Kisah Cinta Evelyn

Kisah Cinta Evelyn
BAB. 32


__ADS_3

Aldo mengetuk pintu ruangan Mahez,lalu masuk mendekati Mahez. Dia duduk di kursi bersebrangan dengan Mahez.


Terdengar pintu di ketuk, lalu Alice sekretaris Mahez datang menghampiri memberikan dokumen untuk di tanda tangani.


" Maaf Tuan, ini dokemen yang harus anda tanda tangani. " kata Alice sambil menyerahkan dokumen itu. Terlihat Alice melihat Aldo dan tersenyum saat pandangan mereka bertemu.


Mahez sebenarnya mengetahui jika selama ini Alice menaruh hati pada Aldo, tapi diabaikan. Mahez pun teringat dengan kata katanya yang akan mencarikan pasangan untuk Aldo. Karena saat itu Aldo tak menjawab Mahez pikir Aldo menyetujuinya. Hingga dia memberi kesempatan untuk Alice mendekati.


" Alice, apa hari ini kamu ada lembur? " tanya Mahez


" Tidak Tuan. " jawab Alice


" Aldo, antarkan Alice pulang, kasian ini sudah waktunya pulang. " kata Mahez.


" Tidak usah Tuan, saya bisa naik taxi sendiri. " kata Alice


" Tidak apa, karena aku sedang berbaik hati pada karyawan ku. Dan kamu salah satu karyawan teladanku. " kata Mahez


" Baiklah Tuan. " kata Aldo yang ia pikir akan pulang bertiga bersama dengan Mahez juga.


" Aldo berdiri masih belum beranjak, menunggu Mahez yang tak kunjung bangun untuk berdiri.


" Kenapa kamu masih berdiri di situ, lihatlah Alice sudah menunggumu. " kata Mahez


" Bukankah kita akan pulang bertiga Tuan. " kata Aldo


" Tidak, masih banyak dokumen yang harus aku selesaikan terlebih dahulu, supaya waktuku bersama Evelyn bisa lama. " jawab Mahez


" Lalu kenapa Tuan menyuruhku mengantar Alice. Bukankah biasanya dia juga pulang pukul enam Tuan. " kata Aldo menyangkal


" Aldo, bukankah kamu semalam menyanggupi, akan menerima wanita yang kucarikan. Cobalah untuk membuka hatimu untuk Alice, kulihat dia sangat mengagumi mu. Apa salahnya jika kamu memberinya kesempatan, aku kasian dengan Elia, adikmu sudah berumur dua puluh lima, sudah waktunya dia berumah tangga. Kamu jangan egois dengan sendiri terus, tanpa memikirkan perasaannya. " kata Mahez

__ADS_1


Aldo pun diam, dia menunduk kan badan lalu pergi tanpa berkata lagi.


Alice merasa sangat bahagia bisa diantar lelaki pujaan hatinya, dia tersenyum tersipu malu.


" Kak Aldo, apakah kamu sudah makan? " tanya Alice membuka percakapan, setelah Aldo melajukan mobilnya pergi meninggalkan perusahaan.


" Belum. " jawab Aldo singkat tanpa menoleh


" Bisakah kak Aldo menemaniku makan terlebih dahulu? " tanya Alice pelan


Aldo hanya menatap tak suka pada Alice tanpa menjawab. Namun Alice masih berusaha membujuk Aldo agar mau makan bersama.


" Biasanya sebelum pulang, aku makan dulu di kafe depan kantor, karena setelah di apartemen aku malas untuk keluar lagi. Jadi kebetulan Kak Aldo mau mengantarku, bisakah menemaniku makan, aku yang mentraktir. " kata Alice tersenyum semanis mungkin di hadapan Aldo.


Aldo masih fokus menyetir tanpa menjawab permintaan Alice. Hatinya sama sekali tak bisa bereaksi dengan Alice, berbeda saat bersama dengan Nihan. Dengan Nihan Aldo bisa merasakan sesak nafas, marah, panas dingin, bahkan bahagia hanya melihat senyumnya. Bahkan jika ia menyadari, sejak pertama dia bertemu Nihan sudah ada debaran saat Nihan dengan beraninya menangkup pipinya.


Tanpa sengaja ia melihat kaca Luar, dia melihat adiknya sedang makan bersama di sebuah kafe hotel. Dia pun putar balik arah dan mengendarai dengan kecepatan lebih. Alice yang berada di samping kemudi pun sampai ketakutan.


