Kepingan Hati

Kepingan Hati
Mesum?


__ADS_3

Aku nyaris membuka pintu mobil, tapi kemudian berhenti tertahan, saat Nayla menghadang di depan. Aku melepas earphone sebelah, "kenapa?" Tanyaku.


"Ini, maksudnya apa? Mas Devan mau bikin kesepakatan baru?" Tanyanya.


Astaga! Gadis ini nggak paham juga. Padahal sepertinya sudah jelas ucapanku tadi. Oke, baiklah, aku akan mengikuti sejauh mana ke tidak pahamannya.


"Iyah," jawabku singkat, "kesepakatan kedua, berapapun fee yang kamu minta bakal aku kasih. Asal satu, nurut, nggak boleh protes!" Tambahku lagi.


💕💕💕💕💕


Pov Nayla


Aku mengamati kembali selembar kertas undangan yang diberi Mas Devan. Kenapa nggak bilang langsung aja kalau mau bikin kesepakatan baru. Bisa-bisanya membuatku salah faham. Kirain, dia mau nikah beneran sama gadis lain. Tapi, bukankah itu sudah menjadi haknya, dia pantas bersanding dengan siapapun. Bukan denganku, yang tak memiliki apa-apa untuk dibanggakan kepadanya.


Sudah jam sepuluh malam. Dari tadi sudah berusaha tidur. Miring kiri, inget Mas Devan. Miring kanan, terbayang kembali wajah Mas Devan. Terlentang melihat laba-laba di langit-langit kamar, justeru terbayang wajah laba-laba itu adalah Mas Devan. Ya Allah, kenapa denganku ini.


Mencoba terpejam, menutup mata dengan lengan tangan kanan. Tetap saja, selalu wajah pemuda itu yang terbayang. Apakah ini yang namanya kasmaran?


"Tring!" Nyaring terdengar suara gawai melengking. Aku meraihnya yang tidak jauh di sisi kiri kasur tempat tidur.


[Nay] kubaca sebuah pesan masuk dari Mas Devan. Dia, kenapa menghubungi malam-malam begini.


[Iyah, Mas, kenapa?] Balasku.


[Kamu beneran nggak mau dikasih fee?]


Aku menahan nafas. Sejujurnya aku tak ingin melanjutkan sandiwara ini. Sudah terlalu banyak kebohongan yang terjadi. Aku, sungguh merasa bersalah pada mamah Mas Devan. Sepertinya tidak baik jika harus terus seperti ini.


[Nay, balas dong] Ia kembali mengirim pesan.


[Mas, maaf, tapi ini nggak bener. Kita udah banyak bohongin keluarga Mas Devan, apalagi Mamah Mas Devan. Nay nggak bisa lagi] Balasku sambil mengusap air mata. Kenapa aku gampang sekali menangis. Kalau saja hubungan ini benar-benar nyata. Tapi, jelas itu tak mungkin terjadi.

__ADS_1


💕💕💕💕💕


Dia melipat kedua tangannya di depan dada. Duduk bersandar dengan punggung yang menempel kursi cafe. Mata elangnya menatap tajam kepadaku, membuatku gugup juga semakin tidak bisa berkutik.


"Seratus juta," ucapku akhirnya.


"Ok, tidak masalah," jawabnya sambil tersenyum.


"Eh, enggak, dua ratus juta," ucapku lagi. Berharap ia berhenti memaksaku meneruskan sandiwaranya nanti. Aku akan meminta harga tinggi, dengan begitu dia akan menyerah dengan sendirinya.


Dia menarik kursi. Merubah posisi duduk semakin ke depan. Kemudian melipat kedua tangannya di atas meja. Ekspresinya tak berubah, justeru ia semakin tersenyum. Adakah kalimatku yang salah? Kenapa dia justeru tersenyum bukannya terkejut.


"Sudah kubilang, berapapun fee yang kamu minta bakal aku kasih," ucapnya santai.


Ya Allah, dia benar-benar keras kepala.


💕💕💕💕💕


"Orang tua Nay, udah lama meninggalnya?" Tanyanya saat kami berada di meja makan bersama.


