Kepingan Hati

Kepingan Hati
Kepingan Masa Lalu


__ADS_3

Semilir angin lembut membelai tiap helai dedaunan. Bunga-bunga aneka warna bermekaran. Memberi kesan segar pada setiap yang memandang.


Sisa air hujan yang menetes di genting-genting rumah, menimbulkan wangi yang khas menusuk indera penciuman.


Dari tempatku memandang, ada sesosok laki-laki tengah menghadap dinding taman. Dengan memakai kaos putih, celana jeans pendek selutut, juga sepatu ket berwarna senada dengan atasannya.


Punggung dan kedua tangannya di rentangkan, menggeliat pelan seperti sedang melakukan peregangan.


Kulit bersihnya tertimpa cahaya, terpantul sempurna karena banjir keringatnya.


Satu,


Dua,


Tiga,


Dia menoleh. Tepat sesuai perhitunganku. Lantas kemudian memberi senyuman manis ke arahku.


Aku dengan hanya memakai dress rumah selutut. Berwarna merah segar juga renda di dada. Rambut terurai berkeriting gantung, dengan warna hitam pekat, sekelam malam.


Tak lupa parfum bermerk ternama kusemprotkan, agar ia nyaman saat kami berduaan.


Ku oleskan lipstik berwarna pink di bibir, juga make up natural agar terlihat semakin sempurna.


Aku mengambil jus jeruk di kulkas. Membawanya ke dalam genggaman. Untuk dia yang paling kusayang.


Ia menanti kedatanganku di bangku taman belakang rumah. Punggungnya bersender dengan bertumpu pada kedua tangannya.


Ia tersenyum lebar. Menunjukkan gingsul di giginya. Begitu putih dan terawat. Betapa aku sangat menyayanginya.


"terima kasih, sayang," Ujarnya seraya meraih jus jeruk dari tanganku.


Aku tersenyum senang. Menikmati setiap ukiran yang tergambar di wajahnya.


"I love you Rani," bisiknya lembut.


"I love you too, Devan."


Devan?


De...Van?


Mendadak semuanya terasa berputar.


Lalu menjadi gelap.


Hitam,


Pekat,

__ADS_1


Aku terhenyak, untuk sesaat tadi sungguh terasa nyata.


Ternyata hanya mimpi.


"Hufft, haah..." aku menarik nafas dan menghembuskannya perlahan.


Tenggorokanku terasa begitu kering. Aku haus.


Kulirik jam di dinding kamar. Pukul satu malam lebih sepuluh menit. Di sampingku, mas Rahman terlelap dalam tidurnya. Biasanya jam tiga pagi beliau akan bangun untuk qiyamul lail. Tak tega rasanya jika harus membangunkannya sekarang.


Tapi aku haus, dan gelas di atas nakas sudah tandas airnya sejak sebelum tidur tadi. Kenapa juga bisa lupa belum di isi.


Terpaksa aku turun dari ranjang sendirian. Setelah memakai kerudung asal-asalan, aku membawa gelas dan bergegas menuju dapur.


Rumah sebesar ini mendadak ngeri jika malam sudah tiba. Sejak menikah dengan mas Rahman, baru kali ini aku keluar kamar malam-malam. Demi tenggorokan yang menuntut untuk dibasahi. Efek mimpi yang menguras emosi.


Aku menuruni tangga perlahan. Berjalan santai menuju dapur. Sepertinya air dingin mampu meredakan rasa hausku.


Baru juga membuka pintu kulkas tiba-tiba...


"Brakk!!" Kulkas tertutup rapat.


"Hmppppphhh...," Sebuah tangan membekap mulutku, erat.


Sedangkan satu tangan berhasil memelukku dari belakang dengan kuat.


Takut,


Panik,


Bayangan ketakutan begitu nyata di fikiranku.


Maling?


Atau rampok?


Ya, Allah selamatkan aku.


"Tenanglah, jangan panik." ia membisik tepat di dekat telingaku yang terhalang hijab.


Mataku membulat, demi mendengar suara yang tadi berbisik.


Tiba-tiba sesak menyeruak dari dalam hati. Disusul bulir-bulir bening yang melesat dari sudut mataku tanpa bisa kukendalikan. Aku syok, pikiranku kacau.


Suara itu,


Suara milik Devan!


Aku menggeliat, memberontak hebat. Mencoba terlepas dari cengkeramannya.

__ADS_1


"Lima menit, hanya lima menit, Rani! Pliss diamlah dulu," bisiknya lagi.


Aku tak bisa berfikir jernih. Ketakutan terbesarku saat ini hanyalah bagaimana jika dia berbuat nekat?


Bagaimana kalau mas Rahman melihat kami seperti ini?


Betapa, aku tidak bisa menjaga diri.


Ya Allah, ampuni hambamu ini.


Kembali air mataku mengalir, semakin deras membasahi pipi dan tangan lelaki di belakangku ini.


"Selamat ulang tahun, Rani."


Degh,


Aku menelan saliva, tenggorokan yang kering semakin gersang rasanya.


"Kenapa harus seperti ini? kenapa kau tidak bisa menungguku sedikit saja lebih lama? kenapa kau tak membalas setiap surat-suratku? kenapa..." Ia terisak, suaranya ngebasnya ditekan berat.


A...apa?


Dia menangis?


Surat?


Surat apa?


Otakku yang sedari tadi berisi fikiran yang macam-macam. Kini, terpaksa banting arah harus berfikir keras mengingat-ingat masa lalu.


Nihil, aku tak ingat sama sekali terkait surat.


Apa yang ia bicarakan? apakah ia sedang mengigau?


Kudengar ia semakin terisak. Kemudian menghembuskan nafas berat.


"Huftt haah..."


Kurasakan pelukannya perlahan mulai mengendur.


Dan aku tak memberontak lagi. Setidaknya biarkan ia memberi sedikit penjelasan. Walau tak dapat kupingkiri lagi. Degub jantungku berdentam tak beraturan.


"Aku tidak akan menganggumu lagi, ikhlas. Aku akan belajar ikhlas. Semoga...Raniku bahagia...," Kalimat terakhirnya begitu terbata. Ia lalu melepaskan tangannya dari mulutku. Aku menarik nafas lega. Ia tak lagi berbicara. Hanya bisa kurasakan,tangannya menyelipkan sebuah benda ke dalam saku gamisku.


Derap langkahnya terdengar menjauh. Aku tanpa sadar, luruh jatuh di depan pintu kulkas.


Tersedu, menikmati gejolak dalam dada yang bergemuruh.


* * * * *

__ADS_1


__ADS_2