
Nura berusaha menggerakan tubuhnya untuk berdiri, namun kaki ya sangat sakit. Dia diam di tempat, karena tasnya sudah di bawa Arjun masuk, padahal semuanya berada dalam tas itu, mulai dari ponsel dan kunci mobil.
Setelah lama di dalam, Arjun keluar dengan sudah melepas jas dan sepatu. Arjun sudah mengenakan sendal rumah, dan dengan kemeja yang di gulung sampai ke siku.
Dia mengangkat tubuh Nura, dan menggendongnya ala bridal style.
" Jadilah wanita yang patuh, agar kamu tidak terluka. Jika kamu menjadi pembangkang, hanya kesakitan yang akan kamu dapatkan. " kata Arjun.
Arjun menurunkan tubuh Nura dengan hati hati di sofa tamu. Dia menaikan kaki Nura di sofa, dan membantu melepas sepatu tinggi Nura.
" Jangan memaksakan sesuatu, yang tidak membuatmu nyaman, karena hasilnya akan melukaimu seperti ini. " kata Arjun dengan melihat kaki Nura yang mulai membengkak.
Arjun membersihkan kaki Nura dengan air hangat. Sedangkan Nura meringis kesakitan. Setelah bersih, Arjun mengoleskan krim dan memijat bagian kaki itu, saat Arjun menarik kaki itu, Nura berteriak histeris merasakan kesakitan yang amat menyiksa. Dia menangis dengan memukul mukul tubuh Arjun.
Setelah selesai arjun membereskan semua peralatan pada tempat semula. Sedang Nura merasakan kakinya sudah merasa sedikit nyaman. Dia mengusap wajahnya yang penuh airmata.
Arjun duduk kembali di sofa samping Nura.
" Apa kamu tidak bisa mengucapkan terima kasih pada orang yang telah menolongmu. " kata Arjun menatap Nura
" Ini semua gara gara kamu, kenapa aku harus meminta maaf. Jika kamu tidak seenaknya sendiri memaksa masuk, aku tidak mungkin merasakan sakit seperti ini. " kata Nura masih ketus.
" Katakan padaku, kenapa kamu menghindari ku? " tanya Arjun semakin mendekatkan wajahnya.
Nura memundurkan wajahnya, dengan gugup dia menjawab pertanyaan Arjun.
__ADS_1
" Aku tidak menghindarimu. Aku sengaja tidak mau bertemu dengan mu lagi." kata Nura
" Sama saja. Kenapa? " tanya Arjun
" Arjun, aku sudah tidak membutuhkanmu lagi. Aku ingin kita tidak terlibat hubungan apapun. " kata Nura.
" Jadi kamu membuangku. Berani sekali kamu berbuat seperti itu. Aku Arjun Sadewa untuk pertama kalinya di campakan begitu saja oleh wanita. Apa kamu sadar dengan ucapanmu Nona Nura ? " tanya Arjun
" Arjun, masih banyak wanita wanita di luar sana yang membutuhkanmu dengan suka rela. Tapi aku tidak, jadi kuharap kedepannya, jangan menganggu kehidupanku lagi. " kata Nura.
" Berani sekali kamu Nura, memangnya siapa dirimu, berani berkata seperti itu. Ingat Nura Aku lebih segalanya dari Mahez. " kata Arjun dengan mencengkeram wajah Nura
" Aku sudah tidak perduli lagi pada mahez. Karena kami sudah bercerai, lagi pula Mahez sudah mempunyai istri dan akan mempunyai anak. Jadi aku sudah tidak terobsesi lagi padanya. " jawab Nura, dia berusaha melepaskan cengkeram tangan arjun yang menyakiti wajahnya.
Arjun mencium paksa bibir Nura, Sedangkan Nura membuang wajahnya agar bisa terhindar dari ciuman itu. Namun Arjun terus memaksa mencium bibir dan merobek paksa drees Nura begitu saja. Hingga menampakan bra berwarna biru laut.
Nura menangis pasrah dengan setiap perlakuan Arjun padanya, dia sudah tak ada tenaga untuk melawan lagi, sedangkan Arjun terus menciumi setiap lekuk tubuh Nura yang sudah tak tertutupi satu benang pun sebagai penghalang. Nura membuang wajahnya saat Arjun menerobos paksa memasuki bagian intinya. Arjun tak bisa melihat bagaimana perasaan Nura saat ini, yang sudah berlinang banjir air mata. Arjun sendiri belum bisa meraskan, apakah ini hanya sebuah obsesi karena Nura berani mencampakannya, atau sebuah rasa cinta yang begitu besar hingga ingin memiliki.
