Kepingan Hati

Kepingan Hati
Tamu Dadakan


__ADS_3

Devan menarik selimut sedikit ke atas. Berharap agar Rani tak kedinginan sebab tidur di bawah bangsal Mas Rahman. Saat ia sedang merapikan selimut yang membingkai badan Rani. Tanpa sengaja kelingkingnya menyentuh lembut pipi bersih Rani. Sekejap saja, desiran itu kembali singgah. Terlebih saat tiba-tiba Rani membuka kedua matanya.


"Astaghfirullah," pekik Rani tertahan. Ia terperanjat sambil menatap bingung pada Devan.


"Jangan salah paham, aku tak sengaja. Hanya ingin membetulkan posisi selimutnya saja," ucap Devan sambil beringsut berdiri. Tak enak dengan sikapnya sendiri.


"Oh, iya, terima kasih." Terbata Rani berbicara. Ia mendongak menatap bangsal suaminya. Mas Rahman masih tidur dan terpejam.


"Kamu nggak tidur?" tanya Rani pada Devan sambil membenarkan posisi duduk. Ia jadi tak enak.


"Aku tunggu di luar saja," jawab Devan lalu bergegas pergi meninggalkan ruangan. Rani melirik ke arah jam dinding. Sudah pukul sembilan malam lebih. Ia lalu kembali merebahkan diri setelah melihat Devan keluar ruangan.


"Itu bukan tak sengaja, Van," ucapnya lirih.


***


Udara dingin berembus pelan. Devan berjalan keluar melewati lorong jalanan rumah sakit. Perutnya lapar. Ia sendiri dari tadi belum makan. Seharian menjaga Mas Rahman yang tak kunjung siuman.


Besok banyak agenda yang akan ia lakukan. Termasuk mengunjungi Ayahnya yang mendekam di balik jeruji besi. Devan benar-benar di butuhkan. Andai hati itu mau. Andai ia tak lagi mengurusi. Atau membiarkan bara api tetap membakar hatinya. Teringat kembali perlakuan Ayahnya dulu pada ia dan Mamahnya. Ah, Devan memang lelaki yang baik. Tak sampai hati membalas menyakiti.


Di edarkannya pandangan ke sekeliling. Yang namanya rumah sakit memang selalu ramai, tak peduli jam berapapun. Devan kembali berjalan, melewati pintu utama rumah sakit. Ia sedang berpikir akan makan dengan apa.


Nasi goreng?


Bakso?


Mie ayam?


Nayla?


"Astaghfirullah, Nayla!" Devan menepuk jidat sendiri. Ia lupa hari ini belum menghubungi istrinya. Diraihnya gawai di saku baju kemeja. Ia kemudian dengan tergesa memncet tombol panggilan.


Sambil berjalan menuju kedai makanan, ia menempelkan gawai di telinga.


"Mas, pesen nasi goreng satu ya, makan sini," ucapnya sambil duduk. Telunjuk dan jari tengah di ketuk-ketuk di atas meja. Menunggu panggilan yang tak kunjung tersambung dengan Nayla, istrinya.


"Nomor yang anda tuju sedang sibuk. Silahkan mencoba kembali beberapa saat lagi."


"Ish! Kenapa harus di tolak, sih?" Devan mendengus. Ia tak sadar jika Nayla juga sedang kesal. Dari tadi menunggu suaminya itu yang tak kunjung memberi kabar.

__ADS_1


Di kejauhan sana. Beribu-ribu meter jauhnya. Nayla sedang tercenung memandangi layar gawai yang berkedip-kedip. Panggilan dari Devan tak satupun di angkatnya.


"Kamu kenapa baru menghubungi selarut ini, Mas. Aku menunggu sejak tadi pagi," lirih Nayla bersuara. Hatinya sangat sedih sekali. Ketakutannya sangat tinggi. Bagaimana jika benih di hati suaminya kembali meletup seperti dulu lagi?


Saat hanya berdua saja bersama Rani. Cinta pertama yang tak sampai di miliki.


"Huft!" Nayla mendesah. Lebih dari tiga puluh panggilan tak terjawab dari suaminya. Ia jadi kepikiran. Juga merasa tak enak karena terlalu lama mendiamkan.


Diraihnya gawai miliknya yang kembali berkedip-kedip.


"Hallo, Mas," ucap Nayla sedikit ketus. Dia berhak untuk cemburu. Bagaimanapun, ia tak ingin berbagi hati.


