Kepingan Hati

Kepingan Hati
Episode Baru Devan


__ADS_3

Jauh dilubuk hatiku


Masih terukir namamu


Jauh di dasar jiwaku


Engkau masih kekasihku...


Tak bisa kutahan laju angin


Untuk semua kenangan yang berlalu


Hembuskan sepi


Merobek hati...


Kuikuti lirik lagu naff dengan judul kau masih kekasihku, setelah sebelumnya memasang dua earphone di telinga. Entah mengapa aku sangat menyukai lagu itu. Karena liriknya seperti mewakili perasaanku saat ini.


Malam ini, aku mengantar Rani dan mas Rahman menuju rumah sakit. Karena kabarnya, Malika sedang dirawat di sana. Sudah kubilang, dunia terasa begitu sempit. Dalam waktu sekejap saja, kembali dipertemukan dengan orang-orang dari masa lalu. Tapi tak mengapa, sepertinya Malika bisa menjadi juru kunci atas menghilangnya surat-suratku.


Aku menghembus nafas pelan. Sesekali hati ini kembali berdesir, Rani terlihat sedang curi-curi pandang terhadapku. Kaca depan kemudi menjadi saksi, bagaimana kedua pandangan kami akhirnya bertemu.


Rasa ini semakin berat, sebab setiap hati menginginkannya, wajah Mamah terbayang jelas di depan mata. Aku sudah berusaha untuk bersikap dingin, tak lagi mendekatinya atau bahkan memberi segaris senyum untuknya. Semua kulakukan demi Mamah, karena bagaimanapun aku tak ingin menjadi pengkhianat, meski atas nama cinta.


* * * * *


Langkah kaki kami yang bergesekan dengan lantai sesekali menimbulkan bunyi decit di sepanjang lorong jalan rumah sakit. Kamar inap Malika terdapat di Ruang Mawar, ruangan paling pojok dengan kolam ikan kecil dan tanaman bunga melati di dekatnya. Aku memilih tak ikut masuk ke dalam kamar inap Malika. Biarlah nanti ku temui gadis itu sendiri saja. Karena sedikit banyak aku ingin mengorek info darinya.


Lebih baik aku menunggu di depan pintu kamar saja. Memikirkan cara bagaimana menemukan surat-surat juga dokumen penting milik Ayah. Rasanya buntu, karena semua isi kamar telah berhasil kugeledah, tentunya dengan sedikit trik agar lelaki sialan itu tak menyadarinya. Tapi hasilnya nihil, tak kutemukan berkas apapun.


Tak selang berapa lama mas Rahman keluar. Rani masih tertahan di dalam bersama Malika. Jangan sampai gadis itu bicara yang tidak-tidak tentangku, atau bahkan mengungkit kembali masalah surat itu.


"Mas tiduran dulu yah, Van. Badan capek banget," ucapnya sebelum merebahkan diri di bangku tunggu. Aku memberinya jempol sebagai tanda mengiyakan.


Udara malam terasa semakin dingin, kusandarkan punggung di dinding rumahsakit. Mencari kehangatan dengan bersembunyi di balik jaket tebalku. Aku lebih nyaman seperti ini.


* * * * *


Setelah mengantar mas Rahman pulang, aku harus kembali kerumah sakit. Tapi sebelum itu, aku harus membawa beberapa barang dulu untuk keperluan Rani selama menginap di rumah sakit. Mas Rahman menyiapkan semuanya, aku hanya di perintah untuk membawa.


Ku ikuti punggung saudaraku itu menaiki anak tangga. Menuju ruangan atas, tempat penyimpanan barang-barang. Dibilang gudang, tapi semua perabot di dalamnya bersih tanpa debu. Dibilang bukan gudang, tapi berbagai perabot tak terpakai teronggok di situ. Aku mengekor saja kemana mas Rahman membawa.


"Van, ini." Mas Rahman menyerahkan sebuah kotak besi berwarna putih ke tanganku. Dahiku mengernyit, mengamati barang di tanganku saat ini. Aku tergesa membukanya, tapi kemudian mas Rahman mencegah.


"Bukanya nanti saja di kamar, cepat keluar dari sini. Sebelum ada yang melihat," ucapnya kembali. Aku masih belum mengerti maksud ucapannya.


"Mas tahu apa yang kamu cari," Ditepuknya pundakku pelan. Kemudian melangkah pergi dari ruang penyimpanan ini.


Setelah menyimpan barang pemberian dari mas Rahman. Aku kembali menyalakan mesin mobil. Membelah kesunyian malam. Di iringi kerlap-kerlip lampu jalanan kota Surabaya.


