Kepingan Hati

Kepingan Hati
Telvon Bagas


__ADS_3

Tak pernah terbayangkan sebelumnya. Bahwa aku akan menginjakkan kaki di tempat seperti ini. Hanya demi Ayahku, yang tertunduk bersama kumpulan orang-orang kriminal. Bagaimana bisa ia seperti ini? Harusnya ia bisa memperbaiki diri setelah kedatangannya di Kota Bandung kala aku menikah. Tapi, ternyata jalan hidup yang dipilihnya semakin kelam. Terjerumus dalam kubangan.


"Pulanglah, Ayah bisa mengatasinya sendiri," ucapnya dari balik jeruji besi.


"Tidak bisakah Ayah menurut? Kali ini saja?" tanyaku geram. Bagaimana bisa ia menolak untuk kubantu. Sedangkan ia sendiri, sudah tak punya apa-apa lagi. Kasihan.


"Ayah sudah banyak merepotkan," ucapnya getir. Wajah yang tak lagi muda itu mendongak. Menatap lamat ke arahku. Wajah yang pernah sangat kubenci itu tampak iba.


"Demi Mamah," kataku berbohong. Sengaja ingin tahu, bagaimana perasaannya saat ini.


"Sudahlah, Van," ucapnya menepis. Kulihat kedua bahunya melorot. Rada bersalah itu masih ada. Terlihat sangat jelas sekali.


Andai pernikahan Ayah dan Mamah tak rusak. Mungkin jalan hidupku juga tak akan seperti saat ini. Haruskah aku bersyukur karena dengan harus berpindah ke kota Bandung, Akhirnya pertemuan dengan Nayla yang berakhir indah.


"Ayah malu. Maaf," ucapnya kemudian memilih berbalik tak lagi memandangku. Wajahnya barusan tampak sangat murung sekali. Masih ada penyesalan di sana. Terlebih saat-saat seperti ini.


Ayah, tak mengapa. Aku ikhlas melakukannya. Semoga jalan di depan bisa diperbaiki. Lihatlah putramu sekarang, yang dulu kau anggap tak bisa apa-apa.


Aku datang untuk membantu.


***

__ADS_1


Jika saja hatiku sekeras batu. Mungkin aku tak akan pernah berada di sini. Di tempat yang penuh luka juga duri. Tapi, tahukah kalian? Jika bukan karena ujian yang kulalui. Mungkin, jalan hidupku tak akan seindah saat ini.


Karir melonjak tajam. Keluarga sudah komplit, dengan bayi mungil di dalamnya. Apa yang kurang? Tidak ada.


Aku sangat bersyukur dengan hidupku. Terima kasih banyak untuk yang pernah menorehkan luka. Untuk yang pernah menyakiti hati. Untuk yang pernah membuatku terpuruk.


Sebab kalianlah aku bisa bangkit dan menata hidup. Bisa menyadari bahwa tak semua yang di inginkan bisa terpenuhi. Rani contohnya.


Bisa mengerti bahwa kekayaan bukan menjadi sandaran bahwa keharmonisan rumah tangga akan bertahan seutuhnya. Seperti Ayah dan mamah.


"Drrrrrrrtttttt!" Getar gawai membuyarkan lamunanku. Segera saja ku angkat panggilan dari sana.


"Hallo," ucapku memulai.


"Masih, kenapa?" sahutku sambil meninggalkan kantor kepolisian. Ah, urusanku masih sangat banyak di sini.


"Gudang pusat kebakaran!" Langkahku terhenti. Apa yang barusan Bagas bilang? Gudang pusat kebakaran?


"Ada korban nggak?" tanyaku panik.


"Ada. Teh Euis. Dia kebetulan lagi hamil tua."

__ADS_1


Degh!


Jantungku berdetak kencang sekali.


"Gimana atuh? Kondisinya sekarang gimana? Parah nggak lukanya?" tanyaku semakin khawatir. Ya Allah, membayangkannya saja aku tak sanggup.


"Kritis!"


"Astaghfirullah. Trus, gimana atuh? Kamu bisa urus orang buat ke rumah Teh Euis gak?" tanyaku sambil berpikir mencari solusi.


"Bisa! Tapi, aku juga butuh kamu di sini."


Ah, iya. Pekerjaanku sudah menuntut aku kembali.


"Aku usahain secepatnya," kataku kemudian mengakhiri percakapan.


***


Pikiran semakin terbagi jika sudah menyangkut pekerjaan. Mungkin aku butuh orang yang bisa kupercaya untuk memegang kasus Ayah.


Pikiranku menerawang. Sekelebat bayang wajah seseorang tiba-tiba saja hadir.

__ADS_1


"Beni! Dia pasti bisa!"


__ADS_2