
" Mahez jangan ! Aku takut menyakiti baby. " kata Evelyn yang sudah ketakutan karena Mahez sudah siap menerkam.
" Justru karena aku mencintainya, aku ingin menegok nya. Aku ingin Baby juga mengenal dan mencintai dady nya juga. " kata Mahez sambil ingin mencium bibir istrinya,namun terhenti karena suara bel pintu apartemen yang berbunyi.
Mahez tak menanggapi dia berlanjut mencium Evelin, namun dengan cepat Evelyn mendorong suami mesumnya.
" Itu pasti Aldo. Aku sudah tidak sabar ingin memandang hamparan danau yang sejuk. " kata Evelyn yang senang. Sebenarnya dia hanya ingin mengulur waktu saja, Evelyn masih takut jika dia melayani suaminya, akan berujung di rumah sakit dan berimbas pada kondisi bayinya.
Evelyn dengan sedikit berlari karena senang lepas dari mangsa suaminya ingin membuka pintu apartemen, namun Mahez segera menarik istrinya.
" Duduk di sini. Kamu hanya boleh keluar memakai kursi roda. " kata Mahez datar sambil meninggalkan Evelyn yang melongo.
Mahez berjalan membuka pintu, Tanpa di persilahkan masuk wanita itu menerobos masuk dan dengan sengaja menyenggol pundak Mahez hingga Mahez berbalik badan menatap tajam wanita itu.
" Nihan, bagaimana bisa kamu ada di sini? " tanya Eve yang kaget sekaligus bingung. Karena dia saja, baru mengetahui apartemen Mahez dan belum sempat mengabarkan pada sahabatnya itu.
" Kau tanya saja pada suami gilamu itu? " kata Nihan sambil menunjuk Mahez yang sedari tadi menatapnya tajam
" Apa?? Kenapa kau melihatku seperti itu? Kau pikir aku takut dengan tatapanmu, asal kamu tahu ya, aku tidak pernah takut dengan ancamanmu,aku tidak pernah takut akan di keluarkan dari rumah sakitmu itu. Aku hanya kasian saja pada temanku. " kata Nihan congkak
Evelyn menatap Nihan dan Mahez bergantian.
" Dia yang akan mengurusmu saat aku di Jakarta Eve, aku hanya sebentar, mungkin dua hari aku sudah kembali ke sini. " kata Mahez mendekati Evelyn
" Dua hari? Apa nenek sihirmu itu tidak akan menangis meraung raung kau tinggalkan lagi. " kata Nihan menjawab kata kata Mahez
" Jaga mulutmu Nona, " kata Aldo mendekati Nihan, dia tidak tahu jika wanita itu adalah wanita yang sering masuk di mimpinya tiap malam.
Nihan berbalik badan melihat arah suara yang membentaknya itu.
" Manusia kutub utara juga di sini. Pantas saja temanku langsung di bawa kerumah sakit, pasti karena terkontaminasi es balok dan manusia salju, menjengkelkan sekali. " kata Nihan
" Lain di mulut, beda di hati " gumam Evelyn yang hanya bisa di dengar oleh Nihan. Otomatis langsung mendapat pelototan mata dari Nihan.
__ADS_1
Deg.
Hati Aldo pun dapat merasakan getaran yang hebat, belum pernah dia merasakan sesak dada yang menjalar di tubuhnya hingga susah bernapas. Namun dia berusaha menutupi sebisa mungkin, untuk meninggikan ego nya.
" Ternyata kalian sudah saling kenal, kalau begitu aku tak perlu mengenalkan. Langsung saja ke jenjang pernikahan. " kata Sean yang berdiri di belakang Aldo dengan membawa barang barang Nihan. Dia sengaja datang dari Indonesia, untuk mengantar dokter Nihan atas permintaan Mahez langsung, dia datang bersamaan dengan Aldo karena Nihan meninggalkannya begitu saja di lobby saat Sean memberitahu nomer apartemen Mahez. Sedangkan Sean harus mengeluarkan semua barang barang Nihan dari taxi dan membawanya, Aldo dan sean bertemu saat berada dalam satu lift.
" Pernikahan? " kata Aldo mengerutkan keningnya
" Kau tahu kakak ipar, dia dokter Nihan yang ingin ku jodohkan denganmu kemarin. Dia sangat cantik dan banyak sekali yang memperebutkan nya. Jika kamu tak segera menikahinya dokter Nihan pasti akan diambil orang " kata Sean tang mengompori Aldo agar segera menikah sehingga dirinya juga bisa segera menikahi adiknya.
" Kenapa tidak kau saja yang menikahinya, dirimu bukan yang ngebet pingin nikah " jawab Aldo santai
Nihan yang tidak terima dengan ucapan Aldo pun menjawab. Nihan tersinggung karena Aldo menolaknya.
