Kisah Cinta Evelyn

Kisah Cinta Evelyn
BAB. 22


__ADS_3

Evelin mendorong Mahez jauh dari tubuhnya.


" Cukup Mahez, aku takut akan menyakiti anak kita. " pinta Evelin


" Aku akan lakukan nya pelan sayang, baby pun merindukan dadynya. " kata Mahez tak mau kalah


" Dady ? aku lebih suka panggilan ayah dan bunda. " kata Evelin


" Anak kita tidak hanya akan menetap di Indonesia sayang. Dia akan mengikuti kemana pun aku pergi, dan banyak perjalanan bisnis ku yang di luar negeri. Sangat tidak cocok jika memanggil ayah saat di luar negeri bukan? " kata Mahez


" Memang kamu akan selalu membawa baby kita selalu ikut, dan meninggalkan ku sendiri? tanya Eve


" Aku membawanya karena aku tak akan meninggalkan kamu pergi dari pandanganku lebih dari satu menit. " kata Mahez pangsung membenamkan miliknya di tubuh Evelin. Evelin hanya bisa pasrah mengikuti permainan suaminya yang tidak bisa di tolak.


Hingga akhirnya Evelin merasakan sakit di bagian perutnya, dia meringis dan hampir menangis.


" Sayang kamu gak papa? " tanya Mahez panik


" Apa kamu perduli? tanya Evelin yang sudah pucat


Dengan terpaksa Mahez menghentikan permainan dengan istrinya. Dan segera menghubungi Aldo untuk mencari dokter kandungan wanita.


Mahez dengan telaten memakaikan pakaian untuk istrinya dengan keringat dingin karena menahan hasrat nya yang belum tuntas,tapi harus memakaikan baju Evelin karena Eve sangat pucat.


Tak lama seorang dokter datang. Bertanya dalam bahasa ingris


" Kenapa Nona? Bagian mana yang sakit. " tanya dokter itu


Evelin pun hanya menunjukan bagian yang sakit tanpa menjawab.


" Anda sedang mengandung Nona, dan kandungan anda masih sangat lemah. " kata dokter


Dokter itu pun melihat Mahez, dan sedikit tersenyum.


" Maaf Tuan, jika anda ingin menengok baby anda, harus ada kontrolnya ya. Karena selain bisa membahayakan janin juga bisa membahayakan ibunya. " kata dokter tanpa basa basi


Mahez hanya diam saja tak menanggapi ucapan dokter. Walau sebenarnya dia sangat malu.


" Kalau saya sarankan, jangan berhubungan dulu dalam tahap trimester ini. Menunggu sampai janin kuat baru anda bisa menengok. " kata dokter lagi


" Trimester. Kira kira berapa hari lagi dari sekarang. " tanya Mahez

__ADS_1


Aldo hanya bisa menggelengkan kepala, melihat Tuannya jika sudah bersama Evelin maka akan jadi bodoh karena bucin.


" ini sudah dua bulan, mungkin tinggal satu bulan atau satu bulan setengah, tergantung kondisi janin. " jawab dokter


" Satu bulan? mana mungkin aku sanggup menahan satu bulan, satu hari pun aku tak mampu. " gumam Mahez yang masih bisa di dengar oleh semua orang.


Evelin hanya bisa menutup mata dan mengigit bibir, dia sangat malu dengan aldo dan dokter karena kemesuman suaminya.


" Ini semua untuk calon baby Tuan. Aku akan menuliskan resep beberapa vitamin dan penguat kandungan. " kata dokter


" Tuliskan penguat kandungan yang sangat kuat dokter, agar aku bisa menengoknya setiap saat. " kata Mahez


Aldo dan Eve hanya bisa melongo dengan ucapan Mahez yang tak tahu malu seperti itu. Eve hanya bisa pasrah dengan keadaan. Berbicara pun percuma. Karena suaminya sedingin es dan dan sekeras baja.


" Begini Tuan penguat pun qda dosisnya, jika kelebihan dosis, juga akan sangat berbahaya bagi janin. Apa anda benar benar tidak bisa ber puasa selama sebulan. " tanya dokter itu masih sabar


" Tidak. " jawab Mahez tegas


Dokter itu pun juga ikut jengkel, karena jika melihat kondisi Eve sangat lemah. Tapi suaminya masih saja tidak perduli untuk menjamah.


