Kisah Cinta Evelyn

Kisah Cinta Evelyn
Bab. 46


__ADS_3

Nihan melototi Aldo, tapi justru Aldo tersenyum dengan sangat manis pada Nihan.


" Maksud kamu apa? " tanya Nihan sewot.


" Udah sayang, gak usah malu malu di depan adik ku, kita udah sama sama dewasa. Lagian untuk apa di tutupi lagi. " kata Aldo lembut pada Nihan.


" Halo Sean, akhirnya kita bisa segera menikah. Kak Aldo sudah menemukan seseorang yang bisa meluluhkan hatinya yang sekeras baja, sedingin es ini. " kata Elia yang menatap kedua insan di depan nya dengan senyuman yang sangat bersinar. Terlihat jelas jika dirinya sedang sangat bahagia. Nihan yang melihat pun tak tega untuk memberitahu yang sebenarnya.


Entah apa yang di bicarakan sepasang kekasih itu di dalam telpon, akhirnya Elia memutuskan panggilan telpon itu.


" Kak, kalian harus menraktir adikmu ini di kafe depan. " kata Elia dengan menarik tangan Nihan agar berjalan sejajar.


" Jadi sejak kapan kak Nihan dan kak Aldo jadian, kok kak Nihan gak pernah cerita ke aku sih. " tanya Elia semangat


" Kamu tanya aja kakakmu, aku sendiri juga gak tahu kapan kita jadian. " jawab Nihan males


" Kok kak Nihan gak semangat gitu sih, Kak Nihan terpaksa ya nerima kakak aku. Kak Aldo memang dingin, tapi sebenarnya dia adalah seorang lelaki yang hangat kok. Yang sudah pasti kak Aldo adalah sosok lelaki yang setia. Karena kak Nihan adalah cinta pertamanya. Kak Aldo belum pernah sekalipun berpacaran, atau naksir cewek tau kak. " cerocos Elia saking senengnya dengan calon kakak ipar baru nya.


" Jelas saja, manaada wanita yang mau lirik manusia es seperti itu. Dimana mana, seorang wanita itu mendambakan seorang lelaki yang romantis, lembut, dan hangat. Tidak seperti kakak mu. " gerutu Nihan.


" Lalu apa alasan kak Nihan menerima kak Aldo untuk menjadi pasangan hidup kakak? " tanya Elia dengan pandangan menyelidik pada Nihan. karena dari sorot mata dan jawaban Nihan, tidak menunjukan sebuah pasangan pada umumnya.


" Karena....." ucapan Nihan terjeda


" Karena kakak berbeda dengan yang lain itu, membuat Nihan tak bisa melupakan kakak. Iya kan sayang ? " kata Aldo yang sudah menarik dalam pelukannya.

__ADS_1


" Ish... Baru punya pacar sekali saja, pantas sangat posesif. " gerutu Elia, karena tadinya dia menggandeng Nihan namun di tarik oleh Aldo.


Sebenarnya Nihan berusaha ingin menjelaskan pada Elia, agar tidak semakin salah paham, namun Aldo selalu menghalang halangi, sampai akhirnya Nihan hanya bisa diam dan pasrah mengikuti permainan konyol Aldo.


Entah mengapa, perasaan Nihan pada Aldo, yang dulu sempat mengagumi kini bagai hilang rasa. Mungkin karena sikap Aldo yang terlalu dingin pada Nihan dulu, juga karena penghinaan penghinaan Aldo yang ia lontarkan pada Nihan dulu, mengikis perasaan sukannya pada Aldo. Rasa cinta itu layu sebelum bersambut.


Ketiganya sampai di kafe depan rumah sakit, mereka memilih kursi dalam, dan paling belakang. Suasananya sangat nyaman. Walau penuh namun terlihat sepi tak bising.


" Lalu kapan kalian akan segera melangsungkan pernikahan, agar aku juga segera menikah. hehehe. " kata Elia membuka percakapan.


" Bagaimana jika bersamaan saja, jadi kami pun tak perlu menunggu nunggu lagi. " sahut Sean yang tiba tiba muncul. Sean dan Elia memutuskan bertemu di kafe ini, saat mereka terhubung sambungan telepon tadi.


