Kepingan Hati

Kepingan Hati
End


__ADS_3

Melangkahkan kaki dengan ringan ke dalam rumah. Sepenggal kisah kubawa pulang bersama. Ini tentang jalan hidup yang berliku. Juga godaan yang tiba-tiba saja datang.


Kadang kesempatan baik itu hadir, hanya saja kita tak mencoba memanfaatkan. Bisa jadi apa yang kita inginkan memang bukan sesuatu yang baik untuk kita. Dan bisa jadi apa yang tak kita suka, justru menjadi baik bagi kita kedepannya.


Kalian tahu, perjuanganku demi bisa mendapatkan Rani? Saat itu aku memang bocah petakilan. Banyak tingkah. Masih bau kencur juga belum siap menjalani rumah tangga. Dan cara Allah memisahkan kami, sungguh di luar dugaku.


Termasuk saat aku sama sekali tak menginginkan Nayla. Gadis itu, rupanya kini menjadi ibu dari anak-anakku. Bersyukur? Tentu saja. Aku sangat bahagia.


Dan kalian tahu, betapa netizen seperti kalian sangat berharga bagiku? Menemani setiap prosesku dari pemuda yang tak mengerti apa-apa hingga kini menjadi Bapak beranak satu. Sungguh luar biasa rasanya. Terima kasih sudah hadir dalam setiap kisahku.


Aku menarik napas pelan. Mengembuskannya dengan cepat. Kuraih gagang daun pintu, membuka perlahan.


"Duaaaaaaaarrrrrrr!!!"


"Kejutaaaaaaannnnn!!!"


Aku terhenyak. Nyaris jatuh terjerembab ke belakang. Kupandangi semua orang yang di dalam. Aku terkejut. Semua keluarga besar Mamah yang di Bandung berkumpul di sini.


Ada apa?


Kenapa ada pesta kejutan untukku?


Tiba-tiba Nayla berlari dan memeluk erat tubuhku. Hey, ada apa? Ini di tempat umum? Istriku ini kenapa?


Ia menangis sesenggukan. Kulihat semua yang di dalam menatapku sambil tersenyum penuh arti.


"Aku hamil ... Mas." Nayla mendongak. Kedua matanya berbinar saat ia bicara begitu.


Eh, apa? Aku mau punya anak lagi? Hadziq bahkan masih sangat kecil.


"Mas nggak suka?" Nayla cemberut.


Astaghfirullah! Bisa-bisanya ia berpikir aku seperti itu. Senang sih, hanya terkejut saja.

__ADS_1


Kulepas dekapannya. "Seneng banget," ucapku sambil tersenyum.


"Ciyeee Hadziq mau punya adik."


"Ciyeee!"


"Ciyeeee!"


Aku tersenyum menanggapi semua. Rasanya ini seperti mimpi saja.


Iya.


Ini seperti ....


"A! Punten A!"


Sebuah tepukan mengejutkanku.


"Astaghfirullah!" Kuusap kasar muka sendiri. Rupanya aku sedang bermimpi. Tapi, kenapa hangat dekapan Nayla masih bisa kurasakan.


Aku menoleh. Benar sekali. Saat ini aku sudah di depan rumah rupanya.


"Terima kasih." Kuserahkan beberapa lembar uang untuk membayar ongkos. Tadi sepulang dari rumah almarhumah Teh Euis, aku memesan mobil online. Tak menyangka jika di jalan ketiduran. Dan bermimpi Nayla hamil lagi.


***


Rumah tampak sepi. Kata Mang Karyo--satpam rumah, Mama dan Nayla sedang pergi. Termasuk Hadziq pun dibawa bersama mereka. Padahal aku sudah sangat rindu.


Aku berjalan menuju ke dalam rumah. Sengaja memegang kunci cadangan. Jadi, tak kesulitan bagiku untuk masuk.


"Kejutaaaannnnn!!"


Ya Tuhan!

__ADS_1


Kenapa seperti Dejavu?


Kulihat Mama, Nayla dan Hadziq menunggu di ruang tamu. Bagaimana bisa mimpiku menjadi nyata?


Kucubit pipi sendiri. Menepuk-nepuk dahi untuk memastikan.


Rupanya benar ini bukan mimpi.


Mereka sengaja memberi kejutan. Padahal harusnya aku yang memberi. Bukankah mereka tidak tahu kalau aku pulang? Atau, jangan-jangan netizen yang ngasih tau kalau aku bakal pulang?


Aish! Kalian memang tak bisa diajak kompromi.


Kusalami Mama lebih dulu. Baru menggendong putra kesayangku sambil menciuminya bertubi-tubi.


Ayah sangat rindu, Nak.


Kalau sama Mamanya, nantilah. Pas para netizen sudah nggak baca aja. Biar bisa bebas mau ngapain aja.


Awas ga boleh protes!


Ya, pada akhirnya memang inilah tempat tujuanku. Tempat kembaliku. Berkumpul bersama keluarga menikmati hari-hari bersama.


Sayangi mereka yang ada bersama kita. Hargai pasangan hidup. Jaga ikatan suci pernikahan. Jangan biarkan ia terkoyak meski hanya sedikit saja.


Jangan terpancing orang ketiga. Percayalah, perselingkuhan terjadi karena adanya kesempatan. Makanya. jangan pernah beri ruang untuk itu.


Belajarlah dari mereka yang telah banyak berjuang. Melawan kerasnya hidup. Terima kasih sudah bersedia menemani kisahku.


Kisah ini cukup sampai di sini saja ya.


Selanjutnya, bisa hubungi authornya.


Sekian dan semoga kita hidup berbahagia. Bersama pasangan sedunia dan sesurga. Aamiin.

__ADS_1


End.


__ADS_2