
Mirna tersentak saat keningnya di jitak oleh Mahez.
" Maaf Tuan, sumpah, suer saya tidak sedang melamunkan anda. " kata Mirna menunjukan dua jarinya
Sebenarnya Mahez ingin tertawa melihat kepolosan Mirna, namun ia tahan. Mahez tak ingin memberinya harapan atau sekedarkan menghayalkan dirinya, yang akan timbul salah paham lagi.
" Memang seharusnya kamu tak melamunkan aku. Karena kamu tak pantas menghayalkan aku. " ucap Mahez, sedang Mirna hanya bisa menelan ludah. ' Sungguh berbeda dengan saat bersama Evelyn ' pikir Mirna
" Kembalikan minyak ini pada tempatnya, dan besok jika bubur itu sudah matang kamu bisa membawa ke atas, karena Evelyn kelelahan, dia harus banyak istirahat. " kata Mahez yang sudah membayangkan akan membuat istrinya tak mampu berjalan besok.
Evelyn yang tak mau di gendong Mahez, pelan pelan berjalan ke atas, mengabaikan Mahez yang sedang memberi intruksi pada Mirna.
Karena takut ketahuan, jika Evelyn melanggar perintah Mahez, agar tetap di kursi. Ia sedikit berlari, agar tidak tertangkap Mahez nanti, ia malu jika harus di gendong, karena di sana masih ada Mirna dan tiga pengawal yang setia berjaga di sudut ruangan.
Namun karena kaki Evelyn licin, karena habis di urut oleh Mahez dengan minyak kelapa, ia tergelincir sebelum menaiki tangga kedua.
" Mahez....! " teriak Evelyn kesakitan, ia sudah terduduk di bawah, ia merasakan sakit yang amat sangat dari perutnya. Kemudian ia melihat kebawah ada darah segar mengalir di lantai.
" Eve.....! " teriak Mahez, dengan membuang minyak kelapa itu ke sembarang arah. Ia berlari menghampiri istrinya yang sudah menangis menahan sakit. Mahez sudah panik ia segera mengangkat istrinya, berlari keluar di ikuti ketiga pengawal dan Mirna.
" Ody....! " teriak pengawal agar membuka gerbang, sedang satu pengawal lagi menyiapkan mobil, untuk membawa majikannya ke rumah sakit.
" Sayang.... bertahanlah. " kata Mahez tak mampu menahan air mata juga, ia sungguh tak tega melihat Eve yang terlihat pucat memegang perutnya.
" Apa kamu tak bisa mengemudi, jalankan mobilnya lebih cepat ! " teriak Mahez sedikit berteriak.
Evelyn terlihat lemas dan pucat, ia sudah tidak sekuat tadi mencengkeram lengan suaminya.
__ADS_1
" Eve.... bertahanlah sayang. Eve...... Eve..... " teriak Mahez menepuk nepuk pipi Evelyn, karena saat ini Evelyn memejamkan matanya dan tubuhnya melemas.
" Cepat jalannya..... Jangan sampai terjadi sesuatu dengan Evelyn. Tuhan tolong kuatkan istri ku.... ! " teriak Mahez, ia sungguh benar benar takut melihat keadaan Evelyn yang terus mengeluarkan darah dan tak sadarkan diri.
Sampai di rumah sakit sudah ada yang menyambut kedatangan mereka karena satu pengawal lagi, dia berjaga di rumah namun dia melakukan reservasi untuk Tuan mereka.
Evelyn di dorong di bawa keruang darurat. Mahez ingin ikut masuk di dalam namun di larang.
" Saya suaminya, saya akan menemaninya. " ujar Mahez
" Maaf Tuan, sebaiknya anda di luar dan menunggu dokter kami melakukan penanganan. " kata perawat itu.
" Tapi saya harus di sampingnya " ucap Mahez kekeh.
" Jangan mengulur waktu Tuan, itu bisa membahayakan keduanya. Biarkan tim kami yang melaksanakan tugasnya. Silahkan tunggu di luar dan mereka akan menjalankan tugas secara profesional. " ujar Virza yang melihat Evelyn ketika di dorong.
" Tolong.... Selamatkan istri saya. " ucap Mahez untuk pertama kalinya dengan ucapan tolong.
