Kepingan Hati

Kepingan Hati
Rindu


__ADS_3

Detik waktu seolah terjeda. Langkah Devan pelan tapi pasti menghampiri Rani yang sedang terduduk sendiri. Dilihatnya dengan seksama, kedua mata iparnya itu tampak sangat lelah.


"Maaf baru datang," ucap Devan sambil menangkupkan kedua tangan di dada. Memberi salam. Rani mengangguk pelan. Terlihat sekali gurat kesedihan terpancar di wajahnya.


"Terima kasih," ucap Rani membalas. Keadaan seperti ini mengingatkan mereka kembali pada peristiwa beberapa tahun silam. Saat Rani memahami semua keadaan sebenarnya. Saat satu orang bernama Malika membuka tabir yang ada. Dan saat itu pula Rani baru menyadari bahwa Devan telah banyak terluka olehnya.


"Kamu sudah makan?" Devan menarik kursi. Memilih duduk di sebelah Rani. Banyak hal yang ingin ia tanyakan. Tapi kemudian ia tersadar. Rani pasti jarang makan akhir-akhir ini. Gadis itu diam saja. Pandangannya kini beralih pada Mas Rahman.


"Ini untuk Mas Rahman." Sebuah map kecil diserahkan Devan kepada Rani. "Jangan salah paham, ini untuk Mas Rahman. Gunakan untuk keperluan kalian." Devan memaksa setelah dilihatnya Rani masih bungkam tak membuka suara.


"Rani, pergilah keluar. Belilah makanan, jangan sampai kamu ikutan sakit. Nanti ... aku akan lebih sulit untuk pergi." Devan keceplosan. Ah kalimatnya itu, harusnya tidak begitu. Ia hanya khawatir saja. Gadis itu memandang lamat ke arah Devan. Sebuah garis senyuman ia lemparkan sebagai tanda terima kasihnya. Sejak ia menunggui suaminya di rumah sakit. Jarang sekali ia bisa leluasa untuk makan. Bisa dihitung satu kali saja dalam sehari.


"Nitip Mas Rahman dulu, ya?" Rani beranjak berdiri. Ia lalu menyimpan map kedalam tasnya kemudian meninggalkan ruang inap milik Mas Rahman untuk membeli makanan.


Di sisi lain, Devan sedang tercenung sendiri. Jalan hidup seperti drama. Kenapa harus berulang kali berurusan dengan orang-orang di masa lalunya.


Devan berdiri. Memandang lekat ke arah saudara tirinya yang tergolek lemah tak berdaya. "Hubungan seperti apa ini, Mas?"


***

__ADS_1


Nayla menunggu kabar dengan gelisah. Sejak dari suaminya berangkat pergi, ia sama sekali tak berani menghubungi. Takut mengganggu. Diliriknya gawai berkali-kali. Ada rasa yang berusaha ia tepis, cemburu.


"Nay, Mamah mau ke rumah Bibi dulu, yah?" Sebuah suara mengejutkannya. Nayla menoleh ke arah pintu. Di dapatinya mamah mertua sedang bersiap dengan tengtengan tas di tangannya.


"Ada apa, Mah? Kenapa mendadak?" tanya Nayla penasaran. Ia berjalan mendekat sambil menggendong Hadziq.


"Iya, Mamah ada perlu. Tadi Bibi telvon, minta antar kerumah calon istrinya Bagas."


Nayla melongo tak percaya. Sekejap saja ia lupa akan kekhawatirannya tentang Devan.


"Calon istri? Teh Eryn?" Nayla menebak.


"Iya, Mah."


'Bukannya A Bagas udah ga sama Eryn lagi? Kenapa sekarang jadi bahasanya calon istri?' Nayla membatin.


"Kenapa bengong?" Mamah Devan menepuk lembut lengan Nayla. Gadis itu menggeleng berpura saja ia tak tau apa-apa.


"Devan gimana, sudah sampai?" lagi Mamah Devan bertanya. Sambil mengelus pipi Hadziq yang sedang tertidur lelap lagi menggemaskan.

__ADS_1


"Sudah, Mah." Nayla berbohong. Tak ingin mertuanya ikut kepikiran.


"Ya sudah, ingetin dia jangan lama-lama di sana. Mamah nggak suka." Perempuan itu akhirnya berlalu pergi. Meninggalkan Nayla yang tercenung sendiri. Ia juga tak suka jika Devan pergi ke Surabaya. Seperti ada sesuatu yang membuatnya takut kehilangan. Meski ia tahu, Rani bukanlah gadis rendahan. Tapi, yang namanya hati, siapa yang bisa menjamin?


***


"Drrrrrtttttttr!" Gawai bergetar keras di atas nakas. Nayla bergegaa menghampiri setelah meletakkan Hadziq di atas kasur bayinya.


Segaris senyuman tertarik ke atas saat ia melihat satu nama tertera memanggilnya.


"Sayang ... Mas kangen. Baru juga sebentar di sini, kenapa bisa hati serindu ini."


Nayla tersipu malu. Mukanya memerah setelah mendengar ucapan suaminya.


"Nay juga rindu, Mas."


Gadis itu mengulum senyum di bibir sendiri. Hatinya meletup seketika. Rasa khawatir yang sempat singgah, lenyap seketika tanpa bekas di hatinya.


"Jangan lama-lama, Mas. Pulanglah segera."

__ADS_1


__ADS_2