" Untuk apa aku menikah dengan manusia kutub utara, di dunia ini masih banyak pria normal yang mengejarku. Kenapa aku harus menikah dengan lelaki kelaianan seperti itu " kata Nihan sambil duduk dan menatap tajam Aldo
" Kenapa aku harus mendengarkan cerita cinta kalian, apa kalian pikir aku mengundang kalian untuk bercerita. Aku tak punya banyak waktu untuk mengurusi percintaan kalian " sentak Mahez
" Eve, apa kamu tak bisa jalan? Memang suamimu menghajarmu habis habisan? " kata Nihan blak blakan
Evelyn hanya tersenyum kecut karena sangat malu pada sahabatnya itu.
" Tuan Mahez, apa dua bulan Nura lampirmu tidak memberi kehangatan sampai kau tak bisa menahannya dengan evelyn yang belum genap melewati trimester pertama kehamilan nya. " tanya Nihan yang membuat Mahez terbakar hingga darahnya mendidih ingin sekali meremas mulut lemes teman istrinya itu.
" Nona, jaga sikapmu dengan Tuan Mahez. " kata Aldo yang membentak sambil mendekati Evelyn menaruh kursi roda.
Mahez mengangkat istrinya duduk di kursi roda, sungguh Evelyn sangat malu dengan semua orang yang ada di sana, baginya ini sangat berlebihan sehingga membuatnya tak nyaman.
" Sekali lagi kamu membentakmu, ku suntik cairan rabies ke tubuhmu, agar kamu bisa normal seperti manusia. " kata Nihan jutek sedangkan Sean kelepasan tertawa mendengar penuturan Nihan, yang langsung di pelototi oleh semua orang yang di ruangan itu.
Mereka keluar dari apartemen yang baru saja di beli Mahez, menuju Resort pilihan Evelyn.
" Nihan, barang banyak sekali, kau mau mengurus kakak ipar atau mau rekreasi? Bantu satu koper kecil ! " kata Sean
__ADS_1
" Kau itu repot sekali. Lagi pula maunis satu itu tanganya nganggur kenapa tak menyuruhnya. " kata Nihan cuek terus berjalan meninggalkan Sean yang kesusahan membawa barang barang nya sebanyak tiga koper.
" Kakak ipar, bantu aku bawa barang barang calon istrimu. " kata Sean meminta pertolongan pada Aldo.
" Kau itu senang sekali memanggil orang dengan sebutan kakak ipar. Memang berapa kakak yang kau punya? " kata Aldo sambil meraih koper kecil milik Nihan itu.
Sean pun tersenyum, akhirnya walaupun hanya koper kecil yang diambil oleh Aldo, tapi itu sudah sangat membantu.
" Kau dan Mahez adalah kakak terbaik ku. " jawab Sean sambil berjalan agak cepat menyusul Aldo yang meninggalkannya.
Mereka pun mendekati sebuah mobil Alphard yang di kendarai Aldo tadi.
" Nihan, apa kau tidak mau menemani Aldo di depan. Dia yang menyetir " kata Sean kencang hingga bisa di dengar semuanya.
Nihan datang mendekati Sean, Aldo pikir Nihan benar benar mau duduk di depan. karena Posisi mereka sekarang di depan pintu mobil depan. Aldo merapikan jas nya memandang kearah lain menutupi gugupnya.
" Dia yang menyetir, atau kau yang menyetir apa urusannya denganku? Jangan harap aku mau duduk dengan manusia dari kutub utara ini. Yang ada aku akan jadi batu es juga. " ketus Nihan sambil membuka pintu belakang mobil mengibaskan rambut panjangnya.
Nihan masih jengkel karena kata kata Aldo tadi, yang secara tidak sengaja menolak untuk menikahinya, dengan menyuruh Sean yang menikahinya. Padahal tidak ada niat seperti itu dalam hati Aldo.
" Dasar wanita tak punya adab. Biarkan Tuan Mahez dan Nona Evelin dulu yang masuk. " kata Aldo mencekal tangan Nihan.
" Aku duduk di belakang, bukankah aku harus duluan. Kau itu bodoh sekali. " ketus Nihan dengan mengibaskan tangan agar di lepas, tapi tidak di lepaskan Aldo.
Dengan wajah cemberut Nihan pun berdiri menunggu Mahez dan Evelyn masuk kedalam mobil. Namun setelah Mahez dan Eve masuk pintu itu di tutup kembali oleh Aldo. Nihan yang melihat pun ingin protes. Namun Aldo membuka pintu depan dan menarik Nihan agar duduk di depan dan menutup kembali pintu itu.
Tinggal Sean yang melongo, karena semua pintu sudah di tutup.
" Kakak ipar, aku duduk dimana? Kenapa kau tutup semua? " tanya Sean
" Lewat belakang cepat. Tuan Mahez tidak suka menunggu. " jawab Aldo dingin dan berputar menuju jok kemudinya. Akhirnya mau tidak mau Sean harus melompat lewat pintu belakang.
" Untung kakak ipar, kalau tidak, benar kata Nihan, ku suntik cairan rabies beneran " batin Sean gondok dengan tingkah Aldo yang sama menjengkelkannya dengan Mahez
__ADS_1