
Arjuna tidak bisa membendung gairahnya yang memuncak, dia melupakan jika sekarang ini mereka sedang berada di rumah sakit, dan wanita yang dalam kungkungannya itu adalah pasien.
Keduanya sampai melupakan statusnya lagi di rumah sakit itu, Nura hanya bisa pasrah berdiam dengan permainan Arjun.
" Arjun hentikan. Cukup. " kata Nura dengan memukul pundak Arjun yang tidak mau berhenti satu kali putaran.
" Tanggung sayang. Sebentar lagi.... " kata Arjun dengan mengerang dan ambruk di atas tubuh Nura, sampai Nura memukul Arjun agar bangun.
Arjun merapikan tubuh Nura, bahkan dengan tidak tahu malunya, ia mengelap tubuh Nura dengan tisu basah, setelah merapikan tubuh Nura, Arjun merapikan kasur yang berantakan karena ulahnya lalu Arjun mencium kening Nura dan membisikan sesuatu.
" You're mine, only mine. I love you. " bisik Arjun dengan mengedipkan satu matanya. Nura hanya tersipu malu, dan memalingkan wajahnya.
"
Arjun pun beranjak bangun dan pergi ke kamar mandi membersihkan diri, tak lupa sebelum masuk toilet, Arjun membuka kunci pintu yang semula ia kunci. Ia takut jika ada dokter yang ingin memeriksa keadaan Nura.
Dan benar saja, Tak berselang lama dokter Virza masuk memeriksa keadaan Nura. Sebenarnya dalam hati Virza ingin bertanya, kenapa ada banyak tanda merah di leher Nura, karena terakhir ia memeriksa tanda itu belum ada.
Namun belum sempat ia bertanya, Vorza dapat menjawab sendiri, karena melihat Arjun keluar dari kamar mandi, karena ruangan Nura, masuk dalam ruangan golongan vvvip, jadi ruangannya ber ac, toilet pribadi, bahkan kamarnya sangat luas membuat Arjun tidak terlalu jijik untuk mandi di toilet tersebut.
Arjun keluar dengan pakaian lengkap dan handuk kecil tersampir di pundaknya, dia menggosok gosok kepalanya, agar rambutnya cepat kering.
Nura jadi kikuk sendiri, Nura malu karena dokter Virza pasti bisa menangkap apa yang baru saja mereka lakukan.
Berbeda dengan Arjun, dia bersikap biasa saja seolah tidak terjadi apa apa.
" Bagaimana dokter, keadaan istri saya? Apa sudah bisa di bawa pulang. Karena aku sudah sangat merindukan nya. " tanpa canggung atau malu Arjun berkata seperti itu pada Virza.
" Keadaan Nona Nura sudah pulih. Mungkin besok pagi bisa pulang. " jawab Virza tersenyum
" Apa akan terjadi sesuatu yang berbahaya, jika saya membawa pulang sore ini dok? " tanya Arjun mendesak
__ADS_1
" Bukan berbahaya Tuan, hanya saja saya ingin memastikan jika kondisi kejiwaan Nona Nura sudah benar benar stabil. " jawab Virza
" Jadi kamu pikir Nura gila? yang ada saya yang gila karena berpisah kelamaan dengan Nura dok. " jawab Arjun tinggi
" Ya seharusnya kamu yang di rawat. Dasar benar benar orang gila. Jangan jangan Nura gila juga tertular laki laki ini. " batin Virza yang tak berani ia ungkap kan.
" sudahlah Arjun, kenapa kamu jadi keras kepala seperti itu. " kata Nura mulai malas.
" Baiklah. Jika merasa ada keluhan, bisa panggil perawat, atau saya langsung. Permisi. " kata Virza setelah selesai memeriksa kondisi Nura.
Nura hanya tersenyum dan mengangguk.
Setelah dokter Virza keluar, Arjun mendekati Nura dan berbisik.
" Jika sudah jadi istriku tak ku ijinkan kamu tersenyum pada siapa pun. " kata Arjun mencubit hidung Nura
Nura memutar bola mata malas.
Nura membaringkan tubuhnya dan memejamkan matanya kembali, dia sebenarnya masih malu dengan semua yang terjadi. Tapi dia juga berpikir kenapa dia tidak bisa menolak setiap pesona Arjun yang di tebarkan pada nya.