* * * * *


Kaki kembali berjejak, menapaki rerumputan lapangan hijau rumah sakit. Dinginnya angin malam terasa semakin menusuk tulang. ku ayunkan langkah kaki secepat mungkin, karena dalam pikiranku, Rani pasti sedang menunggu.


"Krrrriiieeeet," pintu kamar inap Malika terbuka. Rani menoleh, kedua matanya memandang lekat ke arahku. Memperhatikan barang yang kupegang. Kasur lantai juga selimut tampak menyembul dari dalam kresek hitam.


Kusiapkan segalanya. Merapikan tempat, agar Rani bisa tidur di bawah. Malika masih terpejam. Pengaruh obat membuatnya tertidur lelap.


"Tidurlah, aku menunggu di luar." Ucapku setelah memastikan pekerjaanku selesai.


* * * * *


Pukul tiga dini hari. Bisa kupastikan Rani sudah lelap tertidur. Aku masuk ke dalam ruang inap Malika. Melihat keadaan gadis itu sebentar. Semua pasien juga penunggu tampak tertidur pulas. Hanya terdengar beberapa bunyi alat medis saja yang tetap terjaga.


Aku merunduk membetulkan posisi selimut Rani yang sedikit terbuka. Dia meringkuk dalam dekapan selimut. Dinginnya ruangan ber ac pastilah membuat tulang-tulangnya terasa sakit. Apalagi harus tidur di bawah lantai yang hanya bealasakan kasur tipis.


Aku kembali berdiri setelah memastikan Rani tertidur pulas. Saat hendak melangkah pergi, pandanganku tanpa sengaja menatap Malika yang sedang terperangah. Dia ternyata terbangun.


"Mas...?" dia mengerjapkan kedua matanya. Mungkin bingung, apakah ini nyata atau bukan. Karena telah lama tak bertemu.


Aku memberi kode agar dia diam. Khawatir jika Rani terbangun. Atau pembahasan yang telah lalu akan di ungkit kembali. Rasanya aku sudah menyerah, tak berminat lagi mengejar rasa yang pernah ada. Karena mutiara telah tersimpan, dalam genggaman lelaki pilihan.


"Mau minum?" tanyaku pada Malika. Gadis itu mengangguk. Aku meraih sebotol air di atas meja kemudian meminumkannya.


Pandangan kedua matanya masih membuktikan bahwa ia sedang bingung. "Kalian sudah menikah?" Tanya Malika setelah lama terdiam. Aku menggeleng menanggapinya. Kedua alis Malika bertaut, "lalu?"ucapnya masih bertanya.


"Rani, iparku." Jawabku datar. Malika semakin tampak kebingungan.

__ADS_1


"Ok, baiklah. Rani sekarang menjadi iparku. Dia menikah dengan kakak tiriku, paham?" Paparku menjelaskan kebingungannya.


"Kok bisa?" Gadis itu masih saja bertanya.


"Udahlah nggak penting, sekarang aku tanya sama kamu. Kamu tau tentang surat-suratku?" Tanyaku tanpa basa-basi lagi.


"Surat?"


"Iyah surat," aku menatap kedua manik hitam milik Malika. Firasatku dia mengetahui segalanya.


"I...iyah," jawabnya terbata.


"Jadi kamu yang simpan selama ini?!" Tanyaku ketus menghakimi.


Dia menggeleng. "Mbah kakung ngelarang ngasih tau ke mbak Rani." Ujarnya kemudian.


Kali ini keningku yang berkerut. Kenapa bisa mbah Kakung? Batiknu heran.


"Waktu itu mbah bilang, mas Devan cuman maun main-main sama mbak Rani." Gadis itu kembali menjelaskan.


Aku mencoba mengingat-ingat, kejadian apa yang telah terlupakan sebelum kepergianku dari desa Ambengan.


"Gila yah, akhirnya cowok playboy kayak kamu mau serius nikahin gadis kampung. Hahahaha." Celetuk Rudi waktu itu.


"Hahaha, ya elah. Kagak lha, cuman mau ngetes gadis itu aja. Ternyata gampang kan. Siapa yang bisa nolak cowok sekeren gini, hahahaha." Jawabku menyangkal. Selain gengsi sebenarnya aku juga belum siap jika harus menikah muda.


Tak kusangka tenyata ucapanku itu di dengar mbah Kakung. Pantaslah kalau selama ini surat-suratku tak pernah terbalas, karena memang tak pernah sampai pada Rani.


"Tapi dalam surat itu aku menjelaskan jika aku serius. Bahkan aku memintanya untuk bersabar menunggu." Ujarku kembali pada Malika.


"Kau ada membacanya?" Tanyaku kembali pada gadis itu.


Malika mengangguk. "Kenapa nggak kamu kasih ke Rani?!" Tanyaku sedikit emosi. Karena sama saja waktu itu Malika menghalangi niat seriusku untuk menikah dengan Rani.


