
Hari ini Evelyn bersiap akan ke gedung menghadiri pesta pernikahan Nihan dan Elia yang di langsungkan bersamaan.
Evelyn melihat betapa sempurnanya sahabatnya, bersanding dengan Aldo dengan balutan gaun putih yang senada dengan yang di pakai Aldo sekarang.
Sedangkan Elia memakai gaun krem yang senada dengan Reyhan, tak kalah mempesonanya. Bahkan jika tidak mengetahui sesuatu yang sebenarnya, akan mengira jika pernikahan adalah murni sebuah cinta. Karena keduanya pandai menyimpan rahasia.
Evelyn yang tak lepas dari pelukan suaminya, merasa sangat lapar. Air liurnya seakan meleleh melihat banyak makanan di meja. Entah mengapa semenjak Evelyn hamil, nalurinya selalu memikirkan makanan.
Evelyn ngeyel menuju meja hidangan, padahal Mahez ingin mengajaknya, dan diperkenalkan pada rekan bisnisnya.
" Sayang, kita kesana dulu. Baru aku antar makan. " kata Mahez
" Tidak Mahez, kamu kesanalah, aku akan menyusul. Anakmu ini merengek ingin makanan itu. " jawab Evelyn sambil menunjuk aneka makanan di meja.
" Baiklah, jangan kemana mana. Aku segera kembali. " perintah Mahez. Setelah mencium pipi istrinya, Mahez meninggalkan Evelyn sendiri.
Evelyn sibuk mengambil makanan yang membuatnya tergoda, dia mengambil cake coklat, puding mangga, bahkan dia mengambil es buah yang berada di gelas besar. Setelah nampannya tidak muat, dia mengambil kursi dan bersiap untuk menyantap hidangan yang ia ambil.
" Eve..."
Eve pun menoleh orang yang memanggilnya.
" Kak Tian, kapan kak Tian berada di indonesia? " tanya Eve
" Baru kemarin, Reyhan yang mengundangku, aku pikir Reyhan menikah dengan Nihan. Tapi ternyata malah menjadi adik iparnya. Apa kamu tahu sesuatu Eve? " tanya Bastian penasaran karena sebelumnya Bastian melihat Reyhan sangat mencintai Nihan.
" Ini namanya jodoh kak Tian, tak perlu di cari tapi ikatan tali jodoh yang mencari. " ujar Eve
" Sejak kapan kamu jadi sastrawan, pandai sekali menjawab. " kata Bastian
" Apa kakak sendiri? " tanya Eve mengabaikan pertanyaan Bastian
" Aku sama Virza. Dia sedang mengambil minuman. " kata Bastian
" Kita sudah seperti merasakan reunian ya kak. Dulu kita selalu berlima. " ujar Evelyn mengenang masa masa kuliahnya dulu.
" Iya, aku merasakannya. Aku merasa seperti masih bisa mengejar cintamu. " ucap Bastian
__ADS_1
Mahez yang melihat istri nya terseyum dan terlibat perbincangan yang hangat membuatnya panas. Setelah menyapa relasinya Mahe segera mendekati Evelyn.
Mahez datang tepat di tengah Bastian dan Evelyn, kedatangan Mahez sengaja memisahkan keduanya. Mahez memeluk erat pundak Evelyn, membuat Evelyn tak nyaman.
Pandangan Bastian dan Mahez sangat tidak bersahabat, Evelyn yang melihat pun tak menggubrisnya. Evelyn justru sibuk melanjutkan acara makan nya yang sempat tertunda.
Evelyn memakan semua yang ia ambil tapi belum puas, dia ingin mencicipi kue yang di bawa bastian.
" Kak Tian, boleh aku mencicipi kue yang kamu bawa? " tanya Evelyn yang malas beranjak mengambil kue sendiri. Evelyn tak berani menyuruh Mahez, ia takut suaminya salah paham, menyuruh pergi hanya karena menginginkan berdua dengan bastian. Karena letak tempat hidangan lumayan jauh dari tempat mereka sekarang.
" Boleh... " jawab Bastian dengan menyendok kan kue yang ia bawa ke mulut Evelyn. Namun Mahez tak kalah akal, dia memajukan mulutnya dan mengambil suapan kue tersebut, bahkan ia sempat mengigit tangan Bastian.
" Aw.... Apa kamu seekor anjing? " Bastian mengibaskan tangan nya.
