
Betapa kehidupan dunia nyata, itu terkadang dirasa cukup kejam bagi sebagian orang, bahkan lebih kejam lagi yang di sebut dengan dunia maya jika tidak berhati-hati dalam memakainya. Sosial media bisa di ibaratkan sebuah pisau yang memiliki dua mata sisi yang berbeda. Salah-salah, justeru bisa melukai diri sendiri. Tapi, jika pandai menggunakannya, tak jarang ada yang mendapatkan peluang dan kesempatan lebih. Lihatlah, betapa dunia semakin maju dan berkembang, dalam benda kecil berbentuk pipih seperti ini saja, kita bisa melihat dan berteman dari berbagai belahan dunia yang awalnya tidak saling kenal.
Bagi mereka yang sudah memiliki candu dengannya, akan sangat sulit untuk membagi waktu, sulit untuk memisahkan antara kehidupan dunia nyata atau kehidupan dunia maya. Tergerus dalam kesibukan yang tidak ada habisnya dan juga sia-sia.
Sama seperti gadis yang biasa dipanggil Ryn ini. Dia sedang asyik berjam-jam berkutat dengan gawai pribadinya.
Dengan satu sentuhan saja, dan dalam hitungan detik, dia telah berhasil membuat dirinya dan harga dirinya tercemar begitu saja. Ia dengan sengaja mengupload foto juga video tak senonohnya ke aplikasi berwarna biru miliknya.
"Aku sudah bilang bukan? Aku tidak pernah main-main!" Teriaknya lantang di dalam kantor Devan. Pemuda itu terbelalak tak menyangka, jika Eryn benar-benar melakukan ancamannya.
"Bruaaaakkkkkk!" Devan membanting gawai dengan kasar.
Dalam sekejap saja, ia telah kehilangan nama baiknya juga usaha yang telah dibangunnya selama ini. Kantor pribadi miliknya yang cukup lega, membuat ia sangat panas dan ingin meledak-ledak saja.
Dilihatnya Bagas juga beberapa karyawan toko. Mereka memandang Devan dengan tatapan penuh ketidakpercayaan. Pastilah mereka sudah melihat dari sosial media masing-masing. Devan lupa, bahwa kebanyakan orang hanya menilai dari apa yang ia lihat. Tanpa terlebih dahulu meminta penjelasan darinya.
Ditariknya tangan Eryn dari dalam kantor menuju mobil fortuner putih miliknya.
"Sorry!" ucap Devan pada Bagas sebelum ia bergegas pergi. Bisa ia lihat dengan jelas, kedua mata sepupu sekaligus rekan kerjanya itu menatap Devan dengan penuh kekecewaan. Hey, Bro! Please, jangan serampangan menilai!
Tidak hanya dikantor. Bahkan di rumah sendiri pun Devan dipandang dengan tatapan yang beragam. Oleh mamahnya, Rani juga mas Rahman. Ia sungguh tidak nyaman.
Ia juga sudah tampak sangat putus asa, kandas pula cinta dan harapannya pada Nayla. Gadis itu, justeru memilih kembali ke kampung halamannya. Meninggalkan Devan yang terpuruk sendirian.
Eryn benar-benar membuatnya kembali jatuh dibawah, bahkan dipandang rendah oleh siapapun. Devan tak lagi bisa berkutik. Semua menuntutnya untuk segera bertanggung jawab atas perbuatan yang dinilai tak senonoh itu. Perbuatan yang sama sekali tak di sadarinya karena saat itu ia sedang dalam pengaruh obat tidur.
Konsekuensi yang harus dijalani adalah menikah dengan Eryn. Meskipun nama baiknya sudah tercemar, setidaknya, dia sudah bertanggung jawab atas perbuatannya itu.
Jika kebanyakan pengantin berbahagia, maka tidak dengan Devan. Ia sungguh sangat tertekan.
Bukan!
Ini bukan pilihanku!
Tidak!
