
Hari ini Bastian dan Evelin melakukan pertemuan dengan klient yang menginginkan Evelin bekerja sama dengan mereka itu.
Bastian dan Evelin hadir lebih awal dari perjanjian tersebut. Namun ternyata di sana sudah ada dua wakil anggota perusahaan tersebut.
" Helo i'm Bastian, and this my partner Evelin. Bastian memperkenalkan diri.
" Hello, I'm James. And this is Joana my secretary ." jawab James
" Are you from Indonesia? " tanya Joana pada Evelin.
" Yes. " jawab Evelin
" Ibu saya dari Indonesia. Maaf dengan sangat menyesal kami memberitahukan Jika presdir tidak bisa hadir sendiri, Karena ada kepentingan yang mendesak. " kata Joana
" Tidak apa apa. " jawab Evelin dengan tersenyum.
" Di sini saya hanya membawa dokumen perjanjian, point point kesepakatan. Jika anda menyetujuinya silahkan bubuhkan tanda tangan disini. " kata Joana mengarahkan.
Disana tertulis perjanjian dengan bahasa inggris. Evelin kaget jika melanggar kontrak hatus membayar pinalti sepuluh kali lipat. Sedangkan dua kali lipat saja Evelin belum tentu bisa membayar. Evelin pun membisikan sesuatu pada Bastian.
" Kak lihatlah pinalti yang harus ku bayar, jika kontrak ini di hentikan." kata Evelin ragu
" Tapi mereka juga berani membayar tiga kali lipat dari yang kita ajukan Eve, lihatlah. Ini bisa untuk membiayai biaya kelahiran anakmu sampai besar. yang jelas kita akan bisa mengembangkan lagi usaha kita, untuk anak cabang misalnya. " kata Bastian.
Evelin diam sejenak menimang perkataan Bastian.
" Bukankah pinalty itu hanya berlaku jika kita memutuskan kontrak, sedangkan perjanjian mereka, sanggup menunggu kinerjamu sampai batas yang kamu mau. Jadi jika mereka tidak sanggup menunggu lagi, mereka yang memutuskan kontrak itu, kita tidak akan membayarnya bukan? Tapi jika kamu keberatan, kamu bisa mengagalkan ini semua, sebelum terlambat. Apapun keputusanmu, aku akan selalu mendukungmu. " kata Bastian tersenyum dan menyelipkan rambut Evelin yang terurai kedepan kebelakang.
__ADS_1
Melihat pemandangan itu, seseorang yang duduk di samping mereka agak jauh memecahkan gelas dan pergi begitu saja, namun disana ada temannya yang membereskan dan mengganti rugi semua. hingga tak terjadi keributan.
Evelin dan Bastian sempat terkaget dengan pemandangan itu. Lalu mereka mencoba fokus kembali membaca isi perjanjian tersebut.
Walaupun dengan hati yang masih mengganjal, namun Evelin menerima penawaran tersebut dan menanda tanganinya.
" Baiklah. Besok anda sudah bisa memulai proyek ini. Presdir kami yang akan menangani proyek ini langsung. Anda bisa datang ke kantor kami terlebih dahulu, untuk merundingkan dengan presdir kami. " kata Joana, karena James masih sulit berbahasa indonesia, hanya saja dia mengerti arti bahasa itu.
Kedua belah pihak itu sudah sepakat dan saling berjabat tangan tanda kerja sama di mulai. Setelah penanda tangan itu Evelin dan Bastian pun pamit undur diri.
Dalam perjalanan Evelin masih mencari kejanggalan dari isi perjanjian itu. Kenapa mereka malah membayar tiga kali lipat dari biaya yang mereka anggarkan. Padahal, jika dengan perusahaan lain akan ada penawaran terlebih dahulu. Baru menuai kesepakatan. Tapi ini justru melipat gandakan.
" Sudahlah, semua akan baik baik saja. Kamu pasti bisa. Aku akan selalu di sampingmu untuk membantu. " kata Bastian.
Mereka pun melajukan mobilnya menuju kantornya, mereka akan merayakan keberhasilan proyek ini di kantor. Karena kerja sama ini adalah yang paling istimewa. Mereka mendapat keuntungan tiga kali lipat dari yang di hitungkan.
