Kepingan Hati

Kepingan Hati
Masih Pov Bagas


__ADS_3

Aku gelisah di dalam mobil. Kenapa malah pengecut begini? sama saja lari dari tanggung jawab!


"Hey, buka! duakh! duakh! tanggung jawab!" gadis itu menggedor kaca mobil.


Ah, sial! dia berhasil menarik perhatian banyak orang untuk mendekat. Bisa-bisa dihakimi massa nanti!


Terpaksa aku kembali keluar.


"Maaf," ucapku begitu menemui mereka. "Ayo segera naik mobil, kita kerumah sakit," lanjutku lagi. Kulihat gadis itu menuntun temannya berjalan. Orang-orang yang melihat kami, membuatku jadi takut sendiri. Masih untung tak sampai di hakimi massa.


"Kain kali jangan ceroboh begitu, untung adik saya nggak kenapa-napa." Gadis itu membuka suara. Ia duduk di bangku belakang sambil memegangi pemuda yang katanya adiknya.


Kulirik dari kaca depan kemudi. Pemuda itu, dia, kenapa diam saja? Seperti tidak sedang mendengarkan kami. Ya Tuhan, aku lupa. Bukankah tadi mereka bicara dengan bahasa isyarat? dia tuna rungu?


"Apa dia tidak bisa mendengar?" tanyaku sambil menatap kaca depan mobil.


"Iya!" Gadis itu menjawab. Dia kenapa galak sekali.


***


"Tidak ada luka yang serius, hanya saja dia merasa syok." Dokter memberi penjelasan sambil memeriksa kedua mata pemuda itu. Syukurlah tak terjadi apa-apa. Hanya kulihat sedikit luka saja di kedua siku dan juga lututnya.


Kami lalu bergegas pergi meninggalkan UGD, setelah semua serangkaian administrasi dilakukan.


"Saya minta maaf," ucapku. Kulihat gadis itu menghela napas.

__ADS_1


"Saya juga minta maaf," ucapnya.


Hey! kenapa dia meminta maaf? bukan dia yang salah, tapi aku!


"Saya terlalu panik tadi." Tambhanya lagi. Dia kenapa selalu menundukkan kepalanya? tidakkah mau melihat ke arahku?


"Terima kasih sudah mau bertanggung jawab, saya pamit dulu." ia lalu berjalan meninggalkanku.


"Hey, tunggu! saya antar." Aku mengejar, menawarkan diri. Gadis itu menoleh, melihat ke arahku. Lalu menggeleng pelan.


"Nggak perlu. Kami bisa naik angkot," ucapnya datar.


"Bukan begitu, tapi, ini adalah bagian dari tanggung jawabku," ucapku sedikit memaksa. Gadis itu lalu berbicara dengan adiknya. Menggunakan bahasa isyarat seperti yang biasa kulihat di televisi.


"Jadi alamatnya apa?" tanyaku setelah masuk dalam mobil.


"Jalan raya IR Soekarno, nomer 10!"


***


Lalu, dalam sekian menit perjalanan. Akhirnya kami menepi di depan sebuah rumah. Eh, tapi ini bukan rumah.


Aku memandang plakat yang terpajang di depannya. "Panti Asuhan Kasih Bunda." Apa tidak salah ini tempatnya? aku menoleh kebelakang.


Kosong!

__ADS_1


kulihat gadis itu telah turun lebih dulu.


Dia tinggal disini? batinku menerka-nerka sendiri.


***


Kulihat beberapa anak sedang berlarian di halaman. Gadis itu mengantar adiknya terlebih dahulu. Lalu kembali menemuiku.


"Terima kasih banyak yah, A." Ia tersenyum. Lalu memandang sebentar ke arahku, kemudian kembali mengalihkan pandangan. Baru kusadari ada lesung pipit di pipi sebelah kirinya. Manis sekali.


"Nggak papa, ini bagian dari tanggung jawabku, sebelum melaksanakan tanggung jawab baru. Menafkahimu," ucapku lancar.


Ya Tuhan! Kalimatku barusan! Biasa untuk menggombali gadis-gadis!


Ayo tarik lagi! Tarik lagi kalimatnya!!


Gadis itu mengernyit sambil menatapa tak suka kepadaku.


"Jangan gombalin saya, jaga sikap anda!" Dia menarik diri, lalu beringsut meninggalkan pergi.


"Saya tidak serius!" teriakku. Ia masih saja berjalan sambil menggelengkan kepala. Mulut yang terbiasa menggombal ternyata pada gadis berpakaian syar'ie itu pun melafazkan kalimatnya dengan lancar.


***


Baru juga satu hari! Tapi, insiden tabrakan itu, berhasil membuatku panas dingin! Juga keceplosan kalimat itu! Harus bagaimana??!

__ADS_1


__ADS_2