
Mahez yang tak terima dengan pelecehan istrinya, segera menghubungi Aldo. Hanya dia yang bisa diandalkan dalam segala hal.
" Aldo, segera kamu carikan sebuah resort termewah, yang menyuguhkan pemandangan indah yang belum pernah di lihat Evelyn sebelumnya. Ingat aku ingin membeli satu resort termewah dan termahal. Lima menit kamu kirimkan alamat padaku. " tanpa mendengar jawaban Aldo Mahez langsung memutuskan panggilan itu.
Evelyn tak pernah menyangka, jika apa yang di ucapkan olehnya di anggap serius oleh Mahez. Padahal niat hatinya hanya ingin membuat Mahez kesal, agar dia segera kembali ke jakarta supaya Nura tak menyusulnya.
Evelyn takut kepergian Mahez ke Jerman tercium oleh Nura. Karena sekarang dia tahu, jika Nura bukan lah orang yang baik.
" Mahez ! " panggil Evelyn
Mahez masuk ke dalam kamar, dengan membawa segelas susu hamil.
" Kamu harus meminumnya agar bayi kita sehat. Supaya nanti bisa bermain sepak bola dengan dady nya.
" Bagaimana jika anak ini perempuan, apa kamu akan mengajaknya main bola juga? " tanya Evelyn
" Bisa saja, toh tidak ada peraturan melarang seorang wanita bermain sepak bola. " kata Mahez cuek.
Evelyn tersenyum kecut mendengar jawaban suaminya. Menjawab pun percuma, karena dia Tahu Mahez akan mempunyai seribu jawaban yang bisa membuatnya diam.
Terpaksa Evely meminum susu yang sudah di buat Mahez untuknya. Mahez terus menatap wajah Evelyn dan membelai Pipinya.
" Eve, apa kamu keberatan jika aku menyelesaikan pekerjaan ku di Indonesia? " tanya Mahez takut takut, karena dalam pikiran Mahez Evelyn akan berpikir jika Eve akan bersedih, seperti dulu saat Mahez akan pergi, pasti akan terlihat wajah sedih yang menggambarkan sebuah ketidak relaan jika ditinggalkan. Sebenarnya Mahez dapat merasakan, namun dulu dia tak berani memperjuangkan Eve, tapi sekarang Eve sedang mengandung anaknya. Dia akan lebih memprioritaskan Eve. Jika seadainya Eve tak mengijinkan pun Mahez tak akan pergi. Dia akan menuruti kemauan Eve. Tapi ternyata dia mendapat jawaban sebaliknya. Apa yang dia khawatir kan tidak sama sekali tergambar di wajah Eve.
" Tidak. Kamu pergilah, aku pasti akan baik baik saja. " kata Eve tersenyum nyakin. Tak bisa di tutupi perasaan Evelin yang bahagia karena keinginan Mahez pergi terkabulkan.
__ADS_1
Mahez menatap istrinya, jauh dari yang dia bayangkan.
" Eve, apa kamu bahagia saat aku tidak ada? " tanya Mahez dingin
" Bukan begitu Mahez, aku tak mau membebanimu. Bukankah kamu pulang karena pekerjaan. Lagi pula setelah selesai kamu bisa menjenguk ku. " kata Eve menyakinkan suaminya
" Tapi aku tak melihat itu dari mu Eve, kamu terlihat sangat bahagia dengan kepergianku. Apa memang kamu sudah tidak mencintaiku " kata Mahez menatap dingin pada Evelin.
Evelin juga tidak mengerti dengan perubahan dirinya, entah mengapa jika berdekatan dengan Mahez membuat ingin marah marah dan membuat hatinya jengkel. Seolah dia enggan bertemu dengan Mahez.
