
Satu jam setengah berlalu, tak ada tanda pintu akan di buka. Namun Mahez samar samar mendengar tangisan seorang bayi.
Mahe sesikit lega, namun ia kembali takut saat seorang perawat keluar berlari, tak menjawab pertanyaan Mahez, langsung pergi lalu kembali dengan berlari lagi.
Jantung Mahez seolah berhenti, mendapati kejadian itu. Pikirannya semakin kalut, ia hampir saja mendobrak pintu ruang operasi itu, untung saja donter Virza dan kedua anak buahnya segera menarik tubuhnya.
Mahez meraung raung, seperti anak kecil yang di tinggal ibunya.
Namun terhenti saat pintu rumah sakit terbuka dan keluar seorang dokter yang menjelaskan tadi.
" Bagaimana keadaan istri saya dok? " tanya Mahez
" Selamat anak anda lahir dengan selamat, dia berjenis...." ucapan dokter itu terjeda oleh Mahez yang sedikit membentak.
" Istri saya dok, bagaimana kondisi istri saya. " ujar Mahez lagi
" Istri anda masih perlu perawatan intensif, Ia belum di perkenankan di jenguk. " kata dokter itu
" Apa saya bisa melihatnya, sebentar saja dokter. " ucap Mahez memelas
Dokter itu terdiam, ia jadi memelas melihat penampilan Mahez yang kacau, dapat di bayangkan betapa depresi nya ia saat ini.
" Baiklah, tapi tolong kenakan pakaian bersih dan juga gunakan pelindung, seperti saya. Jangan membuat ke kacauan. Biarkan tenang dulu. " kata dokter itu.
" Baiklah. " Mahez langsung mengambil pakaian yang di bawa anak buahnya tadi. Dan berganti di toilet.
Setelah mengenakan pakaian lengkap, ia masuk melihat Evelyn yang terbaring dan terpejam matanya. Ia membelai pipi istrinya. Mahez tak dapa membendung air matanya saat melihat anaknya yang sangat lucu, masih dalam perawatan lampu inkubator karena ia belum waktunya lahir.
Mahez mendekati bayi mungil itu, lalu mengumandangkan adzan di telinga bayi itu. Lama ia memandang bayi itu, ia dapat melihat kemiripan ia dan bayi itu, walau masih sangat merah namun ia dapat mengenali jika bayi itu benar benar mirip dirinya kelak.
Mahez memegang tangan Evelyn diciumi, dan tak henti airmata Mahez menetes, menatap orang yang di cintainya terbaring tak berdaya.
Sampai perawat memberitahukan agar Mahez keluar, ia pun akhirnya keluar, meninggalkan Evelyn dan bayinya.
__ADS_1
Mahez duduk di kursi tunggu. Ia masih was was sebelum Evelyn membuka matanya, Mahez masih merasa sesak dadanya.
Tak lama Nihan datang di iringi Aldo di belakangnya yang berjalan sedikit berlari. Nihan langsung menghampiri Mahez yang berdiri karena melihat kehadirannya, dan Nihan langsung mendorongnya hingga terduduk kembali.
" Menjaga istri satu saja tak becus, bagaimana bisa kamu di anggap suami siaga. Seharusnya kamu tak pantas disebut ceo, jika menyelamatkan istrimu saja tak bisa. " Nihan meluapkan emosinya di depan Mahez, dan untuk pertama kalinya pula Mahez mendapat penghinaan, bahkan ia diam saja tak menjawab satu patah kata pun. Aldo hanya diam, dia bingung juga harus membela siapa.
Nihan menghampiri ruangan Evelyn, lalu ia keluar entah kemana. Sedangkan Aldo hanya menatapnya saja.
Tak berapa lama Nihan kembali, dengan seorang dokter yang menangani operasi Evelyn. Ia berjalan di belakang Nihan. Saat tepat di depan pintu ruangan Nihan pun memarahi dokter itu.
