
Aldo membuka amplop berwarna coklat. Dia mendapati sebuah tulisan dan tiga buah foto kebersamaan Nihan dengan seorang laki laki, yang Aldo pastikan adalah pengirimnya . Aldo semakin panas, saat membaca sebuah surat yang bukan seharusnya ia baca. Sebuah pengungkapan perasaan.
" Apa kamu memang sengaja menggoda setiap laki laki. " gumam Aldo sambil meremas foto dan isi surat itu.
Ingin sekali dia melampiaskan amarahnya, seolah Nihan sudah menjadi miliknya. Namun dia urungkan karena menghormati Mahez dan Evelyn yang berada di kamar.
Pagi hari Evelyn merasakan sesak karena terhimpit sesuatu. Dia mencoba membuka matanya ada sebuah tangan yang melingkar di pingganganya, dan sebuah tubuh yang menempel di punggungnya. Dia pastikan adalah laki laki.
Evelyn segera terbangun dan melihat siapa orang itu. Dia dapat bernapas lega karena orang itu adalah suaminya sendiri.
Mahez pun ikut terbangun, mendapati istrinya yang bangun tergesa gesa.
Evelyn menyentuh wajah Mahez memastikan jika dia sedang tidak bermimpi. Mahez pun menyentuh tangan Evelyn yang menyentuh wajahnya lalu menciumnya.
Mahez pun menarik tubuh kecil istrinya kedalam dekapannya.
" Kamu tahu, aku sangat merindukan kalian. " kata Mahez dengan mencium kening istrinya.
Keduanya saling bertatap, seolah memberitahukan kerinduan mereka yang mendalam.
Mahez mendekatkan wajahnya, mencium kening, hidung, dan berhenti di bibir tipis istrinya.
" Aku menginginkanmu, bolehkah? " tanya Mahez
Evelyn tersenyum dan menganggukan kepala. Mahez kembali mencium bibir istrinya ******* dan menyapu hingga kerongga mulut istrinya. Evelyn yang kehabisan udara pun mendorong tubuh Mahez agar melepas ciuman mereka.
__ADS_1
" Aku sangat mencintaimu Eve " kata Mahez yang sudah di kabut gairah. Dia kembali mengulang mencium bibir istrinya, Evelyn pun membalas. keduanya saling berpagut melepas kerinduan yang membuncah. Ciuman itu turun di leher istrinya, dia tinggalkan banyak jejak merah disana. Mahez membuka kemeja yang ia kenakan, karena semalam terlalu lelah hingga tak berganti pakaian. Mahez menyingkap baju Evelyn keatas, terlihat dada Evelyn yang semakin padat dan berisi terbungkus bra berwarna hitam, hingga membuat kontras kulit Evelyn yang semakin putih mulus. Berlahan Mahe membenamkan wajahnya disana, dengan tangannya membuka pengait di belakang. Evelyn hanya bisa pasrah menerima setiap sentuhan yang diberikan suaminya. Sungguh sejatinya dia pun juga merindukan sentuhan itu. Mahez juga meninggalkan banyak jejak disana, Evelyn begitu terbuai dengan permainan Mahez, hingga tanpa ia sadari sudah tak memakai satu pakaian pun. Mahez sudah menanggalkan semuanya.
Evelyn menahan suaminya yang akan melakukan penyatuan, terlihat wajah Mahez yang sudah tak bisa lagi membendung hasratnya.
" Bisakah kamu melakukan pelan. Aku takut menyakiti baby. " kata Evelyn
" Tentu saja. Aku akan melakukanya dengan sangaaat lembut. " kata Mahez dengan mencium bibir istrinya lagi, karena Mahez begitu menggilai bibir istrinya, Walaupun baru bangun tidur nafas Eve selalu wangi.
Hingga keduanya terlarut dalam ******* dan lenguhan, membawa mereka dalam kenikmatan dunia. Pagi yang indah untuk kedua insan yang saling memadu cinta. Keduanya saling memberi dan menerima dalam cinta yang mereka bina.
" Eve.... " kata Nihan sambil mengetuk pintu karena tak biasanya Evelyn mengunci kamarnya. Nihan ingin membangunkan karena sekarang sudah pukul sembilan pagi tak biasanya Evelyn belum bangun.
Aldo yang baru saja dari luar membeli sarapan, segera membekap mulut Nihan dan mengangkatnya membawa pergi jauh dari kamar Tuannya. Dia tahu saat ini pasti Tuannya sedang melepas kerinduan bersama istrinya.