Sedangkan Arjun ikut membaringkan tubuhnya dan memeluk tubuh kecil Nura tanpa menghiraukan Nura yang risih. Keduanya memejamkan mata dan terlelap begitu saja.
*
*
Mahez mengangkat istri nya turun dari mobil, dia menggendong layaknya mengemban bayi. Tanpa memperdulikan Mirna yang memperhatikanya sampai melongo.
" Mahez turunkan aku. " pinta Evelyn
" Kamu ingin aku melakukanya di sini? Baiklah. " kata Mahez, namun Evelyn langsung mengalungkan kedua tangan nya di pundak Mahez.
__ADS_1
Evelyn tahu, apa yang di ucapkan Mahez pasti akan di lakukan. Evelyn merasa Mahez sekarang sudah benar benar tidak bernalar.
" Kenapa? Bukankah kita belum pernah mencoba di sofa? " tanya Mahez dengan senyum menggoda
Evelyn melihat Mirna yang sedang melongo masih menatap keduanya dari jauh. Otak Mirna seakan traveling untuk pertama kalinya ia melihat pemandangan yang tak biasa dari Mahez selama menjadi suami Evelyn.
Selama ini Evelyn dan Mahez selalu terlihat biasa dan hambar saja hubungannya, tak ada kata romantis dalam kamus Mirna tentang Tuan nya itu. Bahkan ia Sampai heran bagaimana bisa Nona Evelyn nya itu bisa hamil, sedangkan mereka jarang bersama dan bahkan terpisah dalam kurun waktu lama. Dan setelah keduanya menghilang mereka kembali dengan perut besar Evelyn, tapi masih terlihat dingin dingin saja wajah Mahez kala itu.
Namun untuk pertama kalinya ia melihat Tuan nya, sedang menggendong istrinya bahkan seolah sedang menggoda istrinya, karena terlihat raut wajah malu dari Evelyn. Karena Mirna memang berada di dapur jadi hanya bias melihat tanpa bisa mendengar apa yang mereka bicarakan.
" Mirna sedang melihat kita. " tutur Eve
" Biarkan saja. Anggap saja kita sedang menghiburnya. Aw.... " sontak Mahez berteriak karena Evelyn mengigit lehernya.
" Apa kamu sekarang berubah menjadi drakula? " protes Mahez tanpa menurunkan tubuh istrinya dari gendongannya.
" Kamu itu seorang ceo, harusnya kamu punya etika dan tata krama. " kata Evelyn bersungut
" Mirna......! " teriak Mahe dengan terus berjalan tanpa melihat.
" Siapkan teh hangat dan makan malam. bawa ke atas. Kamu bisa langsung tidur jika sudah selesai, tak usah menunggu kami turun. " teriak Mahez
" Baik Tuan. " kata Mirna yang sudah ketakutan, karena ketangkap basah sudah melihat adegan mesra Tuannya itu. Sungguh Mirna takut di pecat karena ia masih kuliah. Dan Mahez lah yang membiayai pendidikan nya tersebut.
Mirna segera melakukan apa yang di perintahkan Tuannya, tak butuh waktu lama, Mirna sudah selesai menyediakan pesanan Mahez tadi, karena sebelumnya Mirna memang sudah selesai memasak, hanya tinggal membuat teh hangat saja.
" Took....tok...tok...! "
Tak ada sahutan akhirnya Mirna mencoba mengetuk pintu kembali, namun tak ada jawaban, ia bingung harus kembali, atau tetap mengetuk. Akhirnya Mirna mencoba.memgetuk sekali lagi, dan langsung di buka oleh Mahez yang sudah telanjang dada.
" Lain kali jika mengetuk tidak di buka jangan memaksa. Tinggal saja. " kata Mahez dingin dan menerima nampan yang sudah di siapkan Mirna untuknya.
__ADS_1
Mahez menutup pintu kembali. Sedangkan Mirna masih melamun melihat dada bidang Tuan Mahez, sungguh air liur bagai akan meleleh keluar, terlihat sangat tampan dan menggoda pikir Mirna, yang baru pertama kalinya melihat Tuan nya telanjang dada.