Kisah Cinta Evelyn

Kisah Cinta Evelyn
BAB. 60


__ADS_3

Setelah memberi ruang Elia untuk berbagi dengannya. Evelyn memutuskan pergi mengunjungi Nura. Dan sekarang dia berada di ruangan kamar Nura, tempat ia di rawat.


Evelyn melihat Nura yang sudah bisa berkomunikasi dengan seorang dokter. Evelyn memperhatikan dari luar. Sampai akhirnya dokter itu keluar.


" Eve..... " panggil Virza


" Virza.... " Evelyn tak percaya bisa bertemu dengan sahabatnya yang sudah lama sekali tak bersua, semenjak virza memutuskan menempuh pendidikannya di luar untuk mengambil gelar doktor.


Mereka akan berpelukan namun siapa sangka jika yang Virza peluk seorang laki laki. merasa ada yang aneh mengurai pelukan itu dan memandangnya.


Terlihat Mahez sudah memberikan wajah dinginnya. Virza yang mengetahui pun langsung mundur teratur menjauh. Dia melihat Evelyn sudah berada di belakang tubuh kekar Mahez.


" Sudah aku bilang kamu di larang memandang seorang pria, kenapa kamu berani ingin memeluknya. Aku rasa kamu memang merindukan hukuman sampai pagi lagi. Bersiaplah, nanti malam aku akan mengabulkannya. " kata Mahez tanpa malu berkata di depan Virza, Mahez justru seolah ingin menunjukan jika Evelyn adalah milik nya. Evelyn hanya bisa tersenyum kaku, sungguh dia sangat malu Mahez bisa berkata sevulgar itu di depan orang lain. Padahal sebelumnya Mahez seperti orang yang tak perduli jika di depan orang lain.


" Virza bagaimana kondisi Nura? " tanya Evelyn menghilangkan rasa canggung.


" Nura sudah membaik. Dia adalah wanita kuat, dengan sedikit terapi dia bisa mengusai diri kembali. " jawab Virza


" Bagus. Kamu rawat dia, jika sudah benar benar sembuh, suruh dia pulang. Tagihan akan aku bayar nantinya. Ayo Eve.... kamu harus di hukum. " jawab Mahez menarik tangan Evelyn.


" Tunggu Mahez... Aku masih ingin bertemu dengan Nura. Aku ingin bicara dengan nya, kenapa bisa terjadi seperti ini. " kata Eve ingin melepaskan pegangan tangannya.


" Jadi kamu berani melawan ya. Aku tak akan mengijinkan kamu keluar lagi. " jawab Mahez dingin


" Tapi Mahez.... " Evelyn merajuk

__ADS_1


" Eve, Tuan Mahez benar. Sebaiknya jangan mengungkit sesuatu yang membuatnya kembali trauma. Biarkan dia menenangkan diri dulu. " kata Virza menengahi.


" Kamu dengar Eve? " kata Mahez tanpa berbalik memandang depan.


Evelyn masih belum beranjak, Evelyn justru berbalik dan ingin masuk ke dalam kamar Nura di rawat, Namun Mahez tanpa permisi segera mengangkat tubuh istrinya dan membisikan sesuatu pada Evelyn.


" Kamu ingin kita melakukanya di ranjang Nura dan melihatnya, atau di rumah kita pulang sekarang? " bisik Majez lembut


" Pulang sekarang. " kata Evelyn gugup, karena Evelyn nyakin Mahez tidak pernah main main.


Virza menatap tak percaya, jika Mahez bisa seposesive itu pada istrinya. Akhirnya dia pun ikut pergi meninggalkan Nura yang sedang istirahat setelah di periksa.


Arjuna yang sejak tadi bersembunyi di balik tembok pun akhirnya keluar, dia sengaja menunggu semua pergi, baru ia masuk ke ruangan Nura dan mengunci pintu itu.


Arjun menatap Nura yang terpejam. Dia menarik kursi dan duduk di samping Nura, ia terus memandangi wanita yang sudah menganggu pikirannya, Arjun baru menyadari jika selama ini dia sudah jatuh hati pada Nura. Sebuah rasa yang tadinya hanya sebatas pelampiasan, namun saat mengetahui kondisi yang di sebabkan oleh dirinya, membuatnya merasa sangat bersalah dan sangat resah. Dia sudah seperti ikut gila seperti yang di rasakan Nura. Belum pernah Arjun merasakan seperti ini sebelumnya.


