
Aldo sudah mengambil ancang ancang untuk memukul Reyhan namun di halangi oleh Nihan.
" Aldo jangan membuatku malu di lingkungan kerja . " kata Nihan sambil dengan menarik menjauh dari Reyhan, karena Nihan tau jika mereka berkelahi, sudah pasti Aldo lah yang menang, karena Reyhan tak ahli bela diri, dan juga postur tubuh Reyhan tidak sebesar Aldo.
" Kenapa kamu membela dia. " kata Aldo masih tidak ingin beranjak.
" Aku tidak ingin malu Aldo. Lagi pula untuk apa kamu ke sini? " tanya Nihan.
" Jadi kamu malu jika aku di sini. " ketus Aldo
" Bukan begitu Aldo, aku hanya malu jika kalian berkelahi di sini. " jawab Nihan
" Nihan, mari kita menikah. Aku tau kamu tidak menyukai lelaki keras seperti dia bukan. " kata Reyhan.
Nihan memutar bola mata malas, karena di saat genting seperti ini, Reyhan justru seperti menimbulkan masalah lagi.
" Kamu tau, Nihan itu sudah jadi milik ku. Lagi pula urus saja wanita mu itu. Jangan menganggu Nihan lagi. " kata Aldo memperingati.
" Jadi kamu yang mengompori Nihan, aku dan risa itu hanya teman. Jangan menimbulkan fitnah. " ucap Reyhan tinggi
" Mana ada teman wanita makan berdua di kafe tanpa ada rasa. " jawab Aldo santai
" Jangan menuduh sembarangan. " kats Reyhan tersulut emosi dengan mendorong Aldo.
" Kamu nantang. " kata Aldo dengan membalas mendorong hingga terjadi perkelahian.
" Jika kalian ingin berkelahi, berkelahilah di lapangan. Jangan menimbulkan keributan di rumah sakit. Rumah sakit butuh ketenangan. " kata Nihan pergi
" Satu lagi. Jika kalian terus berkelahi, jangan pernah menganggap aku mengenal kalian. " kata Nihan dengan pergi begitu saja.
Keduannya langsung berhenti. Dan mengejar Nihan.
__ADS_1
" Nihan tunggu. Untuk terakhir kalinya aku bertanya, menikahlah denganku. Aku akan menerima apapun kekuranganmu. Cintaku tidak bersyarat untukmu Nihan. " kata Reyhan.
Aldo mendekati Nihan dan membisikan sesuatu di telinga.
" Ingat perjanjian kita, jika kamu mengingkarinya, aku akan meminta ganti rugi pada ayahmu, dan gimana reaksinya jika tau anaknya sudah tidak suci lagi." bisik Aldo
" Reyhan, lupakan aku. Aku tak pantas kamu. " kata Nihan dengan menunduk.
" Aku ingin kamu mengatakan jika kamu tidak mencintai ku " kata Reyhan belum nyakin
" Aku tak mencintaimu Reyhan. " jawab Nihan
" Tatap aku Nihan, katakan sekali lagi. " kata Reyhan
" Jika Nuhan katakan tidak cinta ya berarti tidak cinta. Apa bedanya dengan menatap atau tidak. " kata Aldo menyaut.
Namun Reyhan tidak menggubris dia masih belum beranjak pergi, dia masih mematung menatap Nihan. Sedang Nihan menarik nafas panjang.
Aldo tersenyum puas mendengar jawaban Nihan.
" Tunggu apa lagi, Sekarang pulang lah. " kata Aldo meraih tubuh Nihan pergi meninggalkan Reyhan yang masih mematung.
Reyhan mengenggam kan tangan, dia berbalik ingin kembali ke parkir tempat ia memarkirkan mobilnya.
" Maafkan kakak ku kak Rey. " ucap Elia dari belakang tubuh Reyhan, dia sengaja mengikuti Reyhan karena tidak enak hati dengan perlakuan kakak nya.
Reyhan menghentikan langkahnya, perasaan nya kacau sekarang ini, ada kemarahan saat mendengar dan mengingat Aldo.
Reyhan berlahan berbalik, dan menatap Elia. Dari sorot matanya terpancar ketulusan permohonan maaf, namun kebencian menyelimuti hati Reyhan. Berlahan dia berjalan mendekati Elia, dia langsung memanggul tubuh Elia begitu saja dan memasukan ke dalam mobilnya.
