Kisah Cinta Evelyn

Kisah Cinta Evelyn
BAB. 38


__ADS_3

Mahez memberi aba aba pada Aldo agar tidak menganggu kedua insan yang sedang berpagut bibir. Mahez justru mengeluarkan sebuah ponsel dan merekam adegan panas istrinya dengan klientnya.


Saat tangan Arjun turun membuka kancing baju Nura, harus terjeda karena mendengar suara tepuk tangan dari arah pintu.


Betapa terkejutnya Nura mendapati Mahez dan Aldo sudah dihadapannya , dan bertepuk tangan menyaksikan pemandangan yang seharusnya tidak ia pertontonkan.


" Saya tidak pernah menyangka, jika Tuan Arjun seorang yang terhormat, bisa melakukan perbuatan yang sangat rendah seperti ini. " kata Mahez sambil menatap Arjun dan Nura bergantian.


" Apa Tuan Arjun tak bisa menyewa sebuah hotel, hingga melakukan hal tidak senonoh di dalam ruangan kerja saya. " kata Mahez lagi


Arjun masih diam saja, mendapati penghinaan dari Mahez. Dia sudah terlanjur malu pada orang di hadapanya.


" Ini tidak seperti yang kamu lihat Mahez. " kata Nura memegang lengan Mahez.


" Lepaskan tangan kotormu dari tubuhku. Hari ini juga aku akan menceraikanmu. " kata Mahez


" Mahez... ini tidak seperti yang kamu kira, kamu jangan berbicara seperti itu. " kata Nura mulai ketakutan.


Nura takut jika bercerai dengan Mahez, itu artinya pengorbanannya selama ini gagal begitu saja. Dia akan kembali kepada orang tuanya yang akan di jodohkan dengan orang lain lagi. Atau jika tidak ia akan menjadi gembel.


" Nura aku akan memberimu pilihan, kqmu ikut bersamaku, atau kamu hanya akan menjadi bahan hinaan orang seperti ini. " kata Arjun


" Bagus... mau jadi pahlawan, silahkan. Bawa pergi dari hadapanku, dan enyahlah dari kehidupanku. " kata Mahez murka.


" Jangan pernah sombong Tuan Mahez. Karena ini baru permulaan, aku bisa membuat anda lebih merasa terhina lagi. Bagaimana jika Istrimu satu lagi pun akan menjadi bidak caturku. " kata Arjun memprovokasi


Aldo segera menarik Arjun keluar dari ruangan itu, dia tidak ingin Mahez terhasut ucapan Arjun, karena ia percaya jika Evelyn bukan wanita seperti Nura.


" Brengsek... singkirkan tangan kotormu dari bajuku. Kamu akan membayar semua penghinaan ini dari ku. " kata Arjun sambil membersihkan jasnya.

__ADS_1


" Aku sangat menantikanya Tuan Arjun yang terhormat. " kata Aldo dengan wajah dingin


Nura masih berada di dalam ruangan meminta Mahez merubah keputusannya. Dia merendahkan harga dirinya dengan berlutut di hadapan Mahez.


Aldo yang melihat pun menarik Nura dari hadapan Mahez.


" Lepaskan. Aku akan membalas semua ini, aku akan membuatmu disingkirkan Mahez. " kata Nura dengan marah.


" Saya tunggu anda di persidangan. Tuan Mahez akan segera mengirimkan surat perceraian untuk anda, saya harap anda tidak mempersulitnya. " kata Aldo sambil berbalik kembali masuk dalam ruangan Mahez.


Terlihat Mahez duduk di kursi kebesarannya. Dia sedang merenung membayangkan semua ini.


" Satu kali merengkuh dayung dua tiga pulau terlampui. " kata Mahez tersenyum. Dia sudah membayangkan jika Nura akan murka dengan keputusan nya, namun ternyata justru dia lah murka, dan tak perlu mencari alasan untuk menceraikan Nura, karena sekarang dia sudah memegang satu bukti yang akan memberatkan Nura jika dia menolak perceraian ini, atau bahkan jika dia meminta harta miliknya.


" Siapkan berkas perceraianku secepatnya Aldo. Tunjukan bukti ini pada pengacara kami. " kata Mahez dengan menyerahkan ponselnya.


" Baik Tuan. " kata Aldo. Dia pergi dari ruang kerja Mahez untuk mengurus semua keperluan Tuannya.