"Kenapa baru di angkat? Kenapa baru mau menjawab? Tadi kemana saja?" tanya Devan tanpa jeda.


"Ih, Mas Devan tuh yang kemana aja!" Ketus Nayla berbicara. Ah, dia cemburu tanpa ada sebabnya. Pikirannya terlalu jauh melayang kemana-mana.


"Sayang, maaf," ucap Devan lagi. Ia merasa bersalah mendengar suara Nayla ketus begini.


"Jangan di ulangi, Mas. Nay ... takut."


"Takut apa?"


"Takut Mas Devan balik kaya dulu lagi. Sama mbak Rani." Tanpa basa-basi Nayla mengutarakan kegelisahannya. Ia memang tak pandai menyembunyikan perasaan.


Dan benar saja. Ibu satu anak itu sedang terbakar hatinya. Cemburu tanpa tau kebenarannya. Hatinya berkata begitu, meski ia sendiri belum tahu.


"Mas usahain secepat mungkin akan pulang. Tapi, urusan di sini juga masih banyak, Sayang. Belum lagi menebus untuk membebaskan Ayah dari kasus penipuannya. Nay suport Mas, ya?" Devan membujuk. Nasi goreng pesanannya sudah sangat dingin. Ia sama sekali tak menyentuhnya. Sebab dari tadi berusaha menghubungi Nayla yang sangat susah menjawab panggilang darinya.


"Sayang," panggilnya lagi dengan nada lebih rendah. Ia membujuk.


"Iya, Mas," jawab Nayla.


"Senyum atuh," goda Devan. Berharap ada tawa keluar dari mulut istrinya. Ia merasa sangat bersalah karena desiran hatinya yang masih saja ada untuk Rani. Devan tak ingin, tapi keadaan hatinya sulit untuk dikendalikan.


"Gimana mau senyum, Ih. Kan jauh, lagian, Mas nelvon bukan video call," ucap Nayla sambil mengerucutkan bibir. Tingkahnya yang manja seperti itu, membuat Devan semakin rindu.


"Hadziq lagi apa?" tanya Devan mengalihkan pembicaraan.


"Udah bobo, atuh!"

__ADS_1


"Ai, Neng? Naha (kenapa) atuh can (belum) bobo? Mau di boboin?" goda Devan setengah berbisik. Ia sedang di kedai, takut ada yang mendengar.


"Ish! Aa mah! Genit!" Nayla tersenyum. Ia mengulum bibir sendiri. Malu.


"Biar genit juga sama istri sendiri," kata Devan lagi.


"Udah ah, sok bobo atuh, Mas," titah Nayla. Ia tak tahu kalau Devan sedang diluar membeli makan.


"Iya, Sayang, kamu buruan bobo, yah? Jangan lupa kirim foto. Mas kangen," ucap Devan lagi.


"Iya, Mas," kata Nayla. Ia bersiap hendak mengucapkan salam dan mengakhiri panggilan. Tapi ada satu hal yang membuatnya kembali bersuara.


"Eh, tunggu, Mas."


"Iya, kenapa?" Devan mengernyit. Nayla seperti ingin mengucapkan sesuatu.


"Tadi sore ada yang nyamperin kerumah. Nyariin Mas Devan. Ih, sambil bawain banyak makanan."


Devan mengernyit. Kali ini ia semakin terheran-heran. Siapa? Rekan bisnis? Kolega? Atau ....


"Siapa, Sayang?" tanya Devan penasaran.


"Itu fans Mas yang kuliah di Bandung. Emaknya yang ngasih tau tadi. Ih, banyak banget bawaan makanannya."


"Bwahahahahaha! Dasar emang, ah Masmu ini biar udah jadi Bapak-bapak juga banyak penggemar." Devan terpingkal. Senyumnya terkembang sempurna. Ia senang sekali. Pesonanya belum memudar rupanya.


"Bukan hanya itu, Ih," ucap Nayla ingin menambahkan ceritanya tadi.


"Apa?"


"Emak-emak grup sebelah juga dateng kesini. Gara-gara Mas Devan gak pulang-pulang dari Surabaya."


"Terus?"


"Tut! Tut! Tut!"


Sambungan terputus. Gawai Nayla mati. Kehabisan baterai karena lupa dari tadi belum di cas.


Devan tersenyum. Ia melihat sepiring nasi goreng di depannya. Ada rasa lega dalam hati.

__ADS_1


Ternyata penggemarnya masih peduli. Wkwkwkwkwk.


Makasih buat semua pembaca setia. 💕


__ADS_2