
Pov Devan
Aku terpekur menatap sajadah. Rasanya, gejolak di dalam hati semakin menggema. Kenapa, untuk urusan hati saja terasa rumit begini.
Di satu sisi ada Nayla, gadis yang telah membantuku untuk sembuh dari luka. Gadis yang mampu membuat hatiku kembali berdebar setiap kali memandangnya. Gadis yang membuatku menggila, bahkan membuatku sangat nekat kepadanya.
Tapi, dia gadis penghibur. Jelas dia bukan gadis baik-baik. Bahkan terang-terangan mengakui bahwa ia menderita penyakit kelamin menular. Aku tak ingin masa depanku hancur. Juga tak ingin, anak-anakku lahir dari rahim perempuan penghibur. Dia, juga tak jelas asal-usulnya. Bibit bebet dan bobotnya tak berkualitas.
Di sisi lain ada Aisyah. Gadis yang biasa bertemu di tempat kajian. Dia selalu menjaga pandangan. Itulah kenapa kami tak pernah saling menatap lama. Dia gadis manis lagi sholehah. Berlesung pipi seperti gadisku yang dulu, Raniku. Aku tak pernah berfikir bahwa dia memilihku. Karena bagiku, gadis itu ilmunya terlalu tinggi di atasku. Ia dikenal aktiv mengisi kajian ibu-ibu. Rasanya seperti mimpi, saat Ayahnya sendiri yang menawariku.
Dia Anak ustadz terpandang. Pastilah didikan orang tuanya sangat baik dalam hal agama. Dia juga gadis terpelajar. Tentu membawa kebanggaan tersendiri saat kelak bersanding dengannya nanti.
Sekali lagi aku bersujud. Merendahkan diriku serendah-rendahnya di hadapan Allah.
Bukankah penglihatan manusia itu terbatas. Dia lebih tahu akan hambanya. Bisa jadi apa yang menurutku baik ternyata tidak. Sedangkan yang kulihat tidak baik, ternyata Allah menghendakinya.
Aku, sungguh sangat lemah. Masa depanku hanya ada pada genggamanNya. Dia lebih tau masalah hati. Biarkan Ia memberi petunjuk. Langkah apa yang harus kupilih nanti.
💕💕💕💕💕
"Mah," panggilku saat kami berada di ruang keluarga. Menonton televisi bersama. Rumah sebesar ini rasanya sunyi jika hanya kami berdua yang menempati.
"Iyah, kenapa?" Tanyanya sambil memandang lekat ke arahku. Aku, sungguh tidak sanggup jika harus membuka kedok sandiwaraku bersama Nayla selama ini di depannya.
"Nggak papa," ucapku akhirnya.
"Kenapa ihh, sok aja ngomong, ada apa?" Tanyanya lagi. Dia seperti melihat kegelisahanku.
Aku mendekati mamah. Menidurkan kepala di atas pangkuannya. Aku tak ingin perempuan tuaku ini terluka.
"Mas Rahman jadi kesini?" Tanyaku. Padahal bukan itu yang ingin ku sampaikan.
"Inshaa Allah, Jumat depan berangkat dari Surabaya," ujar mamah.
"Kenapa? Rani lagi?" tebak mamah kemudian.
"Enggak," sangkalku.
💕💕💕💕💕
Nasehat Ustadz Azzam masih terngiang. Dalam keadaan apapun, selalu libatkan Allah. Termasuk dalam mengambil keputusan. Apalagi keputusan besar terkait memilih jodoh.
Itulah kenapa sudah tiga hari ini aku rutin beristikharah. Meminta petunjuk langsung dari Nya. Tapi, sampai detik ini pun aku belum mendapat jawabanNya.
Aku sudah tak menghubungi Nayla, juga tak memandangi foto Aisyah. Aku ingin fokus mendengar jawaban dariNya. Tanpa melibatkan hati, karena aku yakin, JawabanNya tak pernah salah.
💕💕💕💕💕
Langit cerah berwarna biru. Berhias awan yang di arak angin, hingga tampak bergerak layaknya domba sekawanan.
__ADS_1
Aku terbangun. Merentangkan kedua tangan ke samping kiri dan kanan. Punggungku terasa sakit, karena telah lama terlentang di atas hamparan rumput yang menghijau.
Dari tempat kumemandang, gunung-gunung tampak tinggi menjulang. Indah memang pemandangan di tempat ini. Maha besar Allah dengan segala ciptaanNya.
Tenggorokanku kering. Rasa haus terasa sangat mendera. Ku amati sekeliling, ada sebuah sumber air yang mengalir tak jauh dari tempatku duduk saat ini.
Aku berdiri, berjalan melangkahkan kaki. Aku memicingkan mata, saat mendapati di sana ada seorang gadis yang sedang duduk termenung di atas bebatuan hitam dekat mata air. Berkerudung warna hijau lumut dengan gamis yang senada.
Ia tersenyum, memberiku sebuah bejana yang telah berisi air. Tepat sekali saat aku sedang haus seperti ini. Kedua bola matanya berbinar, tampak begitu jernih dengan wajah putihnya yang bersih.
Aku menerima pemberiannya. Ia kemudian berdiri beranjak pergi. Sesaat sebelumnya, ia memandang lekat ke arahku. Saat itu, seolah ada perasaan damai yang tertanam. Dia lalu berlari dari hadapanku, dengan senyum yang masih tertinggal dalam bayangan.
"Allahu Akbar ... Allahu Akbar." Terdengar suara takbir berkumandang. Lamat-lamat suara itu semakin dekat. Kakiku bergetar, pandanganku kabur, mendadak semua menjadi gelap.
"Allahu Akbar ... Allahu Akbar!"