" Kak lepasin aku. Aku benar benar minta maaf atas kelakuan kak Aldo. " kata Elia
__ADS_1
Reyhan menstarter mobilnya tanpa menjawab. Hening dalam mobil tersebut, Elia tak berani menatap atau bahkan bersuara karena raut wajah Reyhan terlihat sangat menyeramkan.
" Turun. " kata Reyhan sampai pada sebuah apartemen.
" Ikut aku, aku perlu bicara serius padamu. " kata Reyhan dengan wajah dingin dan serius.
Di saat Elia mengikuti Reyhan tanpa sengaja melihat seorang laki laki yang sangat ia kenal. Pandangan nya masih pada lelaki itu. Dia terus mengarahkan pandangan pada lelaki itu yang sedang memeluk seorang wanita di sampingnya.
Sampai akhirnya Elia tersadar saat menabrak Reyhan yang berhenti karena menunggu lift untuk naik ke atas.
" Mata buta ya. " ucap Reyhan. Entah kenapa Reyhan yang dulu sangat lembut pada siapa saja, kini sangat berbeda.
Elia tidak merespon ucapan Reyhan, karena wajar saja marah karena kakaknya menikung kekasihnya pikir Elia.
Elia mengambil ponsel di sakunya dan memekan nomor seseorang, namun di tolak panggilannya. Elia sangat nyakin jika laki laki itu benar adalah orang yang di kenalinya.
" Cepat masuk. " Bentak Reyhan. Dengan gugup Elia masuk. pikirannya masih berkecamuk dengan pertanyaan pertanyaan yang sulit ia jawab.
Reyhan membuka pintu apartemen, setelah Elia masuk dia mengunci pintu. Reyhan membuka jasnya.
Elia menatap Reyhan yang juga sedang menatapnya, sangat berbeda dengan yang ia lihat tadi pagi saat Nihan datang, baru tadi pagi dia sempat bercanda canda sambil menunggu Nihan. Tapi sekarang untuk melihat saja sudah mengerikan apa lagi untuk bersuara. Bibir Elia masih kelu, dia masih berdiri tanpa berani duduk, padahal di sampingnya ada sebuah sofa panjang.
" Saat aku menitipkan sebuah amplop padamu, kenapa kamu tak berikan pada Nihan? Kenapa kamu mengatakan jika kamu sudah memberikannya. Apa kamu sengaja bersekongkol dengan kakak mu? tanya Reyhan dingin
Elia mengingat ingat saat Reyhan menitipkan sebuah Amplop coklat besar, dan sedikit tebal. Elia nyakin sudah menitipkan amplop itu pada Aldo. Elia baru tahu, saat itu pasti Aldo sudah mencintai Nihan sampai amplop itu tidak di berikan kepada Nihan.
" Kenapa diam? Apa tuduhan itu benar? Kamu memang sengaja bersekongkol dengan kakak mu, aku tidak pernah menyangka wajah sepolos dirimu, ternyata sama liciknya dengan kakak nya. " kata Reyhan terus maju mendekati Elia
" Kak... Ini semua tidak seperti yang kak Reyhan pikirkan. Aku sudah benar benar menitipkan ke kak Aldo waktu itu, karena kak Nihan berada di Jerman, dan Kak Aldo juga pergi ke sana karena menemui Nona Eve. Aku juga tidak tahu jika amplop itu tidak sampai ke tangan kak Nihan. Demi Tuhan kak, aku tidak tahu jika kak Aldo sudah mencintai kak Nihan waktu itu. Sebenarnya pada awalnya aku memang berniat ingin menjadikan kak Nihan sebagai kakak ipar ku, tapi saat kak Reyhan memberikan perhatian pada kak Nihan, aku sama sekali tidak mengusiknya kak. Karena aku tahu jika kak Nihan pun menyambut perhatian itu. Aku juga kaget kak, saat kak Aldo mengumumkan kak Nihan adalah calon kakak ipar ku. Semua berjalan begitu cepat, tanpa aku tahu sejak kapan mereka menjalin cinta. " kata Elia menjelaskan.
Namun Reyhan tak menggubris, dia masih tak percaya dengan ucapan Elia.
__ADS_1