cubit, sakit.


💕💕💕💕💕


Menimbang gawai berkali-kali. Mengamati benda pipih itu di depannya. Dia tidak bisa tidur, berkali terpejam tetap saja. Pertanyaan mamahnya terus terngiang di telinga.


[Nay] Devan mengirim pesan. Berharap gadis itu segera membalasnya. Meski ia tidak yakin, karena sudah lewat tengah malam.


[Iyah, Mas] tak lama balasan datang. Seketika Devan tersenyum. Baru saja ia hendak memejamkan mata.


[Belum tidur?]


[Belum]


[Nikah yuk, emot hati ]


[Enggak]


[Aku serius, udahlah, berapa kali sih kamu ngelak] balas Devan gemas.


[Mas mengertilah, emot sedih menundukkan kepala ]


[Kenapa? Emot patah hati ]


[Aku mangkal, emot menjulurkan lidah ]


Astaga, dia masih saja membohongiku.


[Aku booking! Sekarang! Selamanya!]

__ADS_1


💕💕💕💕💕


__ADS_2