
Hati perempuan terkadang selalu berubah-ubah. Sangat sulit untuk di tebak. Kadang bisa tiba-tiba bahagia, tapi tak jarang dalam sekejap saja bisa-bisa berubah mendung. Memahami siklus emosi yang tak selalu bisa di prediksi, membuat Devan harus mengambil langkah cepat untuk melangsungkan yang disebut dengan akad nikah.
Terlebih jika harus menghadapi gadis yang cukup menggemaskan seperti Nayla. Bisa saja kemarin ia berkata iyah atas lamarannya, lalu besoknya kembali berubah berkata tidak.
"Lusa yah? mau?" tanya Devan memastikan.
"Tapi, Mas, apa nggak terlalu cepat," tolak Nayla halus.
"Kita akad nikah saja dulu, resepsinya bisa nanti yah?"
"Tapi." Nayla ingin sekali mengutarakan sesuatu, tapi dia bingung cara menyampaikannya.
"Udah, nggak pake protes. Kamu siapin aja berkas buat nanti aku bawa ke KUA," ujar Devan. "Aku pamit dulu yah, hati-hati dirumah," tambahnya lagi sambil menggaruk kepala sendiri yang tidak gatal.
Mendadak saja Devan merasa menjadi sangat lebay begini.
💕💕💕💕💕
Bulan sabit menggantung bersama gelapnya langit malam. Temaram sinarnya, menemani dua insan yang tengah merindu dalam penantian waktu.
Nayla masih memperlama gerakan sujudnya, rasa-rasanya, ia masih tak menyangka dengan begitu banyak kejutan, yang Allah hadirkan dalam hidupnya. Harapannya hanya satu, agar hari-hari menjelang pernikahannya tak lagi ada kendala. Ia benar-benar mencoba untuk percaya pada lelaki yang kelak menjadi suaminya.
Di sudut yang lain, di tempat berbeda. Pemuda yang telah mengalami begitu banyak fase perubahan diri, merasa ada gejolak tersendiri saat ini.
Di balkon kamar miliknya, ia mengamati benda kecil yang berkilau karena pantulan sinar lampu kamar. Benda yang menyimpan begitu banyak kenangan, tentang ia dan harapan yang pernah kandas sebelumnya.
Betapa, ia merasa sangat sulit untuk melupakan masa-masa itu. Masa saat ia berjumpa dengan cinta pertamanya.
Bukankah, cinta pertama selalu menyimpan kenangan yang berbeda? Sulit tergerus jaman maupun pikiran. Ia lalu berjalan mendekati pagar jendela kamar. Pandangannya menerawang, jauh dalam keremangan malam.
__ADS_1
"Rani," lirih suara Devan memanggil. Sendiri, larut dalam kenangan. Ia lalu menghembus nafas perlahan, memejamkan kedua matanya, dan dalam hitungan sepersekian detik, gerakan tanganya membumbung tinggi, melempar dengan cepat ke arah luar jendela.
Ia kembali menarik nafas. "Lembaran baru, tanpa masa lalu," ucapnya sambil tersenyum.
💕💕💕💕💕
Mobil merah menyala terpakir cantik di depan toko. Seorang gadis dengan rambut hitam sebahu perlahan turun dari dalamnya. Ia memakai terusan tanpa lengan, berleher v dengan panjang gaun di atas lutut, tampak sangat seksi juga mengundang perhatian.
Bulu mata tebal yang sudah pasti palsu itu, tampak semakin membuatnya terlihat cantik. Ditambah kulit putih bersih yang bercahaya karena rajin perawatan. Membuatnya juga semakin terlihat memukau.
"Wow, jadi itu si Eryn, gila euy, geulis pisan!" bisik Bagas pelan. Setelah ia mengintip dari balik jendela toko.
"Dia rese banget," celetuk Devan. Dia menceritakan kepada Bagas, tentang insiden yang dibuat gadis aneh itu.
"Buat aku aja, gimana?" Bagas menaikkan alisnya.
Tap tap tap tap!
Bunyi khas sepatu jinjit milik Eryn terdengar nyaring di teras toko.
"Permisi," ucapnya sambil melongokkan kepala ke dalam dengan satu tangan membuka pintu.
"Mau nyari apa Teh?" tanya Bagas. Ia sengaja menghampiri sebelum gadis itu menginjakkan kaki ke dalam toko.
"Pak Devan, ada?" tanya Eryn sambil menaikkan tas jinjingnya ke atas lengan yang di lipat.
"Oh, ada. Tapi, dia sedang sibuk," jawab Bagas.
"Emang ngapain nyari Pak Devan?" tanya Bagas lagi.
__ADS_1
Bagas balik memandang. Dia sejak mengintip tadi sudah tertarik pada gadis yang bernama Eryn ini. Jelas, karena fisiknya memang menggiurkan untuk diproriotaskan dalam hal penilaian.
💕💕💕💕💕
Ingin sekali meneguk kebahagiaan, tapi rasanya masih sangat jauh api dari panggang. Kembali harus di uji kesabaran, tentang niat juga keseriusan.
"Maaf, tapi memang harusnya begitu, harus ada yang menjadi wali buat Nay," lirih Nayla bersuara.
"Jadi?" Devan mengangkat alis. Mengamati dengan lekat wajah gadis yang telah menjadi calon isterinya itu.
"Harus pulang kampung dulu, Mas," jawab Nayla. "Membujuk Paman biar mau jadi wali," sambungnya lagi.
"Dimana?"
"Balikpapan," jawab Nayla mendongakkan muka.
Astaga! Jauh sekali. Batin Devan.
"Kirain kamu asli Bandung," ujar Devan sambil meraih sebuah cangkir yang berisi kopi. Meneguknya perlahan.
Nayla menggeleng. "Aku, emang lahir di sini, Mas. Tapi, Ibu sama Bapak mah asli orang Balikpapan." Nayla mengusap punggung tangannya sendiri. Ia terlihat gusar.
Sebenarnya masih banyak yang harus ia pertimbangkan. Terkait apakah pamannya mau jika harus dibawa ke Bandung. Mengingat, sudah sangat lama sekali gadis itu tidak pulang kampung. Ditambah lagi, hubungan dengan keluarga di sana tidak terlalu baik.
"Kita menikah di sana saja," ucap Devan menangkap kekhawatiran Nayla. "Sekalian Honeymoon," ucapnya lagi bersemangat.
"Ihh, Mas Devan mah!"
💕💕💕💕💕
__ADS_1