
Pov Devan
Sudah hari kedua. Lusa aku harus segera kembali ke Bandung. Tidak habis fikir dengan paman Nayla. Bisa-bisanya menuduhku sudah meniduri keponakannya itu.
Aku juga tidak bisa terus berlama-lama meninggalkan pekerjaan. You know lah, kudu tetep bisa profesional. Bagas terlalu banyak memberiku kelonggaran. Disatu sisi aku bersyukur. Disisi yang lain, aku merasa terbebani. Seperti bekerja dengan se enaknya sendiri.
Eryn juga nggak ada kapok-kapoknya. Sudah kublokir padahal nomornya. Tetap saja dia menghubungiku dengan nomor baru. Mengirimkan foto dan video tak senonoh itu. Arrrgghh! Dasar Kunti!
💕💕💕💕💕
"Saya harus bagaimana lagi meyakinkan Paman. Kalau kami memang tidak pernah melakukan perbuatan itu," jelasku mencoba bernegosiasi.
"Kami disini menjaga nama baik keluarga. Mengertilah," ujarnya sambil menatap tajam. Seolah aku orang yang bersalah dalam hal ini.
"Apa Paman mau kami kembali ke Bandung dengan tanpa ikatan yang sah? Jika kelak kami berzinah, tentu Paman ikut andil di dalamnya karena enggan menikahkan kami," paparku lagi.
"Kalau ternyata kalian sudah berzinah, tentu Paman juga yang bersalah karena menikahkan kalian!" tegasnya.
Emosiku nyaris saja terpancing. Kalau saja bisa kami menggunakan wali hakim, pasti kami melakukannya. Setidaknya kami sudah berusaha menjelaskan pada Paman Nayla. Hanya saja, sepertinya dia memang keras kepala. Tak mau mendengarkan meski berkali diberi penjelasan.
"Maaf, tapi kami bukan pasangan yang seperti itu." Aku menatap lurus, mengisyaratkan melalui pandagan mata bahwa aku lelaki baik-baik. Sambil tetap berusaha tenang di depannya. Kulihat Paman Nayla menghembus nafas berat.
"Kalian, besok pagi segera pergilah dari rumah ini. Aku akan menikahkan kalian, tapi, jangan ada yang tau tentang hal ini," ucapnya kemudian berdiri.
"Saksi kalian, cukuplah tetangga kiri dan kanan yang ku undang kerumah," tambahnya lagi.
💕💕💕💕💕
Bagi setiap pasangan pengantin. Acara akad nikah yang sakral, pastilah di tunggu-tunggu dan di nanti dengan perasaan berdebar.
Baju pengantin. Riasan, dekorasi bunga-bunga juga iringan selalu memberi kesan yang khas dalam setiap pernikahan.
Tapi, moment indah itu sama sekali tak berlaku disini.
Tak ada tuxedo, tak ada gaun. Pakaian biasa seperti keseharian lainnya. Tak ada riasan juga tanpa jamuan.
__ADS_1
Setelah semua hadir. Di ruang tamu yang tertutup milik Paman Nayla. Dengan jumlah saksi serta mahar yang disediakan. Menjadi tanda, bahwa prosesi akan segera dilaksanakan.
"Saya terima nikah dan kawinnya Nayla Lisana Sidqin dengan mas kawin seperangkat alat shalat dibayar tunai!"
"Sah!"
"Sah!"
"Barakallaulaka wa barraka alayka wa jamaah bayna kuma fii khayr ..."
Rasa haru dan bahagia menyelimuti perasaan Devan. Penantian selama ini, kini terbayar sudah dengan ijab qobul yang sah. Dilihatnya sang mamah dari layar gawai. Tersedu memandangi putranya yang kini resmi menjadi seorang suami. Hanya lewat videocall bisa menyaksikan. Ditemani Rani juga mas Rahman.
Sedangkan di balik tirai kamar. Nayla menangis tersedu, tak menyangka jika pemuda itu benar-benar menunjukkan keseriusannya. Dan kini, telah resmi menyandang status sebagai suaminya.
💕💕💕💕💕
"Assalamualaykum isteriku," sapa Devan saat masuk bilik kamar.
Di dapatinya pengantinnya itu tersipu malu. Sambil terus merunduk memainkan jemari tangannya sendiri. "Wa alaykumussalam warahmatullah wabarakatuh," sahutnya pelan.
Ia lalu duduk di samping Nayla. Di atas ranjang kayu, yang hanya beralaskan anyaman tikar.
"Kenapa menangis?" tanya Devan.
"Maaf, Mas. Pernikahan kita seperti ini," lirih Nayla bersuara.
"Aku nggak pernah masalahin itu," bisik Devan pelan.
"Sayang," tambahnya lagi sambil mengecup pipi Nayla.
Membuat bulu kuduk gadis itu seketika meremang.
Muka Nayla mendadak panas. Dalam sekejap saja kedua pipinya sudah bersemu merah, membuat Devan menjadi gemas.
Diciumnya kening gadis yang telah sah menjadi istrinya itu. Begitu dalam, juga sangat pelan. Kini, ia yang menjadi tanggung jawab Devan kedepan.
__ADS_1
Bulir hangat kembali meluncur dari kedua kelopak mata Nayla yang bening. Ia sungguh sangat bahagia saat ini. Tak mampu lagi berkata apa-apa.
"Aku, selalu ingin melakukan sesuatu," ucap Devan pelan. Sambil mengamati manik coklat milik Nayla. Juga menahan deguban di dalam dadanya yang semakin tidak teratur.
"Apa, Mas?" tanya Nayla bingung. Apa Mas Devan mau makan? haus? atau apa? batin Nayla menerka.
"Diam," lirih Devan sambil perlahan mendekatkan mukanya.
Jantung Nayla berdetak sangat kencang. Hembusan nafas Devan begitu terasa menerpa kulit mukanya. Ia mendadak gugup.
"Jangan bergerak," ujar Devan semakin dekat.
Sedetik
Dua detik
Cup!
Bibir merah tanpa lipstik itu tampak semakin merekah. Perlahan Devan menelusuri. menyapu setiap inci yang ada. Kedua matanya terpejam disusul nafas yang beradu dengan debaran liar di dalam hati yang memburu.
"Mas!" Dilepasnya pagutan yang nyaris membuatnya tenggelam.
"Kenapa?" tanya Devan terkejut.
"Maaf, tapi," Nayla gusar.
"Kenapa? Takut emak-emak reader ngintip?"
"Enggak!"
"Terus apa? Takut di cut authornya?"
"Enggak juga sih."
"Terus?"
__ADS_1
"Emm, kita harus berkemas."
💕💕💕💕💕