Tidaaaaaakkk! Devan menjerit. Dia sudah tampak seperti orang kesetanan. Geram juga kesal pada gadis yang bernama Eryn itu. Ingin sekali ia mencekik sampai sekarat.
"Van! Devan! Bangun, hey, istighfar! Van!" Beberapa kali panggilan dan tepukan membuatnya seketika terhentak. Kedua matanya terbelalak. Deru nafasnya seperti memburu, ia ngos-ngosan. Keringat sebesar biji jagung mengucur keras di kening juga lehernya.
"Ya Allah, Mas, Astaghfirullah!" lirih Devan berucap. Rahman kemudian mengambilkan segelas air minum. Tidak tahu sejak kapan Devan tidur di atas sofa, saat hendak ke masjid, dilihatnya adiknya itu meracau dan berteriak dalam mimpinya.
"Istighfar Van, kenapa? Mimpi buruk?" Tanya Rahman kemudian.
"Iyah, mimpi kawin sama kuntilanak!"
__ADS_1
💕💕💕💕💕
Rasa-rasanya, Devan ingin mandi dengan kembang tujuh rupa. Dia, sudah sangat shock sekali mengingat mimpi yang tadi pagi di alaminya.
Tadi malam, setelah ia pulang dari rumah Nayla, Devan tak langsung menuju kamar. Ia mengempaskan diri di atas sofa. Nayla masih saja bungkam tak ingin menjawab pertanyaannya meski sudah Devan takuti.
Pemuda itu tak sadar jika rasa kantuk mendera dengan hebat. Hingga membuat ia tertidur dan bermimpi menikah dengan gadis yang bernama Eryn.
Astaga! Semoga itu bukan pertanda buruk! pekik Devan dalam hati. Ia lalu menggelengkan kepala sendiri.
"Kamu kenapa Van?" tanya mamah Devan membuka suara. Sejak tadi ia melihat, sepertinya ada yang tidak beres dengan putranya itu.
Rani dan Rahman sontak menatap ke arah Devan. Di ruang makan yang cukup lega ini, dia menjadi bahan sorotan.
"Pasti mikirin mimpi tadi pagi yah?" Goda mas Rahman.
"Mimpi apa?" Sahut mamah Devan.
"Kawin sama kuntilanak! Hahahahaha!" Mas Rahman tertawa terpingkal. Ia sampai lupa menjaga sikapnya. Melihat muka adik tirinya itu seketika memerah karena malu.
Disusul ketawa Rani dan mamah Devan. Semakin merahlah wajah pemuda yang jarang terlihat malu itu.
💕💕💕💕💕
Rasa cinta dalam diri manusia itu fitrah. Karena memang Allah telah memberinya pada setiap diri manusia. Rasa yang menuntut pemenuhan, agar tidak menjadi resah dan gelisah.
Dekati Allah, maka Allah akan berikan segalanya. Jika tak kunjung diberi, mungkin selama ini cara yang ditempuh adalah salah.
💕💕💕💕💕
Mobil putih yang setia menemani kemanapun Devan pergi, berhenti tepat di depan pintu gerbang sebuah taman pemakaman.
Perlahan pemuda itu turun, lalu membukakan pintu di sisi satunya untuk Nayla.
Nayla mengernyit. Kenapa Mas Devan membawaku kesini? Batinnya.
"Kamu, masuklah terlebih dahulu. Nanti aku menyusul, emm, mau parkir mobil dulu," ujar Devan pelan.
Nayla kemudian mengangguk. Ia berjalan membuka pintu gerbang taman pemakaman. Kemudian melangkah ke dalam.
Sangat sepi sekali, karena memang ini masih jam delapan pagi. Di edarkannya pandangan ke sekeliling kawasan makam. Rasanya, sudah lama sekali ia tak mengunjungi tempat ini, tempat dimana kedua orang tuanya di makamkan. Tempat yang menjadi saksi, kala Nayla yang dulu harus menyaksikan penguburan Almarhum Bapaknya, tanpa ada satupun saudara yang menemani. Karena mereka hanya bertiga di perantauan.