Mahez melihat dari kaca jendela luar, tak terlihat ruangan dalam. ia berjalan mondar mandir lalu keluarlah seorang dokter dengan wajah pucat.
" Siapa yang bertanggung jawab dengan keadaan pasien. " ujar dokter itu
" Saya....! " jawab Mahez langsung mendekat. Di ikuti Virza yang juga di sana menemani Mahez, karena jam tugasnya sudah selesai.
" Maaf Tuan, istri anda sudah mengeluarkan banyak darah, ia harus segera di transfusi darah. Dan dengan terpaksa kami harus segera melakukan operasi sesar agar tidak membahayakan keduanya. " kata dokter itu menjelaskan
" Baiklah dokter, tapi tolong selamatkan istri saya. " ujar Mahez sudah dengan wajah yang tegang, ia tak menghiraukan kemejanya penuh dengan darah, dan wajah yang acak acakan.
__ADS_1
" Lakukan semaksimal mungkin, dia kerabat saya, dan istri yang mempunyai saham terbesar di rumah sakit ini. " ucap Virza menepuk lengan dokter itu
" Baiklah. "
" Segera buatkan pernyataan setuju operasi, agar segera di tanda tangani. " ucap dokter itu pada perawatnya, lalu masuk lagi ke ruang operasi.
Mahez bersandar di tembok, ia sungguh tak mengira akan menemui hal mengenaskan begini. Padahal baru setengah jam yang lalu mereka bercanda dan akan segera melakukan treatment sebelum tidur. Mahez membayangkan saat ia bertemu pertama dengan Evelyn, saat ia memperkosa paksa Evelyn, saat ia begitu frustasi di tinggalkan Evelyn. Mahez tak dapat membayangkan jika terjadi sesuatu pada Evelyn saat ini.
" Apa anda sudah mengabari orang tua Eve, Tuan ? tanya Virza
Mahez diam saja, karena sampai pada saat ini ia belum pernah berkomunikasi dengan orang tua Evelyn. Dan Evelyn pun janrang membahas orang tuannya.
Mahez menggelengkan kepalanya, ia tidak mampu berbicara lagi. Otaknya seakan sudah penuh dengan memory Evelyn.
Virza pergi menyingkir, entah dia sedang menghubungi orang tua Evelyn, atau bertanya pada orang, tentang orang tua Evelyn.
" Saya sudah mengabarkan pada Nihan agar memberitahu orang tua Evelyn. " ujar Virza
Mahez masih diam, ia bahkan lupa jika Nihan pasti tahu orang tua Eve.
Mahez masih berjalan mondar mandir dengan sesekali mengusap wajahnya. Anak buahnya berkali kali mengingatkan agar Mahez mengganti pakaian nya terlebih dahulu, namun ia hiraukan.
Satu jam berlangsung Mahez menunggu namun tak ada satu pun perawat atau dokter yang keluar, membuat pikiran Mahe semaki. kalut. Ia menyalahkan dirinya sendiri, kenapa hanya minyak kelapa saja ia kembalikan, kenapa tak ia taruh meja saja dan menggendong Evelyn naik. Namun sesekali ia juga menyalahkan Evelyn kenapa tak mendengarkan perintahnya dan memilih berjalan sendiri, Mahez mengacak acak rambutnya, dan sesekali ia menengok ke kaca jendela kamar operasi, walau sia sia karena tak terlihat, tertutup gorden rumah sakit.
" Tenangkan diri anda Tuan, dokter sedang berusaha. Aku nyakin semuanya baik baik saja Tuan. " ucap Virza
Mahez tetap bergeming. Ia bersandar di tembok lalu merosot ke bawah dan duduk jongkok. Ia masih tak percaya jika kondisi Evelyn akan separah ini.
__ADS_1
" Kenapa Tuhan.... kenapa tak kau siksa aku saja. Kenapa harus orang yang aku cintai, kenapa Tuhan ? " akhirnya Mahez yang tak sanggup membendung kesedihannya berucap.
Virza hanya mampu menatap iba dari kursi tunggu, ia tak berani lagi berbicara pada Mahez, ia takut justru membuat emosi Mahez naik.