" Kamu tahu siapa orang yang di dalam sana. Dia adalah orang yang paling penting di rumah sakit ini. Jika kamu tak bisa membuatnya membuka mata dalam satu jam ke depan, jangan harap kamu masih bisa menyandang status dokter, karena selain di keluarkan dari sini, rumah sakit mana pun tak akan ada yang bisa menerimamu. " tegas Nihan
" Tapi....." ucapan dokter itu pun terjeda Nihan
" Ingat satu jam, jika tidak satu jam, bersiap berkemaslah. Masuk lah, jangan keluar sebelum Evelyn sadar." kata Nihan dengan menunduk.
Dokter itu hanya menatap Nihan pasrah, akhirnya dengan berat hati ia masuk kedalam.
Virza menggelengkan kepalanya.
" Kamu masih sama Nihan. Tak pernah gentar membela anak bawangmu. " kata Virza
Kali ini tak ada jawaban dari Nihan, ia tak bisa membendung airmatanya, dan ini adalah pemandangan yang sangat langka bahi Virza menatap Nihan bisa mengeluarkan air mata.
Aldo meraih tubuh Nihan dalam dekapan nya untuk menenangkan. Sungguh Aldo ikut merasa sakit melihat air mata Nihan uang deras membanjiri wajahnya.
Akhirnya Virza menyingkir, karena Mahez sudah ada yang menemani, lagi pula besok dia harus kembali bekerja pagi. Dan ini sudah terlalu larut malam.
" Sudahlah, semua akan baik baik saja. " ucap Aldo dengan membelai rambut Nihan
Nihan seperti dejavu, ia pernah merasakan hal seperti ini, namun ia bukan Aldo melainkan Reyhan. Nihan semakin nyakin untuk membangun rumah tangga dengan Aldo, dan berupaya akan mempertahankan pernikahannya ini. Lagi pula sekarang Reyhan sudah bahagia dengan Elia, pikir Nihan.
Setengah jam berlalu, dokter itu belum juga keluar, Nihan sesekali melihat kedalam ruangan, dokter itu seperti sedang meneliti sesuatu.
__ADS_1
Akhirnya setelah menunggu selama empat puluh menit, dokter itu keluar dan memanggil nama Mahez.
" Siapa yang bernama Mahez? " tanya dokter
" Saya.... " ucap Mahez, lalu berdiri menghampiri dokter.
" Istri anda ingin bertemu. " kata dokter itu
Dengan raut sumringah ia masuk. Ia menatap Evelyn yang juga sedang menatapnya, kabahagiaan terpancar dari wajah Mahez, ia tak menyangka jika ia bisa melihat senyum Evelyn lagi.
" I love You, Eve..... ! I love You....! " ucap Mahez menciumi seluruh wajah Evelyn.
" Sudah Mahez, aku tak bisa bernapas. Dimana anak kita Mahez? " tanya Eve
" Dia ada di sebelahmu, sangat tampan. Sama seperti aku. " jawab Mahez
Evelyn menolehkan wajahnya, sehingga dapat melihat Bayinya yang masih di dalam kaca dan di lampu inkubator.
" Kenapa dia tidak di sini Mahez? Apa dia bermasalah " tanya Eve
" Dia masih umur delapan bulan Eve,belum waktunya lahir. Dan dia merasa ke dinginan, seperti aku yang kedinginan tidak kamu peluk malam ini. " kata Mahez
" Sejak kapan kamu pandai merayu? " Eve mendelik
" Sejak aku mengenalmu. " jawab Mahez
" Aku baru mendengarnya, padahal kita sudah hampir setahun menikah. " jawab Eve
" Jadi begini ya ! Aku orang yang memperjuangkan hidupmu, tapi setelah sadar yang kau cari justru ceo tak berguna. " kata Nihan langsung masuk begitu saja dan duduk di sisi ranjang bersebrangan dengan Mahez, di ikuti Aldo yang mengekor di belakanganya
Evelyn menatap Mahez dan ia merasa aneh karena suaminya tidak membalas penghinaan teman baiknya itu.
" Baiklah sebagai penghormatan karena kamu turut andil memperjuangkan hidup Evelyn, aku akan memberikan cuti bebas kerja selama sebulan. Untuk kalian bisa honey moon dan pengenalan satu sama lain. " ujar Mahez yang membuat Evelyn semakin bingung
__ADS_1