"Maaf," jawab Malika.


"Sudah terlambat."


"Aku bisa memperbaiki hubungan yang rusak, aku...aku akan cerita sama mbak Rani."


"Ck!"


"Sudahlah. Anggap itu masa lalu, tak perlu dibahas lagi bersama Rani. Biarlah dia tak perlu tahu." Ucapku kemudian beranjak pergi. Karena kulihat Rani menggeliat. Khawatir dia terbangun dan mendengar semuanya.


* * * * *


Semalaman aku tak bisa tidur. Besok pagi aku harus bergerak cepat, mas Rahman telah memberi apa yang selama ini kubutuhkan. Semua surat tanah juga deposit,asuransi, tabungan milik Mamah tersimpan rapih di brankas yang mas Rahman berikan kemarin. Ayahku itu tidak sadar jika mas Rahman diam-diam mengambilnya.


Bagaimana mungkin aku bisa menyakiti hati mas Rahman dengan merebut gadisku kembali. Ah rasa itu biarlah terkubur untuk selamanya.


Mamah, aku akan pulang lebih cepat. Senyumku terkembang sempurna. Yang kubutuhkan hanyalah hak Mamah, terkait harta lelaki sialan itu. Biarlah itu bukan urusanku. Allah tidak buta, biarlah kelak Dia yang menurunkan azab padanya.


* * * * *


"Makasih, mas." Ucapku pada mas Rahman. Dia membalas dengan pelukan. "Maaf, mas nggak bisa bantu banyak. Bergegaslah pergi. Sebelum semua terlambat." Di tepuknya pundakku pelan.


"Mbak Rani dimana?" Tanyaku kemudian.


"Oh, ada di dalam sama Malika. Katanya mau ngomong serius." Jawab mas Rahman.


"Mas, sepertinya ada barangku yang tertinggal di dalam. Aku masuk dulu yah sebentar." Ujarku setengah panik. Bagaimana jika Malika mengungkit surat-suratku yang dulu?


Rasanya tak perlu lagi membahas masalah hati. Aku hanya butuh pulang ke Mamah dengan membawa berbagi berkas miliknya.


Aku berlari masuk ruangan Malika. Setengah panik aku berteriak.


"Raniiiiiiii!!!"


Kulihat Malika dan Rani saling pandang. Harus punya alasan biar Rani segera pergi dari tempat ini, dan Malika harus segera ku kunci mulutnya agar tak membahas masalah surat.


Terserah apapun itu. Ayo berfikir, cepat berfikir!


"Hosh, hosh...hosh!! Mas Rahman, dia di ugd." Ucapku akhirnya.


Sesuai dugaanku, Rani terlihat panik dan kemudian berjalan tergesa meninggalkan Malika.


Pandanganku nyalang. Malika menatap dengan sedikit ketakutan. Matana sembab, pastilah ia selesai menangis.

__ADS_1


"Sudah kubilang tak perlu dibahas lagi masalah surat itu!" Aku mendelik menatap tajam Malika.


Gadis itu kemudian terisak. Membuat penghuni ruangan lainnya menoleh ke arahku.


"Bisa tutup mulut? Tak perlu mengungkit surat itu lagi? Rani sudah sangat bahagian bersama suaminya. Kau mau kakakmu itu gelisah?"


"Tapi mas Devan masih ada sayang kan sama mbak Rani?"


"Tau apa kamu itu. Sudah gak perlu dibahas lagi! Awas saja kalau sampai bicara macam-macam!!" Acamku kemudian.


Malika mengangguk. Dia bahkan masih menatapku penuh ketakutan.


Aku bergegas meninggalkan ruangan. Dari balik daun pintu aku berpapasan dengan Rani dan mas Rahman. Gadisku itu sepertinya emosi.


"Sorry," ucapku datar. Aku harus segera pergi, mengurus surat-surat Mamah. Membalikkan nama atasnya. Kemudian membuat salinan yang baru. Tak lupa dokumen salinan yang palsu juga ku buat. Agar lelaki itu tak curiga, jika isi brankas miliknya telah ku ganti semua.


* * * * *


Tiga minggu lamanya aku telah tinggal di Surabaya, semua urusan terkait surat-surat Mamah selesai hari ini. Lelaki tua itu sama sekali tak curiga, bahwa isi brankas milik Mamah telah kuganti semua.


Aku tak mungkin bisa melakukannya jika tanpa bantuan mas Rahman. Kadang tak semua orang-orang yang bersama orang jahat ikutan jahat pula. Buktinya, meski Ibu mas Rahman seperti itu, tapi anaknya tidak. Mas Rahman memang lelaki baik. Aku sudah benar ikhlas membiarkan gadisku ada bersamanya.


