
Suasana canggung kental sekali terasa di dalam ruang kerja milik Devan. Gadis yang bernama Aisyah itu akhirnya menerima tawaran untuk masuk ke dalam. Lama ia menunggu kedatangan Bagas. Tapi lelaki itu tak juga kunjung datang atau menghubunginya. Sedangkan, ia sendiri tak bisa berlama-lama meninggalkan pekerjaannya.
"Jadi, ada perlu apa?" tanya Devan canggung. Aisyah mengeluarkan beberapa dokumen yang tersimpan rapi di dalam tas besarnya. Map-map coklat yang berisi tulisan lamaran pekerjaan, milik beberapa murid binaannya di panti asuhan.
"Saya mau titip ini, buat Pak Bagas, beliau sendiri kemarin yang meminta," ujar Aisyah menjelaskan.
Devan mengambilnya, meraih penerimaan dari Aisyah. Ia sama sekali tak mengerti maksud gadis ini apa. Tapi, demi Bagas, ia hanya bisa mengiyakan saja.
Devan membuka beberapa isi map itu. Sembari pandangannya menatap lekat di bawah. Bukan bawah kakinya, tapi memandang Bagas yang bersembunyi di kolong meja kerja milik Devan.
"Ini orang, badan aja gede. Sama Aisyah malah jadi ciut begini!!'
Devan melotot pada Bagas. Sedangkan Bagas tampak menyimpulkan jari di telunjuk, berharap agar Devan jangan seperti itu. Takut jika Aisyah mengetahui persembunyiannya.
"Kenapa, Pak?" Aish menatap heran. Kenapa Devan melihat isi mapnya hingga membulatkan kedua matanya? adakah yang salah? pikir gadis itu.
"Nggak papa kok, nanti saya sampaikan pada Pak Bagas." Devan tersenyum, ia lalu memasukkan kembali isi map ke dalam sampulnya.
__ADS_1
'Awas kau Bagas! Awas saja!' pekik Devan dalam hati. Jujur, bapak satu anak itu merasa canggung sekali. Terlebih, Devan masih ingat dengan jelas tentang taarufnya dulu. Namun, berbeda sekali dengan Aisyah. Dia sama sekali tak membahas hal itu. Bahkan, tekesan biasa-biasa saja.
"Ini bukan Nepotisme, Pak. Bapak jangan salah paham. Bapak bisa mempertimbangkan semuanya, kualitas serta keterampilan adik-adik binaan saya, jangan diragukan." Aisyah menjelaskan. Gadis itu khawatir, jika Devan telah salah paham.
"Oke, baiklah. Tapi, untuk selanjutnya, itu kewenangan Pak Bagas. Nanti saya sampaikan." Devan melipat kedua tangan di atas meja. Ia berusaha untuk tidak canggung lagi.
"Kalau begitu, saya permisi dulu Pak. Terima Kasih." Aisyah menangkupkan kedua tangan di dada, berpamitan. Devan membalasnya dengan gerakan yang sama.
"Assalamualaykum warahmatullah wabarakatuh," ucap Aisyah, kemudian berjalam pergi meninggalkan ruang kerja Devan.
***
'Astaga! sejak kapan Bagas jadi begini?!'
"Hey, jawab!" Devan mengernyit. Ia penasaran kenapa Bagas bisa mengenal Aish. Pemuda di depannya itu masih saja tak mau menjawab.
"Panjang ceritanya. Udah yah, aku balik lagi ke kantor. Thank you pokoknya!" Bagas beringsut mengambil map-map di atas meja kerja Devan.
__ADS_1
"Jawab dulu, ihh!" Devan menghalangi. Ada yang tak beres dengan sepupunya kali ini.
"Enggak!" Bagas menarik-narik map yang dihalangi Devan. Hingga kemudian keduanya saling tarik-menarik. Bisa di bayangkan bagaimana ekspresinya? Dua lelaki dewasa berebut map coklat? oke sekali lagi, berebut map coklat!
"Ya Ampun, sekarang main rahasia-rahasiaan yah?" Devan menatap heran pada Bagas. Kenapa juga ia jadi terbawa perasaan itu. Aslinya memang dia sedang penasaran, ada hubungan apa Bagas dan Aisyah. Anak Ustadz yang dikenalnya itu, kenapa bisa ada di sini, bahkan kenal juga dengan Bagas.
Bagas tersenyum Tapi, sekejap kemudian kedua bahunya melorot ke bawah. Lesu.
"Aku nggak sengaja nabrak salah satu murid binaannya, Van," ucap Bagas akhirnya. Ia sedih jika harus kembali mengingat kejadian itu.
"Nabrak?!"
"Iya." Bagas tak berselera lagi dengan map-map yang tertumpuk di meja kerja Devan. Ia berniat memberi tahu saja sepupunya itu. Setidaknya, mungkin Devan bisa membantu.
"Nanti kalau udah nyantai, kamu bisa cerita panjang lebar di sini." Devan menghela napas berat. Sepertinya Bagas sedang ada masalah, dia tak ingin memaksanya lagi. Mungkin nanti, saat ada waktu yang tepat untuk mengobrol berdua saja dengannya. Tentu di luar jam kerja, bukan seperti ini.
***
__ADS_1