" Anda bisa main solo saja sementarq ini. " kata dokter itu yang kehabisan kata kata.


Dokter itu sudah pergi, tinggal Mahez dan Eve di ruangan tersebut.


" Mahez, apa bisa kita pulang. " kata Eve. Karena ruangannya sedikit sempit membuatnya tak nyaman. Hanya lemari lemari yang bisa ia lihat.


" Bisa. Tunggu sebentar biarkan Aldo membawa kursi roda ke sini. " kata Mahez mencoba menghubungi Aldo


" Aku tidak mau dengan kursi roda. " jawab Eve


" Tidak ada kata tidak, apa kamu tidak dengar dokter tadi bilang kondisi baby kita lemah. " kata Mahez


" Itu karena kamu, biasanya juga tidak seperti ini. " kata Eve


" Sayang, itu karena baby kita belum mengetahui aku dady nya, jika dia sudah tahu dan mengenal maka dia akan sangat senang jika dady menengoknya. Jadi ini adalah kesalahanmu, karena memisahkan dady dengan baby. " kata Mahez sambil mengelus perut Eve yang masih rata dan menciumnya.


Eve hanya bisa memutar bola mata malas, karena berdebat dengan Mahez adalah percuma.


Tak lama pintu di ketuk. Mahez membuka karena dia pikir adalah Aldo.


Terlihat Bastian sangat dingin menatapnya.

__ADS_1


" Kurang ajar. " kata Bastian sambil memukul Mahez


Mahez pun tak tinggal diam, dia membalas memukul Bastian. Dia tidak terima mendapatkan pukulan, karena bagaimana pun dia adalah suami Eve, dia berhak seutuhnya atas istrinya.


" Hentikan. " kata Eve sambil memegang perutnya.


Tapi keduannya telah di termakan emosi masing masing, hingga tak merespon ucapan Eve


Evelin merasa terguncang karena pertengkaran suami dan juga Bastian, merasakan kram perut yang menyiksa. Hingga dia meringis dan meminta tolong jika perutnya sakit.


" Aduh sakit, tolong. " kata Eve


" Eve....! " kata Mahez dan Bastian bersamaan.


Mahez tanpa berpikir panjang langsung mengangkat istrinya, sedangkan Bastian segera membuka pintu lebar lebar. Keduanya sangat khawatir dengan kondisi Eve.


Bastian membuka pintu mobil untuk Mahez dan Evelin, namun Mahez menolak, dia mencari cari Aldo bamun tak terlihat.


" Apa kamu menunggu Eve keguguran di sini? " tanya Bastian


Mendengar kata keguguran membuat jantung Mahez seolah berhenti. Ini adalah satu satunya cara mengikat Eve untuk tidak meninggalkan dirinya. Dia tidak ingin terjadi apa apa pada Eve pun akhirnya menuruti naik mobil itu.


Bastian yang melihat Eve sudah sangat pucat dan terlihat menahan rasa sakit yang amat sangat pun melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Mahez sangat cemas melihat Eve yang pucat.


" Sayang, kamu harus kuat. " kata Mahez dengan mata yang hampir meneteskan air.


Evelin tak menjawab hanya bisa meringis menahan sakit di perutnya.


Setibanya di rumah sakit, Bastian segera membuka pintu mobil dan berteriak meminta tolong agar di bawakan ranjang darurat.


Terlihat dua perawat mendorong ranjang pasien kearahnya. Mahez mengangkat Eve dan meletak kan dengan sangat pelan. Ketiganya menuju ruang Emergency.


Mahez ikut menerobos masuk, namun perawat menahannya.


" Maaf Tuan, Anda tidak boleh masuk. " kata perawat dalam bahasa inggris


" Tapi saya suaminya, saya harus mendampinginya. " kata Mahez dengan cemas


" Jika kamu tidak ingin terjadi apa apa pada Eve, menurutlah jangan mempersulit keadaan. " kata Bastian menarik kasar Mahez untuk keluar.

__ADS_1


__ADS_2