Kisah Cinta Evelyn

Kisah Cinta Evelyn
BAB. 39


__ADS_3

" Diamlah. Atau kamu ingin aku melakukan hal lebih dari ini. " kata Aldo dengan suara serak.


Akhirnya seorang Nihan pun bisa menuruti keinginan Aldo. Karena sejujurnya Nihan sangat takut. Bagaimana pun Aldo seorang laki laki. Nihan tidak ingin memancing hal yang lebih agar tidak merugikan dirinya.


" Tubuhmu sangat panas. Berbaringlah aku akan membuatkan bubur lalu minumlah obat. " kata Nihan mencoba melepaskan pelukan itu.


Aldo pun menuruti perintah Nihan dengan patuh. Aldo merasa sangat pusing, hingga dia merebahkan tubuhnya di sofa begitu saja.


Nihan masuk kedapur yang tidak di sekat dari ruang tamu sudah terlihat. Ia membuka setiap lemari namun tidak di temukan adanya beras, atau bahan untuk masak. Dia membuka lemari es tapi ternyata isinya hanya minuman dan buah buahan.


" Bisakah kamu berikan kunci pintunya, aku akan mengambilkan bahan makanan ku untuk ku masakan. " kata Nihan menatap Aldo


Aldo pun membuka matanya, tanpa menjawab menatap wajah Nihan yang masih terlihat cantik, walau sudah seharian bekerja.


" Percayalah aku hanya ingin menolong mu membuatkan soup. Di sini tidak ada bahan apa pun untuk ku masak. Kau itu memang pelit atau malas sampai tak ada satu bahan makanan pun tersedia. " kata Nihan mengejek


Aldo hanya tersenyum dengan penuturan Nihan. Lalu dia bangun berjalan mendekati pintu.


" Kamu tunggu saja di sini. Biar aku ambil sendiri, jika kau sampai pingsan di bawah itu justru hanya akan tambah merepotkan ku. " kata Nihan memperingati


" Bagaimana jika kau kabur. Lalu siapa yang akan mengurusku. " kata Aldo


" Kau itu tak tahu malu sekali, kemarin saja kau menghinaku semau jidatmu, sekarang kau minta aku mengurusmu. Bagaimana jika aku meracunimu. " kata Nihan


" Coba saja kalau berani. Kalau seandainya aku masih bisa hidup aku akan membalasnya, tapi jika aku mati, adik ku tak akan terima dan akan membalas kan dendam. " kata Aldo bersikekeh akan mengantar ke bawah.


Tapi baru di depan pintu pandangannya mulai kabur dan akhirnya dia bersandar di dinding dan menutup matanya. Nihan pun menolongnya membimbing untuk di rebahkan ke sofa.


" Kau itu merepotkan sekali. Jika adikmu tidak baik padaku, aku tidak akan mau menolong orang se jahat dirimu, mulut setajam belati, wajah sudah sedingin salju eropa. " gerutu Nihan. Dia mengambil kunci dari tangan Aldo. Dia bergegas turun mengambil bahan makanan yang ia belanja tadi, sewaktu pulang dari rumah sakit.

__ADS_1


Nihan terlihat serius memasak, dengan rambut yang di gulung seadanya. Dia berjalan kesana kesini mempersiapkan bahan masakan untuk di cuci lalu di masak. Aldo melihat dari sofa, hatinya menghangat melihat Nihan berada di dapur. Untuk pertama kalinya ada seorang wanita yang di ijinkan masuk ke apartemen nya, selain adiknya.


Setelah matang, Nihan mengangkat sedikit soup itu ke dalam mangkuk.


" Makanlah, lalu minum obat. Aku sudah membuatkan air hangat untuk minum obat." kata Nihan


Aldo membuka matanya, sewaktu Nihan mendekat ia pura pura memejamkan matanya.


" Bisakah kamu menyuapi ku? " tanya Aldo


Karena kasihan Nihan pun menuruti keinginan Aldo. Nihan mulai menyuapkan soup itu sesuap demi sesuap hingga habis tak tersisa.


" Kau itu doyan atau memang kelaparan, sedang sakit tapi satu mangkuk penuh soup kau habiskan. " kata Nihan sambil meletakkan mangkuk.