Malika tak bisa sedikitpun dipercaya ucapannya. Dia dengan berani justeru menunjukkan surat-suratku kepada Rani. Dan tahulah bagaimana perasaan perempuan itu, Raniku kembali rapuh. Seperti ada penyesalan setiap kami tanpa sengaja bertemu.


Tapi mau bagaimana lagi? Dia sudah menikah, dia juga mendapatkan lelaki yang bahkan lebih baik dariku, lantas masihkah ada hasrat menggebu untuk memilikinya? Setelah sejauh ini mas Rahman banyak membantu.


* * * * *


Aku menyesap kopi terakhir sebelum berangkat kembali ke kota Kembang. Kali ini aku membawa si putih bersamaku. Tak perlu naik kereta, bisa beristirahat dengan menepi di manapun aku suka.


Setelah berpamitan dan berbasa-basi dengan Ayah serta Ibu tiriku itu, aku menemui mas Rahman. Bahkan sampai detik ini pun, dia tidak mengetahui jika dulu aku pernah memiliki hubungan dengan Rani.


"Semoga kalian berbahagia, jangan lupa memberi kabar kalau Mbak Rani nanti lahiran." Ucapku getir.


Mas Rahman tersenyum. Dia kembali memelukku. Meminta maaf atas kesalahan ibunya. Oh ayolah, jika yang salah orang tuanya tak perlu anak-anak ikut terlibat. Semua sudah terjadi, dan memori masa lalu itu tetaplah menjadi memori, tak mungkin terulang kembali.


Aku melangkah pasti. Tersenyum menang karena tak sia-sia aku pulang.


Mamah, kehidupan baru kita akan di mulai. Kutinggalkan semua kenangan di kota Surabaya. Kita awali hari di kota Kembang dengan senyum bahagia. Kau hanya butuh sedikit waktu agar luka dukamu segera sembuh.


Dan mungkin akan ada kisah cinta yang hadir disana untukku.


* * * * *


3 tahun kemudian.


Semburat merah bercampur oranye menyembul di kaki-kaki langit. Semilir angin sejuk menerpa setiap helai rambut Devan. Udara dingin kota Bandung terasa begitu sejuk, meski senja telah menyapa. Pedagang-pedagang makanan mulai menggelar dagangannya. Seperti tukang cilok, batagor, siomay, bahkan bakso dan mie ayam hadir memenuhi setiap sisi-sisi jalan.


Malam minggu tempat ini selalu ramai. Di serbu para penikmat hiburan malam, meski hanya sekadar jalan-jalan dan menghabiskan jajanan.


Setelah mengikat tali-tali di kedua sepatunya. Ia beranjak berdiri, melangkahkan kaki menuju mobil putih kesayangannya.


Di dalamnya sudah menunggu, seorang perempuan cantik dengan gamis berwarna ungu dan kerudung putih. Paras ayunya semakin terpancar, dengan binar bahagia di kedua manik hitamnya.


Perempuan itu tersenyum, "kenapa lama sekali?" Tanyanya kemudian.


"Maaf Mah," ucap Devan dengan senyum sumringah pada Mamahnya.


"Kita akan menempati rumah baru." Ucap Devan sambil menyetir. Kedua pandangannya tetap fokus mengarah ke depan.


"Devan udah banyak ngasih kebahagiaan buat Mamah, tapi, kapan Devan bahagia buat diri Devan sendiri?" Tanya perempuan itu lagi.


"Devan bahagia asal Mamah bahagia." Jawab Devan ringkas.


Tiga tahun telah berlalu. Sejak kepulangannya dari kota Surabaya, Devan fokus saja bekerja. Setelah satu tahun Mamahnya dirawat di rumah sakit jiwa dan dinyatakan sembuh benar oleh Dokter. Devan lebih banyak menghabiskan waktu bersama perempuan tuanya itu.


"Devan, kapan mau membuka hati?" Kembali sang Mamah bertanya.


"Maksud mamah?" Devan berpura-pura tak mengerti maksudnya. Ia meski berusaha menyembunyikan perasaan luka, tetap saja bisa terbaca oleh sang Mamah.


"Kapan Devan mau menikah?"


Devan memberi senyum kecil pada Mamahnya. Pandangannya menerawang ke depan. Dengan tetap fokus menyetir agar tak salah jalan.


"Kelak jika kutemukan gadis yang solehah. Yang pandai menjaga diri dan kehormatannya, juga gadis yang bisa menjadi teman baik untuk Mamah. Bisa ngertiin Devan sepenuhnya. Ah, gimana nantilah Mah." Ujarnya kemudian.


Perempuan tua itu tersenyum. Putra kesayangannya sekarang sudah sangat dewasa.

__ADS_1


* * * * *


__ADS_2