Nura membuka matanya, saat ia merasakan tangan nya di genggam seseorang, ia melihat siapa yang ada di sampingnya saat ini. Karena selama di rumah sakit belum ada yang menjenguknya, bahkan ia tidak tahu siapa yang membawanya kemari.


Nura hanya menatap tak percaya, karena orang yang ada di hadapanya sedang menangis mengenggam tangannya.


Nura menarik rangannya kembali, dan di letakan di atas perutnya. Arjun tersenyum melihat Nura sudah bangun. Setidaknya dia rela jika harus di marahi atau di cakar sekalipun, namun Arjun berharap Nura mau memaafkan.


" Pergi dari sini. Pergi. " teriak Nura


" Nura, dengarkan aku. Aku minta maaf atas tingkah buruk ku di masa lalu, tapi aku memyesal Nura. Aku menyesal telah membuat luka di hatimu. " kata Arjun lembut

__ADS_1


" Tidak. Aku sudah tidak sudi berurusan dengan orang sepertimu lagi. Pergi dari hadapanku, atau aku akan berteriak. " kata Nura mencoba untuk bangun dan duduk.


" Nura, aku tulus ingin bersamamu. Aku ingin kita menikah dan mulai hidup baru. " kata Arjun mulai mengenggan tangan Nura.


" Omong kosong. Apa tidak ada wanita lain yang bisa kau bodohi selain aku Arjun. " kata Nura menatap tembok karena tak ingin melihat wajah Arjun


" Akulah yang bodoh jika aku melepaskanmu Nura. Janganlah berkeras hati, karena aku tahu sebenarnya kamu adalah wanita yang rapuh. Kamu butuh kehangatan, kamu butuh cinta dan aku tahu kamu butuh seseorang untuk bersandar. Aku berjanji aku bisa memberikan semuanya Nura, dari segi materi, aku sanggup menghidupimu sampai tujuh keturunanmu. Dari segi cinta, aku akan memberikan cinta dan sandaran kepadamu, sampaikan keluh kesahmu, aku akan membantumu. Dari segi kehangatan, aku akan menghangatkanmu setiap saat. " kata Arjun mencium jemari Nura.


Nura menatap Arjun, sesungguhnya apa yang di ucapkan Arjun benar adanya, dia butuh seseorang untuk mendengarkan isi hatinya, dia butuh seseorang yang bisa menghangatkan hidupnya.


Arjun membelai pipi Nura dia semakin mendekat, dan Nura pun juga semakin menunduk, dengan sedikit rayuan Arjun, bisa meluluhkan sakit hati dan panasnya api kemarahan Nura. Tanpa mereka sadari bibir mereka sudah saling menempe. Mereka terlarut dalam kehangatan cinta.


Nura yang tersadar jika Arjun adalah pemain wanita, segera mendorong tubuh Arjun dan memalingkan wajah ke tembok.


" Aku tahu kamu mencariku, jika hanya menginginkan tubuh ku Arjun. Pergilah mencari wanita lain yang masih gadis masih banyak untuk mu. Jangan mempermainkan janda seperti aku. Aku tidak semurah yang kamu bayangkan Arjun. " kata Nura


" Aku serius akan menikahimu Nura. Aku tak perduli dengan para gadis di luar sana, mungkin hanya labelnya saja yang gadis. Aku lebih suka janda sepertimu, lebih liar. " kata Arjun membisikan di telinga Nura.


Nura bersemu merah, dia teringat saat mereka bermain di vila sangat memalukan pikir Nura.


" Kenapa harus malu, aku menyukainya. Kita menikah oke? " kata Arjun dengan memalingkan wajah Nura untuk melihatnya. Arjun menempelkan keningnya, dan mencium hidung mancung Nura.


Arjun melingkarkan tangan kanan Nura di pundaknya, karena yang sebelah kiri masih terselang cairan infus. Seakan terhipnotis pesona Arjuna, Nura hanya mampu memejamkan matanya dan menerima setiap sentuhan Arjun.


Jangan lupa Like,komen, dan minta giftnya ya readerku tercinta.... Agar aku tambah semangat buat update yang lebih uwu lagi ya....😍😍😍

__ADS_1



__ADS_2