" Iya... Aku seekor anjing golden retriever, yang siap memangsa seekor kerbau tak tau diri seperti kamu. " jawab Mahez dingin.
Tatapan Bastian tak kalah dinginnya, menatap Mahez menyuapkan kue itu melalui mulutnya. Dan bodohnya Evelyn menerima begitu saja tanpa rasa jijik. Karena jika ia menolak ini akan jadi masalah baru baginya.
Bastian menatap tak suka pada Mahez. Ada perasaan sakit saat ia melihat Evelyn biasa saja di perlakukan seperti itu oleh Mahez.
" Apa kamu juga perlu menyuapkan makan pada istri orang. Aku rasa aku sah sah saja menyuapkan sesuatu kemulut istriku. Lagi pula istriku juga menyukainya. " jawab Majez percaya diri.
" Benarkan sayang? " kata Mahez terseyum di buat buat pada Evelyn.
Evelyn pun hanya membalas terseyum kaku. Evelyn merasa tak enak memamerkan keintiman dia dengan suaminya di depan Bastian.
Akhirnya Bastian memilih menyingkir dari pada meladeni Mahez yang keras kepala. Bastian takut tak bisa mengendalikan diri, Karena pasti Mahez menebarkan aura permusuhan pada Bastian.
" Baiklah Eve, jaga dirimu baik baik. Jangan sampai kamu tertular rabies, jika sering bersentuhan dengan nya. " kata Bastian dengan mengusap lengan Eve. Lalu Mahez pun menampik tangan Bastian kasar.
" Yang ada istriku bisa alergi kolera jika bersentuhan dengan kamu. " Mahez merah padam
" Dasar ceo gila. Aku heran dengan otakmu yang bermasalah itu, bagaimana bisa kamu mengendalikan perusahan sebesar itu. " kata Bastian pergi, namun terhenti karena Mahez mencekalnya.
" Otak ku hanya bermasalah jika berdekatan dengan orang idiot seperti kamu. Kamu membawa virus kebodohan jika berdekatan. " jawab Mahez penuh penekanan.
Bastian yang tak bisa mengendelaikan diri, akhirnya berbalik bersiap ingin menghajar laki laki di hadapannya.
__ADS_1
Evelyn akhirnya ingin berdiri, namun naas perutnya jadi kram.
" Aw.... Mahez..... perutku sakit. " kata Evelyn memegang lengan suaminya.
" Tahan sayang. " kata Mahez dengan mengangkat tubuh Evelyn kedalam Dekapan nya.
Bastian pun ikut panik, dia menurunkan kembali tangan yang tadinya ingin di layangkan ke muka Mahez.
" Sebenarnya, aku bohong. " kata Evelyn terseyum dengan mengalung kedua tangan nya di leher Mahez.
Mahez menatap lama wajah istrinya yang menggoda dengan senyuman yang di buat buat.
Bastian yang mengintil di belakang pun mendengar ucapan manja Evelyn, akhirnya pergi begitu saja dari acara pesta pernikahan tersebut.
" Karena kamu sudah menggodaku, bagaimana jika kita memesan kamar. " bisik Mahez di telinga Evelyn.
Evelyn jadi gugup, dia mencari cara menggagalkan niat Mahez. Karena sesungguhnya ia hanya ingin melerai pertikaian Suaminya dengan Bastian. Namun kenapa sekarang jadi berubah haluan.
" Sayang, kita bahkan belum menemui Aldo, apa kamu tidak ingin memberinya ucapan selamat. " kata Evelyn
" Tidak. " jawab Mahez tegas
Evelyn menarik nafas, dia bahkan sekarang malu jadi tontonan semua pengunjung.
" Sayang turunkan aku, Aku janji setelah menemui pengantin, kita akan sewa kamar. " kata Evelyn merayu.
Akhirnya Mahez pun menyanggupi permintaan Evelyn.
" Baiklah, ingat jangan lupa janjimu. Oke..! " kata Mahez terseyum
Evelyn menunjukan dua jarinya.
" Janji. " jawab Evelyn lega, karena Nihan tak akan marah padanya. Walau ia harus mengorbankan dirinya nanti.
Pelan pelan Mahez menurunkan Evelyn, dia menggandeng istrinya menuju kursi kebesaran pengantin. Nihan sudah melebarkan senyuman kepada sahabat terbaiknya.
Keduanya berpelukan mengabaikan Mahez yang sudah memasang wajah ingin membunuh Nihan.
__ADS_1