
Setelah sampai mereka menuju Resort tersebut, dengan Evelyn yang masih di dorong oleh Mahez dengan setianya, sedang Evelyn hanya menunduk. Sungguh dia malu, seolah dirinya lumpuh tak bisa berjalan hingga harus duduk di kursi roda.
Mahez masih tak mengijinkan istrinya berjalan, mengangkatnya duduk di sofa.
" Bisa saja, kalau ada orang sok romantis, bentar lagi juga di tinggal menemui bini satu lagi. " oceh Nihan begitu saja.
Tanpa aba aba Aldo menarik Nihan keluar ruangan tersebut, dan memberi ruang pada Tuannya untuk berdua, karena sebentar lagi dia akan terbang ke Jakarta. Sedang Nihan berusaha melepas tangan Aldo yang mencekalnya
" Lepas..... Sakit." kata Nihan berusaha melepaskan tangannya.
" Apa orang tua mu tidak mendidikmu, untuk bisa bicara hormat pada orang lain. " bentak Aldo
" Jangan bawa bawa orang tua, untuk membela Tuanmu yang tak berhati itu. " kata Nihan tak kalah sadis
" Jaga bicaramu. " kata Aldo penuh penekanan, dia berusaha menahan amarah karena Nihan menjelekan Mahez
" Kamu yang jaga sikap. Kamu sendiri tak punya etika berbicara pada wanita. Apa ibumu tak mengajarimu. " tegas Nihan membalik kata.
" Ya kamu benar, ibuku lupa memberi tahuku, cara berbicara pada wanita. Karena ibuku sangat lembut tidak seperti dirimu seperti preman. " jawab Aldo
" Sekarang saja kamu bertanya, bagaimana cara memperingati wanita. " kata Nihan berjalan menjauh dari Aldo dengan memegang tangan yang baru saja di lepas oleh Aldo.
" Ibuku tak akan pernah memberi tahu, karena dia sudah meninggal. Jadi jangan pernah bawa bawa Ibuku untuk meninggikan egomu. " kata Aldo menunduk
Nihan berhenti berjalan. Dia sempat sedikit menyesal telah membahas ibunya yang sudah meninggal, namun dia kembali berjalan.
" Itu urusanmu, bukan urusanku. " kata Nihan keluar menuju halaman belakang yang ternyata menyuguhkan pemandangan danau yang sangat indah
Saat Aldo ingin menyusul, ia urungkan karena di sana sudah ada Sean yang duduk di kursi menatap danau. Ia memutuskan duduk di sofa sendiri, menatap dari kejauhan Nihan yang sedang bercanda dengan Sean entah apa yang mereka bicarakan, keduanya seperti terlibat adu mulut.
" Kamu memang suka sekali membuat onar. " gumam Aldo yang masih melihat Sean dan Nihan bertengkar.
__ADS_1
Berbeda dengan Aldo yang sendiri, Mahez duduk di samping Evelyn dan menciumnya,
" Eve, aku akan selalu merindukanmu. Apa kamu benar benar belum bisa ikut terbang ke Indonesia? tanya Mahez pada Istrinya, dan kembali mencium bibirnya, namun Evelyn diam saja.
" Apa kamu juga seperti ini pada Nura Mahez ? tanya Evelyn saat Mahez melepaskan pagutanya.
" Sudah ku bilang aku tak mencintainya Eve, aku bertahan dengannya hanya karena sebuah janji. Dan aku tak suka kamu membahas orang lain jika sedang berdua Eve. " kata Mahez kembali duduk normal. Dia menjadi hilang mood karena membahas Nura dalam hubungannya.
" Aku hanya bertanya Mahez, Jika seadainya kamu begitu pun, aku tak bisa berbuat apa apa. Toh Nura adalah istri sah mu yang sebenarnya, bukan seperti aku, hanya madu yang di nikah siri. " kata Evelyn menunduk
" Cukup Eve, Lebih baik aku berangkat sekarang. Jaga dirimu. " kata Mahez yang langsung memanggil Aldo.
" Aldo.....! " teriak Mahez, terlihat dia sedang menahan amarah.
Aldo pun tersentak dan segera menuju ruang utama.
" Iya Tuan, " jawab Aldo
Aldo dapat mengira jika Tuannya sedang bertengkar dengan istrinya. Dia kembali untuk memanggil Sean untuk apa ikut bersamanya pulang, namun dia salah sangka dengan Nihan dan Sean yang sedang jatuh bertindihan karena berebut ponsel Sean.