Pesta perayaan itu pun di gelar sederhana namun sangat meriah. Di kantor itu tercipta kehangatan, seperti sebuah keluarga. Yang saling membantu dalam bekerja, tanpa ada rasa iri atau cari muka untuk naik jabatan.
Evelin diantarkan langsung oleh receptionis lewat lift khusus CEO menuju ruangan Presdir.
" Please come in miss, my ceo will come in moment " kata receptionis itu membungkuk kan badan lalu pergi meninggalkan
" Yes. Thank you. " jawab Evelin lalu masuk kedalam.
Evelin mengagumi tata letak ruang presdir itu, sangat Elegant.
" Mungkin ini akan memudahkan ku dalam mengatur proyek ini. Karena selera kita sedikit sama " batin Evelin yang terus meneliti semua pernak pernik yang ada di ruangan tersebut. Sampai dia tidak menyadari Presdir itu sudah memasuki ruangan dan mengunci pintu ruangan tersebut.
__ADS_1
Ruangan itu ada satu kursi kebesaran presdir dan sebuah sofa yang berada di dekat pintu masuk. Ada satu ruangan khusus, yang dalam pemikiran Evelin ada kamar istirahat yang ada sebuah kamar mandi di dalamnya. Evelin pun menelisik masuk, untuk mengetahui susunan seperti apa yang ada di dalam. Karena dia bertangung jawab sebagai desain interior. Oleh karena itu, yang dalam pemikirannya hanya selera seperti apa yang di sukai presdir ini.
" Tempat yang nyaman dan elegant. Tapi untuk tata letak kamar ini aku rasa pandangan kami berbeda. Terlalu banyak lemari di sini, sehingga terkesan sangat sempit jika ingin beristirahat sejenak. Kurasa akan sedikit nyaman jika Lemari ini hanya sebagian di sini. Apa di dalamnya ada isinya semua. " gumam Evelin sendiri. Yang sebenarnya di dengar presdir itu.
Evelin pun membuka lemari pakaian, sepatu, handuk, bathrope.
" Lengkap sekali, bahkan pakaian wanita pun ada, atau jangan jangan presdir ini maniak wanita. " gumam Evelin lagi
Tiba tiba Evelin di kejutkan oleh kedua lengan yang memeluk tubuhnya dari belakang.
Pikiran aneh muncul di benak Evelin, dia mulai ketakutan, karena di dalam lemari ada pakaian wanita. Apa jangan jangan dia pun akan menjadi sasaranya.
Dapat di rasakan getaran jantung Evelin yang berdegup sangat kencang.
Evelin menarik nafas dalam seakan mempersiapkan tenaga. Di injak sepatu Orang itu dan dia mengigit lengan kokoh itu. Namun orang itu seolah sudah tau taktiknya dan bergeming.
Orang itu justru menaruh kepalanya di pundak Evelin dengan tenang. Dan semakin dieratkan pelukannya namun tanpa menekan perut Evelin, seolah dia tahu jika Evelin sedang mengandung.
Evelin diam mematung. Karena dia bisa menebak aroma parfum yang digunakan laki laki ini, tanpa melihat wajahnya pun.
" Kenapa diam? bukankah kamu berusaha memberontak tadi. Bukankah kamu wanita yang kuat, sanggup membesarkan anak seorang diri, tanpa tanya persetujuan suamimu. " kata Mahez yang masih menyandarkan kepalanya di pundak Evelin. Sedang Evelin masih diam mematung tak bisa menjawab, dia berusaha menahan dadanya yang terasa sesak. Antara dia bahagia bertemu dengan orang yang sangat di cintainya, atau takut karena bisa mengancam keselamatan bayi dalam kandunganya.
" Aku bisa melaporkan mu ke polisi Eve, karena sudah membawa kabur anak ku, karena ini bisa di sebut penculikan. " kata Mahez lagi
Evelin masih diam mematung tanpa menjawab atau pun bergerak. Membiarkan Mahez menciumi leher jenjangnya.
Di balik tubuh Evelin menghadapnya, Evelin dapat melihat ketampanan suaminya. Karena Mahez sudah mempersiapkan diri untuk bertemu dengan sandaran hatinya.
__ADS_1
Evelin hanya bisa meneteskan airmata, tanpa berani menatap manik mata Mahez yang menelisik meminta sebuah jawaban.