" Kamu.... " kata Nihan setelah tahu siapa yang membekapnya.
" Jangan menganggu Tuan dan Nona. Biarkan mereka bersama semau mereka. " kata Aldo berjalan memunggungi Nihan.
Nihan diam saja tak menjawab, dia masih mengatur napas dan dadanya karena ketakutan. Karena ia pikir dia akan diculik.
" Bilang jangan ganggu ya tinggal bilang saja, kenapa harus membekap mulut dan menggendong menyingkirkan segala. Memang kamu pikir aku juga tak punya perasaan apa? Jika tahu kalian disini, aku harusnya menerima ajakan kak Tian tadi, untuk ikut mendekor sebuah rumah. " gerutu Nihan yang bisa di dengar oleh Aldo.
Aldo panas, karena Nihan membicarakan lelaki lain dihadapanya. Dia berbalik mendekati Nihan.
" Apa kamu benar benar tidak bisa, untuk bersikap tidak murahan seperti ini? " tanya Aldo menatap kedua bola mata Nihan.
__ADS_1
Nihan sendiri bingung kenapa Aldo selalu melukai perasaan nya. Kenapa Aldo selalu mengatakan dirinya murahan setiap kali bertemu.
" Aku murahan, atau aku seorang ****** pun apa urusannya dengan mu? Aku menjual tubuhku, apa perdulinya denganmu? Kenapa kamu selalu mengusik kehidupanku. " kata Nihan sambil mendorong sekuat tenaga tubuh Aldo hingga terhuyung.
Nihan berjalan cepat kedalam kamar, dia tidak ingin satu orang pun tahu jika dia meneteskan air mata. Nihan tak habis pikir kenapa Aldo sebegitu bencinya pada dirinya, padahal dia tak pernah menggoda Aldo selama ini. Nihan mengunci kamarnya dan berbaring menangisi kata kata Aldo yang sangat menyakitkan baginya.
Berbeda dengan Nihan, Evelyn sedang berbahagia dengan Mahez. Seharian ini Evelyn tak diijinkan keluar dari kamarnya, bahkan Evelyn tidak diperbolehkan memakai pakaian. Jika waktu makan, Mahez lah yang keluar mengambil makanan membawanya masuk. Hingga Evelyn melupakan sahabatnya. Dia tidak tahu jika sahabatnya sedang bersedih.
" Eve.... Jika suatu hari nanti aku menjadi miskin, apa kamu masih akan selalu setia padaku? " tanya Mahez sambil mencium kening istrinya. Keduanya masih berbaring berpelukan di ranjang,tanpa berbalut pakaian, hanya selimut yang menutupi tubuh mereka.
Evelyn menatap Mahez dan tersenyum.
" Kamu tahu, kamu adalah orang pertama yang menghadirkan sebuah getaran dalam hatiku. Setiap aku melihatmu, jantungku selalu berpacu lebih cepat. Entah kamu kaya atau nanti kamu akan miskin, rasa ini tak akan pernah berubah. Karena cinta yang aku jaga untukmu, adalah cinta yang tanpa batas. Sekalipun kamu sudah menyakitiku, sekalipun aku hanya jadi istri keduamu, rasa ini tak bisa berubah, masih tetap sama dan tidak berkurang sedikit pun. " kata Evelyn mendongakkan wajah nya menatap Mahez. Mahez pun semakin mengeratkan pelukannya. Dia sangat bersyukur karena jawaban Evelyn membuatnya siap untuk membawa Nura ke meja hijau.
" Eve... Ada satu hal yang ingin aku sampaikan padamu. " kata Mahez pelan
" apa ? " jawab Evelyn lembut
" Nura mau kami bercerai, tapi jika kami bercerai, itu tandanya semua harta yang aku punya akan jatuh ketangannya. " kata Mahez
" Kenapa bisa seperti itu ? " tanya Evelyn
" Karena sebelum ibuku meninggal, aku disuruh membuat wasiat. Jika aku meninggalkan Nura, maka aku harus menyerahkan semua harta yang aku punya untuknya. Tapi jika sebaliknya, Nura yang meninggalkan aku, Nura harus pergi tanpa membawa satu benda pun dariku. " kata Mahez
Evelyn terdiam dengan penuturan suaminya.
__ADS_1