Dada Aldo menjadi panas, dengan langkah lebar dia menghampiri kedua insan tersebut.
" Kamu itu jadi wanita murahan sekali, hanya di goda curut seperti itu saja sudah terlarut. cih " kata Aldo tak jadi memanggil Sean ikut bersamanya pergi
" Aku memang wanita murahan yang butuh kehangatan, aku rasa Sean sangat mahir dalam bercinta. " cetus Nihan meninggalkan keduanya begitu saja, jujur saja hatinya sangat panas dikatai wanita murahan oleh orang yang dia cintai. Dia ingin segera pergi dari sana agar airmatanya tak jatuh menetes dan terlihat oleh Aldo.
" Tidak seperti itu kakak ipar, Nihan bohong. Dia memang suka bercanda. Jangan dengarkan dia, ini tidak seperti yang kamu kira. " kata Sean yang ketakutan diadukan pada Elia yang tidak tidak.
" Berhenti memanggilku kakak ipar. Dan jangan pernah kamu menyentuh adik ku lagi. " Tegas Aldo penuh amarah. Tidak seperti sebelumnya yang hanya ditanggapi dengan bercanda oleh Aldo.
Sean pun bergidik ngeri melihat raut wajah Aldo yang penuh amarah. Dia pun menyusul mengikuti langkah Aldo di belakangnya. Aldo berlalu begitu saja melewati Nihan yang berada di dapur mengambil minuman di kulkas.
__ADS_1
" Nona, saya harus ikut Tuan Mahez ke Jakarta, jika terjadi sesuatu ini kartu nama saya. Anda bisa menghubungi saya. " kata Aldo dengan menyerahkan sebuah kartu nama pada Evelyn.
Sean yang mendengar Aldo akan berangkat pun segera berjalan cepat ingin menyusul Aldo, namun naas dia menabrak Nihan yang sedang minum sambil berjalan ingin mendekati Eve
Prang....
Gelas yang di pegang Nihan pun jatuh pecah berantakan.
" Sean....! Mata mu minus ato buta wanita secantik diriku kamu tabrak begitu saja. " cerocos Nihan ngamuk ngamuk
" Maaf Nihan, aku harus segera ikut pulang bareng kakak ipar. Jika tidak aku pasti akan di suruh menetap di sini dan berjauhan dengan Elia. " jawab Sean meninggalkan Nihan begitu saja
" Bukankah justru itu kesempatan untuk kita bersenang senang. " kata Nihan polos yang justru mendapat tanggapan lain oleh Aldo. bersenang senang menurut Aldo bercinta. sedang bersenang senang menurut Nihan rekreasi atau berlibur.
" Wanita murahan. " celetuk Aldo begitu saja, sambil keluar resort. Dadanya bergemuruh menahan sesak dengan ucapan Nihan.
" Sean tunggu, ada beberapa resep yang lupa aku berikan pada Elia, saat pasien ku datang nanti. Tadi aku sempat chat, katanya suruh titip pada mu saja. " kata Nihan bergegas mengambil namun kakinya menginjak pecahan gelas hingga dia terhuyung untung langsung di tolong oleh Sean. Aldo yang kembali masuk ingin meneriaki Sean agar segera menyusul pun melihat Nihan seolah sedang saling berpeluk dengan Sean.
" Menjijikan. Jangan harap kamu bisa melihat adik ku lagi. " kata Aldo menutup keras pintu utama hingga Evelyn terkaget.
Nihan jadi tidak enak pada Sean, karena menolongnya, terjadi salah paham seperti itu.
" Tidak apa apa, Elia pasti percaya pada kita. " kata Sean membimbing Nihan duduk.
Nihan mengambil dokumen dari tasnya, tentang daftar pasien dan obatnya. Dia menyerahkan pada Sean.
" Cepat kejarlah mereka, sebelum kau ditinggalkan naik pesawat sendiri. " kata Evelyn mengingatkan
" Baiklah kakak ipar. Sampai jumpa lagi. " kata Sean pergi sambil berlari
" Dasar,,semua orang selalu kau panggil kakak ipar. Memang berapa banyak kakakmu. " gerutu Evelyn yang disambut tawa ketiganya
__ADS_1