Tanpa menjawab Aldo memarkirkan mobilnya di depan hotel. Alice mengikuti di belakang Aldo tanpa bersuara, pikirannya sudah traveling, jika ia akan makan bersama dengan Aldo lalu akan menyewa sebuah kamar bersama.


Terlihat Sean berdiri karena sudah melihat Aldo berjalan mendekatinya.


" Kakak ipar " kata Sean seperti biasa. Namun Aldo mendorongnya.


" Sudah ku bilang, jauhi Elia. " kata Aldo yang sudah merah padam wajahnya


" Kakak... Apa yang kak Aldo lakukan? " tanya Elia yang mendapati kakaknya tidak seperti biasanya. Bukankah Sean adalah temannya juga. Dan biasanya kakaknya tidak semarah ini jika bertemu mereka.


" Elia, apa yang kamu lakukan di hotel ini. Bukankah rumah sakit dengan hotel ini jauh dan berbalik dari jalur kalian. Kamu harus tahu Elia, Sean tidak berubah, dia masih sama, bahkan di belakangmu dia bermain api dengan sahabatmu. " kata Aldo


" Pertama, kami disini karena mewakili seminar dari rumah sakit, pihak rumah sakit yang menunjuk kami. Karena kami terlalu lelah, maka aku memutuskan mengajak Sean untuk makan terlebih dahulu. Kedua, Tidak yang bermain api di belakangku, Sean juga kak Nihan sudah menjelaskan padaku. Aku sudah tahu semuanya, sebelum kakak memberitahu. Antara Sean dengan kak Nihan tidak pernah terjadi apa apa kak. Banyak laki laki diatas Sean yang meminang kak Nihan, bahkan Sean sendiri pun dulu mengejar kak Nihan. Tapi kak Nihan menolak semua laki laki itu, termasuk Sean, dan karena kak Nihan melihat aku menyukai Sean, maka kak Nihan lah yang berusaha mendekatkan kami berdua. Dialah yang menyatukan kami kak, bukan penghancur antara kami. Aku jauh lebih mengenal kak Nihan sebelumnya kak, dan aku percaya padanya. " kata Elia sambil melihat wanita di belakang kakaknya.

__ADS_1


Elia tersenyum, untuk pertama kalinya ia melihat kakaknya jalan berdua dengan seorang wanita. Aldo yang melihat arah pandangan Elia pun menjelaskan agar tidak terjadi kesalah pahaman.


" Ini sekretaris Alice, Tuan Mahez menyuruhku mengantarnya. " kata Aldo menerangkan


Alice pun mengulurkan tangannya pada Elia, dan disambut oleh Elia dengan tersenyum.


" Alice." kata Alice memperkenalkan diri


" Elia, adik Kak Aldo. " jawab Elia ramah.


" Kenalkan juga Sean tunanganku. " kata Elia memperkenalkan kekasihnya


" Sejak kapan kalian bertunangan? Dan sejak kapan aku merestui kalian?" kata Aldo masih dingin menatap Sean tak suka


Sean pun sudah biasa dengan sikap dingin Aldo, tapi baru kali ini dia melihat Aldo seperti serius tak merestui cintanya.


" Kakak ipar, jika karena tak menunggumu, bahkan aku sudah menikahi Elia. " jawab Sean sambil mengulurkan tangannya pada Alice


" Sean. " kata Sean


" Alice. " jawab Alice


" Kalian sangat serasi, kenapa tak segera saja menikah. " kata Alice tersenyum


" Sebenarnya saya juga sangat ingin segera menikah. Tapi kakak ipar tak kunjung menikah, membuat Elia mengalah menunggu nya. " jawab Sean jujur


" Kami masih menikmati masa muda kami, tidak harus terburu buru. " kata Elia yang tidak ingin membebani kakaknya untuk memaksakan diri menikah dengan orang yang tak membuatnya nyaman.


" Bagaimana jika kita makan bersama terlebih dahulu? " tawar Elia


Alice pun memandang Aldo meminta persetujuan, yang akhirnya tanpa menjawab Aldo pun duduk di samping Elia adiknya, sedang Alice duduk berdekatan dengan Aldo.

__ADS_1


Ketika mereka sedang menikmati makan sore mereka, terdengar dering telpon dari ponsel Elia memanggil. Elia membuka tasnya mengambil ponselnya, di lihat layar ponselnya dan di tekan tombol hijau, tanda menerima sebuah panggilan video call.


__ADS_2