" Menikah? Bersamaan ? " pertanyaan bodoh itu muncul begitu saja dari mulut Nihan. Dia tidak pernah mengira akan terjebak dalam situasi rumit seperti ini. Nihan ingin memberitahukan yang sebenarnya, namun tak bisa karena Aldo tak mengijinkan. Disisi lain Nihan juga tak tega melihat kebahagiaan Elia hilang, karena selama ini Elia selalu membantunya dalam masalahnya, Elia tak pernah mengatakan tak bisa jika ia meminta tolong dalam hal apapun. Tapi masalahnya jika ia menyanggupi, ini masalah perasaan. Lagi pula Nihan sekarang sudah mulai dekat dengan Reyhan. Teman masa kuliahnya dulu. Namun dia mengambil jurusan manajemen bisnis, karena dia akan melanjutkan usaha papanya, karena dia adalah anak tunggal.


" Aku akan mempertimbangkan nya nanti. Kami belum membicarakan secara pribadi. " kata Aldo menatap Nihan.


" Sudahlah, kalian jangan seperti anak abg saja, kalian ini sudah sama sama tua, sangat tidak pantas jika harus berpacaran terlebih dahulu. " jawab Sean.


" Jangan bicara sembarangan kamu, biar umur tua tapi wajah masih sama dengan anak sma. " kata Nihan dengan melempar kentang yang sedang ia makan.


" Ich... jorok sekali kamu itu. " kata Sean membersihkan kotoran minyak dari kentang yang di lemparkan Nihan padanya.


" Alah... dulu waktu mengejar cintaku, bantal bau ileranku juga katamu wangi. " kata Nihan asal.


" Itu dulu karena aku belum kenal Elia. " kata Sean membela diri.

__ADS_1


Nihan hanya memonyongkan bibirnya tanda meremehkan. Sedangkan Aldo yang nota bene seorang pecemburu, dia merasa kepanasan dengan penuturan Nihan, tapi jika Elia dia santai saja. Karena memang diawal hubungan mereka, Elia lah yang mencintai Sean terlebih dahulu. Jadi menurutnya wajar saja.


" Lihat saja jika kalian berani bermain di belakang kami, aku tak segan segan menghancurkan wajah kalian. " kata Aldo penuh penekanan.


" Kau itu, belum juga jadi suamiku, sudah berani mengaturku. Bagaimana aku harus mempertimbangkanmu. " kata Nihan


" Bukan kah kewajiban suami mengatur istri. " jawab Aldo


" Terserah kau saja, lagi pula aku tak mau menjadi istrimu. " kata Nihan jengah


" Kak Nihan, apa benar kakak tak mau jadi kakak iparku. Lalu untuk apa menerima kak Aldo jika hanya untuk menyakitinya saja. " kata Elia sedih.


" Jika kakak memang tak ingin di nikahi dan menerima kekurangannya, seharusnya kak Nihan tak menerimanya. Aku menyayangi kakak ku melebihi diriku sendiri kak, jadi jika kak Nihan ingin menyakiti kak Aldo, lebih baik kakak menyakiti aku saja. " kata Elia dengan wajah yang hampir menangis.


Nihan sendiri menjadi bingung, kenapa dia seolah yang disalahkan, padahal dalam hal ini dia adalah korban.


" Elia... kamu akan mengerti, karena kakak mu yang mempunyai jawaban. Dia akan menjelaskan kenapa aku tak bisa menjadi istrinya. Aku harus kembali, karena ada pasien yang harus ku tangani. " kata Nihan berdiri dengan merogoh ponsel di sakunya yang terua bergetar.


" Kak Nihan. " kata Elia ikut berdiri mengikuti langkah Nihan menuju rumah sakit.


" Kak... apa boleh aku bicara pada kakak empat mata. " kata Elia


" Bisa. Tapi sekarang ada pasien yang menungguku. " kata Nihan dengan menunjukan sebuah pesan dari virza yang ingin memberitahukan keadaan Nura.


" Bagaimana jika pulang kerja. Apa kak Nihan ada waktu ? " tanya Elia

__ADS_1


Nihan serba bingung, dia harusnya ada janji dengan Reyhan saat pulang nanti. Tapi di sisi lain Elia juga teman baiknya di rumah sakit ini.


__ADS_2