Kepingan Hati

Kepingan Hati
Tak Sengaja


__ADS_3

Sore beranjak pergi. Senja mulai menampakkan semburat jingganya di kaki langit. Devan sedang tercenung memandangi kawanan burung yang tengah beterbangan. Rasanya, ia sudah sangat rindu dengan keluarganya di Bandung. Padahal, belum ada satu hari ia menapakkan kaki di tanah kota Surabaya.


Rani telah masuk ke dalam ruang inap Rahman. Seperti semua bercampur menjadi satu, rasa dalam hatinya terkadang mulai bertingkah.


Keadaan macam apa ini?


Kenapa menjadi seperti ini?


Bagaimana mungkin hubungan aneh seperti ini bisa tercipta?


Batinnya memberontak sendiri. Hingga ia tak sadar, jika Devan telah berada di dalam ruangan.


"Rani," panggil Devan pelan. Suaranya yang sedikit ngebas membuat Rani terhenyak.


"Eh, iya?" Rani menoleh. Menghadap ke arah sumber suara. Devan tengah memperhatikannya. Kedua pandangan mereka bertemu. Kembali terkunci, memandangi paras satu sama lain. Keduanya masih menyembunyikan rasa yang sama.


"Pulanglah, kasihan Cinta di rumah sendirian." Devan mengalihkan pandang. Tak sanggup memandang Rani lebih lama. Desir halus dalam hatinya masih ada. Tak berubah sedikitpun. Hingga kalimatnya teucap tanpa pertimbangan. Bagaimana mungkin Cinta sendirian di rumah. Pertanyaan Devan aneh-aneh saja.


Rani mengembus napas pelan. Untuk sesaat tadi, ia sempat terbawa perasaan.


Ingat! Devan adik Mas Rahman!


Ingat Rani!

__ADS_1


Istighfar!


"Astaghfirullah," lirih Rani berucap. Kembali ia menghadap ke arah suaminya yang masih terbaring lemah. Bagaimana bisa ia berpikir seperti itu? Batinnya lagi.


"Kenapa?" tanya Devan sambil menarik kursi di samping Rani. Duduk bersebelahan. Lelaki itu mencoba bersikap biasa saja.


"Nggak papa, Inshaa Allah Cinta baik-baik aja. Dia ada sama Bibi." Rani menolak pulang. Ia ingin memastikan keadaan Rahman saja. Mengingat suaminya itu sampai saat ini masih belum sadar.


"Rani, pulanglah. Jangan keras kepala. Gantian, aku yang jaga di sini." Devan kembali membujuk.


"Enggak, Van." Masih menolak.


"Pulang!" Devan memaksa. Suaranya sedikit membentak. Bukan apa-apa. Ada juga tanggung jawab Rani di rumah. Cinta.


"Van, mengertilah." Rani menoleh.


Rani mengernyit bingung. Di lihatnya kedua mata Devan yang tampak memerah. Tak hanya itu, bahkan tampak juga kaca-kaca di kelopak matanya.


"Kamu ... kenapa?" tanya Rani patah-patah.


Canggung. Kedua pandangan yang beberapa menit tadi bertemu, kini harus bertemu lagi dan lagi. Menciptakan letupan-letupan dalam dada dan hati keduanya.


Devan membuang muka. Ia kemudian mengucap, "Kelilipan."

__ADS_1


"Oh."


***


Waktu memang berlalu. Tapi ada satu masa, tentang sebuah kenangan yang tak mampu terhapus meski berulang kali berusaha mencoba. Seolah terjebak dalam dimensi yang berbeda. Baik Rani maupun Devan, sadar diri bahwa keinginan hati tak perlu di turuti. Meski permintaannya hanya satu kata. Bersama.


Sesuatu yang tak mungkin dan tentu selamanya tak akan menjadi mungkin. Kadang ada satu ikatan yang tercipta, walau sang pemilik tak menghendakinya.


Seperti ikatan Devan dengan Rahman.


Ikatan Rani dengan Devan. Yang berputar satu sama lain. Namun masih menyimpan rasa dalam diam.


Membiarkannya bertingkah sendiri. Menahan gejolak dalam hati setiap saat pandangan saling mengunci. Masa lalu tak selamanya bisa terkubur. Meski itu pahit, keduanya mulai membiasakan diri.


Rani telah terlelap dalam tidurnya. Ia masih saja keras kepala, tak mau pulang kerumah seperti kata Devan tadi. Rani tak tega meninggalkan suaminya.


Ibu satu anak itu sangat kelelahan. Sejak ada Devan, ia menjadi sedikit tenang. Setidaknya ada saat dimana mereka bisa bergantian menunggui Mas Rahman.


Seperti kembali terulang. Devan merunduk. Menghampiri Rani yang tengah terlelap dalam tidurnya. Dipandanginya dengan seksama wajah Istri kakak tirinya itu. Ada rindu yang tak mampu tersampaikan.


Devan menarik selimut sedikit ke atas. Berharap agar Rani tak kedinginan sebab tidur di bawah bangsal Mas Rahman. Saat ia sedang merapikan selimut yang membingkai badan Rani. Tanpa sengaja kelingkingnya menyentuh lembut pipi bersih Rani. Sekejap saja, desiran itu kembali singgah. Terlebih saat tiba-tiba Rani membuka kedua matanya.


***

__ADS_1


Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1441 H.


Mohon Maaf Lahir Dan Batin 🙏🙏🙏


__ADS_2