Nura memunguti pakaiannya dengan menangis, merasakan kesakitan di bagian inti karena Arjun melakukan dengan keras dan paksa.
Nura menyalahkan takdir yang selalu menghukum dirinya. Dia merasa tidak pernah merasakan cinta dan ketulusan, bahkan sahabat untuk berbagi pun dia tak punya.
Nura mengunci dirinya di kamar mandi, menggosok setiap tanda merah yang di tinggalkan arjun di sana. Entah mengapa dia sangat jijik melihat semua tanda itu, apa lagi saat ia mengingat adegan Arjun yang sedang menggagahinya dengan kabut gairah yang sangat menjijikan baginya. Dia terus menangis dan menghabiskan semua sabun mandinya untuk mencuci tubuhnya, agar bisa menghilangkan bau tubuh Arjun darinya.
Terdengar pintu kamar mandi di ketuk, dan suara Arjun yang memanggilnya, namun Nura tak menghiraukan .
__ADS_1
Akhirnya Arjun mendobrak pintu itu dengan paksa, dia melihat Nura menenggelamkan wajahnya dalam bath up. Arjun berlari dan mengangkat tubuh Nura dari bath up tersebut. Diambil sebuah bath robe, untuk menutupi tubuh Nura.
Arjun sangat ketakutan dengan keadaan Nura. Dia menghubungi dokter pribadinya agar segera cepat ke rumah Nura.
Setelah di periksa, Dokter pribadi Arjun menerangkan jika Nura mengalami trauma berat. Dia seperti menerima guncangan berat hingga membuat tekanan jiwanya tak dapat menerima. Dokter menyarankan agar tidak menekannya atau memperlihat kan guncang seperti itu lagi.
Setelah dokter keluar, arjun memegang tangan Nura. Arjun menitikan airmata, melihat keadaan Nura. Pandangan Nura kosong, seperti hantu tanpa ekspresi.
Arjun dengan setia merawat Nura, hingga pagi ini dia membuatkan sebuah bubur untuk nura namun Nura membanting bubur yang dia buat dengan susah payah. Emosi Arjun naik saat kerja kerasnya tidak di hargai justru di tampik begitu saja. Dia meninggalkan Nura di halaman sendiri.
Evelyn berusaha menghubungi Nura berkali kali namun jangankan diangkat, pesan chatnya saja tidak di baca. Akhirnya dia meminta ijin pada Mahez untuk menemui Nura. Dan Mahez mengijinkan jika di temani Nihan.
Akhirnya mau tak mau Nihan pun menemani Evelyn dengan menggerutu.
" Untuk apa kamu masih perduli dengan nenek sihir seperti dia Eve, bukankah dia sudah mengakui jika sudah berbuat jahat terhadapmu. " oceh Nihan
" Dia sudah meminta maaf Nihan, dan dia sudah berubah. Sebagai orang baik, kita harus menghargai dan menuntunnnya agar tidak kembali ke jalan yang salah. " kata Evelyn
" Hatimu itu sebenarnya terbuat dari apa sih Eve, kenapa tidak ada kebencian dalam hidupmu. Jelas jelas dia sudah memfitnahmu, bahkan berusaha menyakitimu. " kata Nihan
Evelyn tidak menjawab ucapan Nihan, karena percuma jika ia menjawab itu justru akan membuat Mood Nihan menjadi semakin buruk. Tapi Evelyn tahu, jika Nihan tidak sepenuhnya sangat membenci Nura, karena pada dasarnya hati Nihan juga lembut seperti dirinya.
Keduanya saling menatap, saat melihat keadaan Nura diatas kursi roda dan dengan pandangan kosong.
Nihan seorang dokter dapat mengetahui jika Nura sedang mengalami depresi.
__ADS_1
" Nura... Apa yang terjadi padamu? " tanya Evelyn
" Jangan di tanya Eve, dia tidak akan menjawab. Nura seperti nya mengalami trauma berat. Kita sebaiknya membawanya ke rumah sakit untuk menjalani terapi pengobatan. " kata Nihan