"Ibu meninggal empat tahun yang lalu, kalau Bapak baru ada setahun ini," jawabku getir. Sedih sekali saat harus kembali mengingat mereka.


Perempuan itu lalu meraih jemariku. Mengusap lembut punggung tangan milikku. "Nanti, tinggal di sini, yah?" Ucapnya kemudian. Hatiku merasa terharu, tapi juga ada rasa sedih yang ikut mendera.


"Ehm!" Mas Devan mendehem keras. Membuatku mengangkat pandangan ke arahnya. Kulihat Mas Devan dan mamahnya saling pandang. Entahlah, aku merasa ada hal yang tidak ku ketahui, dan sengaja di sembunyikan.


💕💕💕💕💕


Kembali aku disini. Di rumah megah milik Mas Devan. Berkali aku berusaha menolak, tetap saja, dia selalu berhasil memaksaku. Mamahnya juga suka memaksa, nyaris setiap hari memintaku datang kerumahnya.


Dia sudah menganggapku seperti putrinya sendiri. Dan itu membuatku semakin tidak nyaman. Juga sangat bersalah padanya.

__ADS_1


"Assalamualaykum," terdengar salam dari arah pintu. Seorang perempuan dengan anak kecil dalam gendongan masuk ke dalam rumah.


"Wa alaykumussalam warahmatullah," jawabku bersamaan dengan mamah Mas Devan.


Perempuan yang kutaksir usianya di atasku itu memeluk erat Mamah Mas Devan. Kemudian terlihat jelas bulir bening melesat dari kedua bola matanya. Untuk sesaat, aku merasa sedikit terabaikan. Menikmati kedua perempuan itu, yang entahlah, seperti ada sesuatu.


"Ini calon isterinya Devan," dikenalkannya aku pada perempuan itu. Dia menatapku lama, kemudian tersenyum ramah. Ia berlesung pipi, manis sekali.


"Rani," ucapnya sambil menyalamiku. Eh, apa? Rani? Dia gadis yang di sebut Mas Devan kala itu bukan?


"Nay," panggil mamah Mas Devan sambil menepuk lembut lenganku.


"Eh iyah, Nayla," jawabku meraih jabatan tangannya.


Jadi, gadis yang membuat Mas Devan sampai tak sadarkan diri itu adalah Iparnya? Ya Allah, ternyata serumit itu kisah cintanya.


💕💕💕💕💕


"Jadi, dia, Rani yang dulu Mas Devan sebut?" Tanyaku setengah berbisik.


Mas Devan menoleh gelagapan. Aku memergokinya tengah memandang Mbak Rani dari kejauhan. Posisi Mbak Rani di ruang keluarga, duduk santai bersama anak juga suaminya. Sedangkan Mas Devan mengintip dari balik lemari penghalang ruangan.


Ia terkesiap, lalu menarik tanganku bersembunyi di belakang lemari.


"Ssst! Kamu ngomong apa?" Tanyanya dengan salah tingkah.


"Kamu jangan mikir aneh-aneh!" Serunya kemudian. Aku tersenyum menggoda. "Bisa gawat kalo aku kasih tau sama Mamah Mas Devan," ujarku hendak berlalu pergi menemui mamahnya. Tapi kemudian tarikan keras kebelakang membuatku tanpa sengaja terpental, hingga menghantam tubuh lelaki di belakangku ini. Ia lalu mendekatkan mukanya, memandang lekat ke arahku. Seolah tak ada jarak, bisa kurasakan hembusan nafasnya menderu. Tangannya meraih punggungku. Kemudian menariknya lebih dekat, jantungku semakin berdebar liar. "jangan macam-macam," ucapnya dengan pandangan yang menatap tajam.


"Devan!" Terdengar suara mamah Mas Devan mengagetkan kami. Aku terhentak, berbagai ketakutan tergambar di wajah kami. Taku jika mamah Mas Devan marah padaku.


"Kalian mesum yah?"

__ADS_1


💕💕💕💕💕


__ADS_2