" Mahez, aku hanya takut Nura akan menemukan kita. Dan aku takut jika Nura mencelakai anak kita. " jujur Eve
" Tapi aku merasa bukan seperti itu. Aku merasa jika kamu memang menghindariku. Kamu sudah tidak mencintaiku bukan? " tanya Mahe
Evelyn di buat terkejut dengan penuturan Mahez. Dulu Mahez tidak pernah peduli tentang perasaannya, seolah Mahez tidak perduli dengan nya. Terkesan hanya Evelyn lah yang mengejar cintanya. Tapi kenapa, sekarang justru Mahez yang terlihat begitu pecemburu, begitu ketakutan ditinggalkan oleh Evelyn.
Mahez langsung menggapai tubuh Evelyn kedalam pelukan nya. Evelyn di peluk erat oleh Mahez sampai merasa sesak. Eve berusaha melepas.
Mahez mulai mencium bibir istrinya, perlahan dan lembut. Seolah mewakili perasaan yang begitu bahagia dengan penuturan istri keduanya itu.
" Aku berjanji akan menjadi dady yang baik untuk anak kita. Dia adalah malaikat kita. Karena hanya kamu dan dia yang sangat berharga di hidup ku. " kata Mahez kembali mencium bibir istrinya. Keduanya saling berpagut hingga deringan sebuah telepon yang terus berbunyi membuyarkan mood mereka.
" Angkat dulu, siapa tahu penting. " kata Evelyn
" Tidak ada yang lebih penting dari dirimu. " kata Mahez yang sudah bersiap akan mencium lagi. Namun Evelyn mendorong.
__ADS_1
" Angkat dulu Mahez. " kata Evelyn yang mulai terganggu dengan suara ponsel yang sangat keras.
Mahez sebenarnya ingin mematikan. Namun di urungkan karena yang menghubungi Aldo.
" Kenapa? " tanya Mahez
" Maaf Tuan, saya sudah menemukan sebuah resort nyaman menghadap danau Muritz, sangat asri dan cocok untuk Nona yang sedang hamil muda Tuan. " kata Aldo
" Kamu menelponku hanya untuk memberitahukan itu. Menganggu orang saja. " kata Mahez sambil memutuskan saluran telepon
Evelyn yang mendengar pun segera mencari alasan, karena ia tahu suaminya tidak akan melepaskan untuk memakannya. Mahez bisa lupa jika Evelyn baru keluar dari rumah sakit karena perbuatanya.
" Mahez, sebelum kamu kembali ke Jakarta, bisakah kamu yang mengantar kepindahan kita ke resort baru itu. Aku sudah tidak sabar menghirup udara segar danau Muritz. " kata Evelyn.
Mahez sebenarnya enggan menuruti kemauan Eve, karena dia memilih melanjutkan permainan yang tertunda tadi. Tapi melihat Eve yang seperti sangat mengharap, akhirnya menuruti.
Mahez kembali menghubungi Aldo.
" Jemput sekarang, aku dan Eve ke resort itu. " kata Mahez lagi lagi tanpa permisi mematikan sambungan telepon.
Aldo yang di buat kebingungan, sepuluh menit yang lalu dia ditelpon untuk mencari resort dan segera mengabarkan, namun sepuluh menit kemudian di kabari justru memaki dirinya. dan sekarang belum ada satu menit sudah di telpon kembali, untuk menjemput kedua majikannya.
Evelyn duduk di sofa sambil memainkan ponselnya, sambil menunggu kedatangan Aldo. Tapi saat Mahez mendekat, dia merebut ponsel itu.
" Aku cemburu dengan ponselmu. Kamu selalu menyentuhnya, kamu selalu mengingat dia dimana, bahkan kamu mengabaikan ku demi ponsel ini. " kata Mahez sambil memperlihatkan ponsel itu.
__ADS_1
" Mahez, aku rasa kamu perlu ke dokter. Kenapa kamu sekarang jadi pecemburu, kamu sekarang berubah jadi manja, aku seperti lupa Mahez yang berwibawa, dingin dan pendiam. " kata Evelyn
" Jadi kamu menyesal menikah dengan ku? " tanya Mahez mulai mengungkung tubuh istrinya dibawah tubuhnya.