Aldo yang mendengar ejekan Nihan pun jadi tersedak. Buru buru Nihan mengambilkan air putih untuk di minum. Nihan meracikan obat agar di minum oleh Aldo.


" Minumlah. " kata Nihan memberikan obat yang sudah dia racik.


" Tenang saja aku masih kasihan dengan elia, aku tak akan meracunimu dengan obat ini. Tapi aku sudah meletakkan racun di soup tadi. " kata Nihan


Aldo membulatkan matanya, dia sudah berusaha akan memuntahkan makanan itu dari mulutnya.


Nihan yang melihat oun tertawa.


" Bodoh.... mana mungkin aku meracunimu, aku pun juga mikir mikir jika mencelakai orang. Aku tak mau menghabiskan masa mudaku di penjara. Aku juga masih ingin bersenang senang. " kata Nihan


Aldo menatap Nihan serius. Nihan yang menyadarinya di tatap pun mengambil nafas panjang.


" Sudahlah, ini sudah larut malam. Aku harus pulang. Jika kau tak mau minum obat, ya sudah. Jangan merepotkanku untuk mengurusmu. Setidaknya aku sudah menuruti kemauan adikmu untuk mengantar obat itu. " kata Nihan dan beranjak bangun. Namun Aldo menarik tangan kiri Nihan. Nihan yang tidak tahu akan di tarik pun tak bisa menjaga keseimbangan. Dia terjatuh tepat di dada bidang Aldo. Keduanya saling bertatap larut dalam pikiran masing mading.

__ADS_1


" Lepaskan. " kata Nihan yang mencoba bangun dari dekapan Aldo


Namun Aldo tak menggubris Nihan yang memberontak. Nihan masih berusaha keras untuk bangun.


" Nihan, maafkan aku. " kata Aldo


Sejenak Nihan terdiam, namun kemudian dia memberontak lagi.


" Ku mohon Aldo, lepaskan aku. Jika aku bersalah padamu, aku minta maaf. Tapi tolong jangan seperti ini. " kata Nihan


Aldo pun melepaskan pelukan itu. Dia masih menatap wajah Nihan yang juga sedang menatapnya.


" Minumlah obatmu, supaya demam mu cepat turun. " kata Nihan kembali memberikan obat tadi.


Akhirnya Aldo pun me minum obat itu.


" Ini sudah sangat larut, aku harus pulang. Istirahatlah, supaya besok sudah sembuh. " kata Nihan dan bangun dari duduknya.


Saat Nihan mengambil tasnya, Aldo sengaja menjatuhkan diri dari sofa, agar di tolong Nihan.


Nihan yang melihat pun membantu membimbing Aldo agar kembali ke sofa.


" Bisakah kamu mengantarku masuk ke dalam kamar. Aku tak biasa tidur di sofa. " kata Aldo


Nihan berpikir sejenak, dia menatap pintu kamar Aldo. Dia ragu, bagaimana pun dia seorang wanita, tak baik jika masuk ke kamar laki laki. Tapi saat melihat wajah Aldo yang di bikin sememelas mungkin, akhirnya Nihan membantu membimbingnya masuk ke dalam kamar.


Nihan menginjakan satu langkah di kamar Aldo, terlihat satu ranjang size jumbo tertata rapi, dengan sprei warna abu abu. Dinding yang bercat putih terlihat memberi kesan terang. Ternyata satu kamar yang sangat luas yang di tempati Aldo, semuanya tersusun sangat rapi, melebihi kamarnya. Tak ada satu foto pun tergantung di sana, mungkin karena Aldo tak suka berfoto atau tak suka dengan sebuah foto. Karena di dindingnya tak ada satu apa pun yang tergantung kecuali jam dinding.


Nihan melihat jam di dinding sudah menunjukan pukul setengah satu dini hari. Dia sendiri sebenarnya sangat lelah, tapi dengan tak tahu malunya Aldo mengerjai dirinya.

__ADS_1


Nihan membimbing Aldo duduk di sisi ranjang. Dan membantunya merebahkan tubuh, lalu menyelimuti.


" Nihan, bisakah kamu di sini saja. Ini sudah sangat malam. Aku takut terjadi sesuatu pada diri mu. Akulah yang akan di salahkan Elia jika itu terjadi. " pinta Aldo


__ADS_2