Setelah mengucap salam, ia lalu duduk tepat di sebelah makam kedua orang tuanya. Hatinya mendadak rindu, mengingat Almarhum Bapak juga Almarhumah Ibunya.
Ia kemudian membacakan doa, juga mengingatkan diri sendiri, bahwa diapun kelak akan menyusul dikuburkan seperti ini.
__ADS_1
Perasaan penuh dosa membuatnya secara tidak sadar, meluruhkan air mata. Teringat kembali akan dosa-dosanya yang telah lalu. Bukankah sebaik-baik nasehat adalah kematian? Dengan mengingat kematian, seseorang menjadi sangat dekat kepada Rabbnya.
Saking larutnya ia dalam kesedihan, hingga tak melihat jika Devan sudah berdiri di sampingnya.
"Ehm!" Devan mendehem keras. Membuat Nayla harus mendongak menatap lurus ke arahnya.
Gadis itu terbelalak, kala melihat pemuda di depannya itu membawa sebuah bucket bunga mawar merah, dengan selembar kertas undangan di tangannya.
"Mas Devan mau ngapain?" Tanya Nayla.
"Mau ngelamar!" Seru Devan.
"Mas!" Nayla mendelik.
"Aku serius," jawab Devan sambil tersenyum.
Ia lalu mendekat. Duduk tepat di sebelah Nayla.
"Aku nggak pingin lagi main-main sama dosa Nay, aku mohon, menikahlah denganku," ucap Devan selembut mungkin. Ia harus berkali-kali menahan letupan di dalam dadanya.
Gadis di sampingnya itu seketika tersenyum. Pipi yang beberapa hari kemarin itu tak terlihat ronanya, kini merekah sudah, semerah tomat dikala senja.
"Kalau pilih bunga berarti setuju, kalau pilih undangan berarti juga setuju," ucap Devan. "Karena memang tidak ada pilihan yang lain," tambahnya lagi.
Nayla memilin ujung kerudungnya sendiri. Sambil mengulum senyum di bibir, ia merunduk semakin malu.
"Maaf jika ini salah, seberapa keraspun aku sudah berusaha, tapi kamu selalu ngehindar, membuatku semakin berdosa Nayla. Karena, kamu selalu mendominasi di dalam pikiranku ini," ucap Devan lagi.
Gadis itu mendongak. Memandang lekat ke arah Devan yang begitu terlihat serius dalam ucapan. Jantungnya berdegub sangat kencang, ia bahkan sulit mengendalikan hatinya sendiri. Nayla kemudian kembali merunduk. Mencoba menahan kedua matanya yang sudah mulai berkaca-kaca.
"Mau yah?" Tanya Devan lagi. Dilihatnya kepala gadis di depannya itu perlahan naik turun, mengangguk.
"Iyah, Mas," lirih Nayla bersuara.
"Eh, apa?" Devan kembali mengulang pertanyaan. Memastikan bahwa ia tidak salah dengar.
Nayla masih merunduk, ia lalu berucap dengan jelas, "iyah, mau, Mas Devan."
"Yeeeeeeeeyyyy!!" teriak Devan keras. Nyaris saja ia melompat-lompat kegirangan. Tapi kemudian tertahan karena sadar bahwa ini di pemakaman. Dia juga nyaris saja memeluk gadis di depannya itu, beruntung tingkah konyolnya tak terlaksana karena ia sadar belum halal baginya.
"Sekali lagi dong bilang," ujar Devan menggoda.
"Ihh, Mas Devan Mah!" Nayla menutup muka yang semakin tampak memerah.
"Makasih yah, calon isteriku," ucap Devan pelan.
__ADS_1
"Jadi, sudah siap buat ngisi undangan?" Tanyanya lagi.
💕💕💕💕💕