Kepingan Hati

Kepingan Hati
Rehabilitasi?


__ADS_3

Pov Devan


Langit menggelap. Tampak awan hitam mulai bergumul. Hujan sepertinya sebentar lagi akan turun. Kulihat dari ruang kerjaku, tampak Bagas sedang mondar-mandir sambil melihat rekapan data yang ku salinkan untuknya.


"Kamu yakin, Van? gak salah laporannya ini?" tanyanya dengan melipat jemari di atas dagu.


"Enggak, itu udah bener. Laporan akhir bulan ini, gila gak tuh?" jawabku santai.


Kulihat kedua matanya fokus mengecek berulang lembar demi lembar laporan.


"Sumpah, ini gila banget! fantastis, Bro!" pekiknya sambil menggelengkan kepala. Mengagumi pencapaian luar biasanya.


Produk kami akhirnya menembus pasar internasional. Bukan hanya satu dua negara. Tapi, jalinan kerjasama telah merambah hingga puluhan Negara tetangga.


"Bisnis receh, kan? receh," ujarku senyum-senyum.


Keadaan ini membuatku teringat akan kenangan masa lalu. Saat kami menjalani bisnis jualan online ini, yang dinilai receh karena bermodal dari recehan. Ya Allah, engkau maha baik.


***


Benar saja, sebelum aku dan Bagas meninggalkan kantor. Hujan deras mengguyur dari atas langit. Disusul petir yang menggelegar. Membuat kami --Aku, Bagas dan karyawan toko-- harus tertahan di tempat ini untuk beberapa saat.


Kulihat Bayu, karyawan toko sedang membuatkan kopi dan menyiapkan beberapa camilan untuk kami nikmati.

__ADS_1


"Udah, jangan repot-repot gini, Yu," ujar Bagas.


"Nggak papa, Pak. Mumpung Bapak berdua masih di sini. Jarang-jarang bisa kumpul bareng," sahut Bayu sambil meletakkan cangkir-cangkir berisi kopi dan juga piring camilan.


Karyawanku yang satu ini memang paling rajin. Dia selalu saja berbuat baik dan loyalitasnya tinggi dalam bekerja.


"Kamu, duduklah sini sebentar," titahku pada Bayu.


"Saya masih ada kerjaan, Pak." Bayu beringsut meninggalkan ruangan. Setelah sebelumnya meminta maaf dengan menangkupkan kedua tangan di dada.


Kini di dalam kantorku hanya ada Aku dan Bagas. Dia memilih merebahkan punggungnya di sofa panjang dekat pintu. Sedangkan aku, menikmati kopi dan cemilan yang tadi Bayu bawakan.


"Kamu, masih suka hubungan sama Eryn?" tanya Bagas tiba-tiba. Nyaris saja aku tersedak karena mendengarnya.


Bagas memiringkan posisi tidurnya. Ia menatap tajam ke arahku. Mendadak aku diserang perasaan tak nyaman. Dia, apakah masih mengira aku dan Eryn ada hubungan bersama?


"Syukurlah," jawab Bagas sambil tersenyum.


Hey, bocah ini kenapa tiba-tiba aneh begini?!


"Dia, ada masalah hukum." Bagas kembali merebahkan punggung dengan posisi telentang. Pandangannya menerawang ke atas langit-langit kantorku.


"Masalah hukum? Kamu ngomongin apa sih, Gas? udahlah nggak usah mikirin gadis agak-agak itu, hahahaha." Aku mengalihkan pembicaraan. Sebenarnya malas juga jika harus kembali membahas Eryn. Sudah muak rasanya berurusan dengan gadis tak waras itu. Tapi, sepertinya Bagas masih menyimpan rasa untuknya. Entahlah, biarkan saja.

__ADS_1


"Dia ada konsumsi obat, Van. Itulah kenapa aku pingin banget nyelametin dia. Tapi, dia mah ...." Kalimat Bagas menggantung.


"Jadi, Eryn pecandu gitu?" tanyaku lagi. Penasaran kelanjutan kalimatnya tadi.


"Bukan, sebenarnya dia lari ke obat karena kamu," ujarnya sambil menoleh padaku.


Degh, jantungku terasa berhenti berdetak.


'Dia, konsumsi obat karena aku?'


'Karena apa?'


'Depresi kutolak?'


Aku menebak dalam hati. Benarkah apa yang Bagas katakan ini. Dia juga tidak bercanda. Tak ada tawa berderai seperti saat kami berbincang bersama. Bagas serius.


"Dia depresi karena kamu tolak berkali-kali. Kamu tau, sejak kamu menikah dia konsumsi obat-obatan itu?" Bagas menjelaskan padaku.


Aku menyimak. Tak berselera lagi dengan sajian yang tertata rapi di atas piring.


"Dia sudah berusaha buat lupain kamu, Van. Tapi, ternyata dia memang nggak bisa. Lari dah tuh ke obat-obatan. Dia lebih tersiksa lagi saat tau kamu punya anak."


Aku menelan saliva sendiri. Aku, hanya seorang manusia, yang tak perlu di harapkan lebih. Kenapa juga bisa membuat seorang gadis hingga tak waras begitu.

__ADS_1


"Dia sekarang direhabilitasi."


__ADS_2