Aku membuka mata perlahan. Memijit kening sendiri. Pusing sekali rasanya. Kulihat jam di dinding kamar. Sudah pukul empat pagi. Adzan juga sudah nyaris selesai berkumandang.
Mataku terbelalak. Jawaban itu sudah kutemukan! Gadis yang memberiku bejana tadi, dia...
💕💕💕💕💕
Aku berjalan tegap. Melangkahkan kaki dengan mantap. Menemui Ustadz Azzam di rumah. Hari Minggu waktunya silaturahmi, sekaligus membahas soal perjodohan kemarin. Tiga hari waktu yang di berikan. Dan kedatanganku hari ini, untuk memberinya jawaban.
💕💕💕💕💕
Kenapa, ada orang picik sepertimu. Takut akan kebahagiaan sendiri. Ck, dasar!
Tiga hari tak bertemu. Rasanya seperti ada perasaan yang entahlah. Dia, tampak kusut dan berantakan. Kembali ada perasaan sakit yang mendera, perih juga sedih. Nayla, andai bisa ku hapus duka yang ada.
Sejujurnya, mengantar undangan padanya membuatku harus berfikir keras berkali-kali. Maukah dia datang? atau bagaimana cara yang baik bicara padanya? tanpa harus menyakiti perasaan. Juga tak ingin berakhir dengan salah faham.
Aku menarik nafas panjang, menghembuskannya cepat kemudian. Dia masih belum menyadari bahwa aku berdiri di dekat gerobaknya.
"Teh, mau batagor yah, makan sini," ucapku.
Dia terhenyak. Kedua matanya membulat. Mungkin terkejut, melihat kehadiranku di sini saat ini.
Kulihat ia semakin salah tingkah. Bahkan ia menutup muka dengan kedua telapak tangannya. Lha, kirain aku hantu apa? eh tapi, mungkinkah dia juga terpesona akan ketampananku ini. Astaga!
💕💕💕💕💕
"Diam di situ, jangan kemana-mana," titahku.
"Kalo ada yang beli, eh, ini juga kan mau tutup, Mas," timpalnya.
"Ssstt, udah diem aja. Kamu hitung yah berapa kali suapan batagor yang udah ku makan, ngerti?" paparku lagi.
Ia mengernyit, bingung melihat tingkahku. Tapi biarlah, aku suka melihat ekspresinya itu. Ingin sekali ku berkata, Nay, aku rindu.
__ADS_1
Aku menikmati situasi ini. Dia gadis yang sederhana. Terenyuh rasanya, saat sedikit banyak mengetahui seluk beluknya. Tentu dari pihak ketiga, yang tak lain adalah tetangganya sendiri. Kenapa kau selalu membohongiku, Nay?
Kami sama-sama terdiam. Aku menikmati batagor buatannya yang sudah dingin. Sedingin hatinya yang mencoba menolak perasaan sendiri.
Aku telah terlambat, kenapa tidak sejak awal aku meminta petunjukNya. Justeru terjebak dalam situasi seperti ini. Saat ada pihak ketiga, yang memaksaku mencari jawabannya.
"Udah berapa?" tanyaku mencoba mengecek konsentrasinya.
"Apa?" tanyanya. Ish, dia ternyata tidak menghitung.
"Iyah, udah berapa suapan tadi?"
Ia tampak sedang berfikir.
"Tujuh," jawabnya ragu. Sudah kubilang, dia tidak fokus memperhatikan suapan.
"Kamu ngitungin suapan, atau sibuk ngagumin aku, sih? godaku.
Kulihat kedua pipinya bersemu merah. Ia malu tertangkap basah. Ternyata, pesonaku mampu menarik perhatiannya. Aku terkekeh geli dalam hati.
"Udah ah, mau tutup dulu," ucapnya sambil berdiri. Aku meraih pergelangan tangannya, menahan agar ia tak tergesa. Juga menahan debaran dalam hati yang harus bisa ku kendalikan sendiri. Gugup, tapi aku harus menyampaikannya.
"Jangan lupa datang yah," ucapku sambil meletakkan selembar kertas undangan pernikahan di atas meja. Ia melirik sekilas kemudian memandang ragu ke arahku.
"Mas Devan mau nikah?" tanyanya dengan kedua mata yang berkaca-kaca. Please, jangan salah faham dulu.
Aku mencoba tersenyum dan ia membalasnya. Meski, dengan senyum yang terlihat dipaksakan.
"Kamu harus datang," ucapku sambil berdiri. Kemudian berjalan mendekat kepadanya. Aku berdiri tepat di depan gadis itu, "karena pernikahan itu nggak akan pernah terjadi, kalau kamu nggak datang, calon isteriku Nayla Lisana Sidqin," bisikku lembut kemudian.
Ia tercengang, kedua matanya tampak membulat. Seakan terhipnotis dengan kalimatku, dia bahkan tak berkedip.
Aku menyelipkan beberapa lrmbar uang berwarna merah ke genggaman tangannya. Sudah kubilang, batagornya kuborong.
Dia masih terpaku, kedua alisnya mengernyit pertanda sedang mencerna kalimatku. Aku suka sekali melihat ekspresinya. Dan tanpa menunggu lama, aku berjalan tergesa menuju mobil di depan gang. Kemudian menyelipkan earphone di kedua telinga. Berpura tak mendengar saat gadis itu berteriak memanggil.
"Mas, Mas Devan, tunggu!" serunya sambil mengejar. Aku tak peduli, ku ayunkan langkah kaki sambil menyenandungkan lagu yang kudengar.
You're the fear, I don't care
'Cause I've never been so high
Follow me through the dark
Let me take you past our satellites
You can see the world you brought to life, to life
💕💕💕💕💕
__ADS_1