
Sepanjang perjalanan di mobil, Mahez hanya diam melamun. Pikirannya di penuhi dengan wajah Evelin yang menantinya.
" Sayang, bukan kah kamu berjanji akan membawaku ke suatu tempat? " tanya Evelin.
" hmmt " jawab Mahez
" Kemana? " tanya Nura yang tak puas dengan jawaban Mahez.
" Ke galery pameran Swarovski, bulan ini mereka meluncurkan kalung berlian terbaru " jawab Mahez tersenyum kecut melihat Nura.
Nura sangat bahagia memeluk Mahez dengan erat.
" Terima kasih sayang " kata Nura semangat.
Keduanya tenggelam dengan pikiran masing masing.
Sesampainya di galery, keduanya masuk dengan sambutan dari presdir langsung. Staf mereka membimbing keduanya memperlihatkan dan menerangkan kwalitas produk baru mereka.
" Pilihlah mana yang kamu suka, aku akan membelikanya " kata Mahez
" Benarkah, bagaimana jika tidak hanya satu yang aku pilih " kata Nura manja dan menggoda.
" Aku akan membeli semuanya jika kamu menginginkanya " kata Mahez
" Terima kasih sayang " jawab Nura dengan memeluk Mahez sangat erat.
Nura melihat lihat dan mendengar apa yang di terangkan staff yang mendampinginya. Setelah mendapatkan barang yang di inginkan Mahez membawa ke sebuah bergengsi di kota itu. Mahez menyuruh Nura untuk memilih semua yang diinginkan.
" Kenapa tidak dari dulu kamu seperti ini Mahez, mungkin aku tidak perlu menyeret Evelin ke hidup kita " batin Nura
Sejenak Nura teringat Evelin. Dia berencana akan membuat sakit hati Evelin.
" Inilah saatnya kamu merasakan kesakitan yang mendalam. Dan aku akan membuatmu pergi sendiri dari kehidupan kami Evelin. " batin Nura sambil tersenyum.
" Apa yang kamu pikirkan Nura? " tanya Mahez
" Aku sedang memikirkan kita sayang, hari ini sangat membuatku bahagia " kata Nura.
" Nura boleh aku bertanya padamu? " tanya Mahez saat mereka sedang duduk menunggu makanan yang di pesan. Karena sekarang mereka sedang menikmati makan malam yang sangat mewah di restoran ternama. Seharian ini Mahez selalu di samping Nura dan mengabaikan panggilan Evelin.
" Tanya apa sayang? aku akan menjawab dari hatiku yang paling dalam. " jawab Nura mantap. Karena dalam angan angan Nura, Mahez akan mengungkapkan isi hatinya dan ingin menyuruhnya mendampingi seumur hidupnya.
" Apa kamu akan tetap mencintaiku, jika aku jatuh miskin? " tanya Mahez serius
__ADS_1
" Kamu ini bicara apa sayang? apa hanya karena kamu membelanjakanku, kamu berpikir akan bangkrut? " kata Nura
Mahez tersenyum dengan jawaban Nura.
" Aku hanya ingin memastikan, jika kamu akan selalu menemaniku saat aku dalam kehancuran kelak " kata Mahez dingin
" Sayang, kamu jangan mikir yang aneh aneh deh. Kamu tidak bekerja setahun pun, tidak akan membuatmu miskin. " kata Nura
" Hmmt.." jawab Mahez
Setelah makan malam, keduanya beranjak pergi. Mahez melihat pesan dari Evelin yang menanyakan keadaannya, tapi di abaikan. Tak berapa lama Ponselnya pun ikut berbunyi, Evelin yang memanggil. Namun panggilan itu pun di rijek. Dia tidak ingin membuat suasana hati Nura memanas, dan mengungkit masalah perjanjian lagi.
Nura sangat bahagia, saat Mahez menolak panggilan Evelin.
" Aku percaya rencanaku akan mulus seperti di awal " batin Nura.
Mereka menghabiskan malam di Resort mewah, yang menyuguhkan pemandangan pantai yang indah.
Nura dan Mahez menghabiskan waktu di tepi pantai hingga pukul sebelas malam. Mahez mengajak Nura masuk ke dalam karena hawa dingin semakin menyeruak.
" Istirahatlah, aku masih akan menyelesaikan pekerjaanku yang tertunda. " kata Mahez sambil melihat Aldo yang berada di luar ruangan dengan notebook di pangkuanya.