Di sisa waktu setelah menyelesaikan pekerjaanya, dia menatap suasana kota di jalanan dari balik kaca ruang kerjanya, menunjukan kemacetan hingga merayap, membuatnya enggan untuk bepergian. Namun jika ia mengingat istrinya dirumah sudah menunggunya, membuat ingin bergegas ingin segera sampai rumah. Dia tidak ingin terburu buru memberitahukan pada Evelyn tentang masalah ini. Karena ia takut jika kedepannya akan mengecewakannya, jika persidangan tidak semulus ekspektasi nya.


Mahez menghubungi Aldo agar segera mempersiapkan mobil untuknya pulang. Aldo melajukan mobilnya membawa Tuan nya pulang bertemu sumber kebahagiaannya.


" Kamu pulanglah Aldo. Hari ini sangat melelahkan untuk mu. " kata Mahez turun dari mobilnya tanpa diantar Aldo masuk ke dalam apartemen.


Aldo melajukan kemudinya pergi dari apartemen Mahez. Dia memutuskan pulang untuk merehatkan tubuhnya.


Malam ini Aldo merasakan tubuhnya kedinginan. Suhu tubuh nya sangat panas.


Merasa dia demam, Aldo menelpon Elia memberitahukan keadaannya.

__ADS_1


" Kak, aku sedang ada studi banding di bandung bersama Sean. Aku gak bisa kesana. Aku akan menyuruh temanku untuk melihat kakak. " kata Elia


" Tidak perlu, beritahukan padaku saja obat penurun demam ini. " kata Aldo yang mulai bersin bersin.


" Ini sudah malam kak, mungkin sudah tidak ada apotek buka. Hari ini temanku pulang sift dua, pukul sepuluh. Biar dia nanti mampir memberikan obat itu. Aku akan menuliskan resep obat yang biasa kakak minum. " kata Elia.


Akhirnya Aldo menuruti keinginan Elia. Dia menunggu sahabat adiknya mengantarkan obat untuknya.


Sudah pukul setengah sebelas, namun teman adiknya tak kunjung mengirimkan obat itu. Aldo yang merasakan tubuhnya tak nyaman, berencana untuk membuat segelas susu hangat agar tubuhnya sedikit bertenaga. Saat beranjak, ia mendengar pintu Apartemen berbunyi.


Aldo membuka pintu, dia melihat seorang wanita yang ia sangat kenali sedang memunggunginya membawa sebuah tas kecil yang mungkin berisi obat.


Saat wanita itu berbalik badan, dia di kejutkan dengan orang di hadapannya. Dia merasa di tipu karena Elia tidak memberitahukan jika obat itu milik kakaknya.


" Ini obat dari adikmu. " kata Nihan menyerahkan obat itu.


Melihat tak ada pergerakan dari Aldo untuk menerima, Nihan mendekat dan memegang tangan Aldo memberikan paper bag berisi obat itu. Aldo pun segera menarik Nihan masuk dan mengunci pintu itu.


Nihan segera menjauh dari Aldo. Dia sangat ketakutan berada di apartemen seorang laki laki, terutama ini sudah terlalu malam.


" Apa yang kamu lakukan? Buka pintu dan biarkan aku pulang. " kata Nihan


" Bisakah kamu membantuku membuatkan segelas susu hangat. " kata Aldo


Nihan terdiam, dia masih sakit hati dengan penghinaan Aldo padanya. Namun saat melihat wajah Aldo yang begitu pucat, nalurinya pun berkata lain.


" Jika kamu ingin minum obat sebaiknya kamu jangan minum susu. minum saja air putih hangat. " kata Nihan masih berdiri di tempat.


Aldo berjalan ke sofa dan duduk. Di lihat Nihan mencoba membuka pintu. Nihan masih berdiri di dekat pintu, dia mengeluarkan sebuah ponsel, Aldo berdiri dan merebut ponsel itu.

__ADS_1


" Katakan apa maumu, bukankah kamu sangat membenciku, lalu untuk apa kamu menahanku di sini. " kata Nihan sambil meraih ponsel yang di tangan Aldo sampai membuat posisi Nihan dan Aldo menempel.


Aldo pun tak menyia yiakan keadaan, dia merangkul Nihan dalam pelukannya. Sedang Nihan berupaya melepaskan diri dari pelukan Aldo.


__ADS_2