" Baiklah. " kata Nura dengan mencium kedua pipi Mahez.
Hari ini Nura berbelanja sangat banyak, mulai dari tas, pakaian, sepatu, perhiasan yang serba branded.
Nura berencana akan menunjukan semua barang barang itu pada Evelin besok, dan akan memberitahukan yang sebenarnya. Apa alasan Nura menyuruh Evelin menikah dengan Mahez.
Dengan begitu Nura nyakin, jika Evelin akan meninggalkan Mahez dengan sendirinya dan juga menelan rasa sakit hati yang mendalam.
Mahez menghampiri Aldo yang sibuk mengerjakan laporan pekerjaan.
" Aldo " kata Mahez
" Iya Tuan " jawab Aldo menghentikan pekerjaannya dan melihat Tuannya
" Apakah kamu pernah menyalurkan hasrat dengan orang yang tidak kamu cintai " kata Mahez dingin. Karena entah mengapa Mahez tidak bisa memiliki hasrat pada wanita lain, bahkan pada Nura sekalipun, setelah dia mendapatkan Evelin seutuhnya.
Aldo menatap Tuannya sejenak. Mencerna ucapan Mahez, baru dia mengerti maksut ucapan Tuannya.
" Maaf Tuan, saya tidak pernah dekat dengan wanita selain ibu dan adik saya " jawab Aldo jujur.
" Apa perlu saya bertanya, pada teman saya yang mengerti Tuan " kata Aldo
__ADS_1
" Tidak perlu " jawab Mahez.
Mahez sangat mengerti Aldo. Karena apa yang di katakan benar adanya. Aldo mengabdikan dirinya pada Mahez, karena rasa terima kasihnya. Mahez sudah membantu memperjuangkan pengobatan ibunya untuk sembuh. Walaupun Tuhan berkata lain, ibunya tak bisa diselamatkan. Dan juga Mahezlah yang menyekolahkan adik semata wayangnya di luar negeri sampai dia menyandang gelar doktor dan bekerja di rumah sakit ternama.
Tak sedikit para investor yang ingin menarik dirinya untuk bergabung kerjasama denganya. Namun dengan tegas Aldo menolak. Dia lebih memilih mengabdikan dirinya pada Mahez.
Itulah sebabnya, Mahez sangat mempercayai Mahez di setiap urusannya.
*
*
Evelin melihat ponselnya, berharap Mahez membalas pesannya, atau setidaknya menelpon kembali. Tapi nihil jangankan panggilan, pesan pun tak ia dapatkan.
" Kenapa harus selalu seperti ini Mahez. Kadang kamu memperlakukanku seperti ratu. Namun terkadang kamu mencapakanku seperti mainan yang tak berguna. " gumam Evelin
Terdengar bunyi panggilan dari ponselnya, Evelin bergegas mengangkat.
" Halo ... Mahez, kamu " kata Evelin terhenti saat suara di seberang menerangkan jika buka Mahez
" Maaf Nona, saya Aldo asisten pribadi Tuan Mahez. Jika anda membutuhkan sesuatu anda bisa menyuruh saya. " kata Aldo
" Apa Mahez yang menyuruhmu? " tanya Evelin
" Iya Nona." jawab Aldo
" Apa aku bisa berbicara dengan Mahez? " tanya Evelin
" Maaf Nona, Tuan sedang tidak bisa di ganggu " jawab Aldo
" Apa dia sedang bersama dengan Nura? " tanya Evelin
Tak ada jawaban, yang justru membuat hati Evelin nyakin jika Mahez sedang bersama Nura.
" Baiklah. aku tidak membutuhkan apa apa " jawab Evelin sambil memutuskan panggilan.
" Ternyata seperti ini sakitnya harus berbagi suami. Aku tahu kamu adil Mahez, tapi aku wanita biasa. Seharusnya aku sudah tahu sejak awal jika hatiku tak kan sanggup untuk di bagi " gumam Evelin dengan menangis.
Baru satu bulan menjalani rumah tangga, Evelin sudah goyah dalam mempertahankan cintanya. Dia baru menyadari, jika dirinya bukanlah wanita yang bisa berlapang dada menerima suaminya bersama wanita lain.
" Bahkan tak ada satu foto pernikahan pun yang di abadikan " kata Evelin di sela isak tangisnya.
__ADS_1