Kisah Cinta Evelyn

Kisah Cinta Evelyn
Bab. 63


__ADS_3

Jangan Lupa like sebelum meninggalkan cerita.


❤️❤️❤️❤️HAPPY READING ❤️❤️❤️❤️❤️


Mahez panik mengetahui istrinya yang terus mengeluh sakit. Akhirnya Mengenakan pakaiannya tari dan bergegas segera membantu Evelyn memakai pakaian.


" Apakah sangat sakit sayang? " tanya Mahez di sela ia membatu memakaikan pakaian.


" Tentu saja sangat sakit. Ini semua karena ulahmu tak mendengarkan aku. " jawab Evelyn sambil terus mengelus perutnya yang kencang dan kontraksi.


" Iya sayang, aku minta maaf. Tapi kan itu tadi permintaan baby kita, yang ingin sekali dijenguk dadynya lama. " jawab Mahez membela diri.


Evelyn hanya membulatkan matanya, mendengar jawaban Mahez. Bisanya suaminya masih mendapat alasan yang tak masuk akal.


Ingin sekali Evelyn memaki suaminya, namun ia urungkan karena perutnya perlahan sembuh sejak di elus elus oleh Mahez. Bahkan rasa sakit itu hilang.


Evelyn menatap perutnya tak percaya, karena hanya lewat sentuhan Mahez saja bisa membuatnya sembuh.


" Apa sudah baikan sayang. Apa perlu kita kerumah sakit? " tanya Mahez


Evelyn menggelengkan kepala lemah, dan masih tak percaya, perut yang tadi di rasakan sangat menyiksanya hilang begitu saja dengan usapan lembut suaminya.


" Kita kerumah sakit sekarang. " kata Mahez bersiap akan mengangkat tubuh Evelyn.


" Tunggu....! Aku sudah baikan Mahez, tapi aku sedikit lapar. Bisakah kamu mencarikan aku nasi uduk di campur sambal teri. " kata Evelyn mengiba.


" Sayang ini sudah tengah malam. Bagaimana kalau besok pagi. Sekarang aku buatkan nasi goreng saja. " jawab Mahez yang malas untuk keluar rumah.


" uhuuu..... Lihatlah sayang, dady tidak tulus mencintai kita. Bahkan dia tidak mau berkorban mencarikan makanan yang kamu minta. Padahal momy mu ini sudah berkorban membawa mu kemana pun momy pergi. " kata Evelyn menangis dan mengusap perutnya yang buncit.


Mahez akhirnya pasrah, dia keluar membawa kontak mobil dan ponselnya.

__ADS_1


Saat di halaman, ia bertemu dengan satpam, penjaga rumahnya yang bernama ody. Semenjak Mahez dan Evelyn benar benar menikah resmi, keduanya memutuskan menempati rumah yang di berikan pada Evelyn dulu, yang sudah di jaga oleh Mirna pembantu lama. Kemudian Mahez menempatkan tiga anak buah untuk berjaga jaga, dan satu satpam khusus di depan gerbang.


Ody menghampiri Mahez yang masih sibuk dengan ponselnya.


" Maaf Tuan, apa mau keluar? " tanya Ody ramah


" Saya sudah di luar. Sudah jangan tambah pusing pikiran saya. " jawab Mahez yang emosi karena menghubungi Aldo tak kunjung diangkat. Padahal biasanya setiap waktu Aldo selalu siap untuk Mahez.


Akhir Ody mengkerut dan pergi ke pos kembali, karena ketakutan akan di mangsa Tuan nya.


Mahez memasuki mobil, lalu menyalakan mobilnya. Tanpa bertanya lagi Ody membuka gerbang begitu saja. Namun Mahez tak kunjung menjalankan mobilnya, justru kembali keluar dan menghampirinya.


Ody semakin ketakutan jika akan di marahi lagi oleh Mahez. Karena Ody baru dua bulan di bekerja dirumah ini, dia belum bisa mengetahui sikap Mahez. Hanya karena gajinya sangat besar, Ody mempertahankan kerjanya itu. Ody hanya mengenal Evelyn saja selama ini, karena Evelyn memiliki jiwa yang hangat pada semua karyawan rumahnya. Bahkan jika dari luar rumah Evelyn sering membawa banyak makanan bermerek di berikan pada semua karyawan rumahnya. Sehingga semuanya betah tinggal di rumah ini. Tapi semua anak buah itu jarang yang bertegur sapa dengan majikan laki lakinya. Karena selepas atau sebelum berangkat kerja saja mereka melihat. Dan raut wajah dingin saja yang di perlihatkan Mahez pada orang rumah. Karena Mahez jarang berbicara dengan anak buahnya, bahkan pada Evelyn pun jarang, jika di luar kamar.


" Ody... apa kamu tahu dimana orang jual nasi uduk jam segini? " tanya Majez


" Depan gang sana ada Tuan, saya sering beli disana jika malam lapar. " jawab Ody


" Belikan saya dua porsi, lengkap dengan sambal teri ! " perintah Mahez


" Tunggu apa lagi. Sekarang...! " kata Mahez


" Iya, baik Tuan. " kata Ody seperti bingung.


Mahez akhirnya tersadar jika belum memberi uang pada Ody pun memanggilnya kembali.


" Kamu.... ! " panggil Majez karena tak hafal namanya.


Ody berbalik lagi, menatap Tuannya.


" Aku tak punya uang cash. Pakai uang mu dulu, aku akan menggantinya nanti. Lagi pula aku sudah menggajimu berlipat lipat di banding orang lain, membelikan nasi uduk dua porsi saja, kamu pelit sekali. " ucap Mahez mengejek

__ADS_1


" Bukan begitu Tuan. Nasi uduknya biasa pakai lele, atau tidak pakai kering tempe saja, tidak ada sambal terinya Tuan. " kata Ody takut takut.


" Bangunkan Mirna, suruh membuatkan sambal teri sekarang. Dan nasi uduk sambal teri itu harus siap dalam waktu lima belas menit. Jika tidak aku tak akan gaji kalian besar lagi. " ucap Mahez berbalik masuk rumah.


Ody pun pasrah, segera berlari ke kamar Mirna dan menggedornya. Setelah memberitahu Mirna, ia bergegas membeli nasi uduk depan gang kompleks.


Mahez membuka pintu melihat Evelyn masih terjaga, dan menyambut kedatangan nya antusias.


" Cepat sekali sayang. Mana nasi uduk itu? " Tanya Evelyn dengan air liur yang seakan mau menetes.


" Belum dapat sayang. Sebentar lagi, sabar ya. " kata Mahe mengusap perut Evelyn.


Keberanian dari mana, Evelyn menampik tangan Mahez, dan meneteskan airmata.


" Jangan sentuh aku dan anak ku, bahkan aku hanya minta nasi uduk harga recehan pun tak kamu kabulkan. Kamu jahat sekali. " jawab Evelyn dengan deraian airmata.


Semenjak hamil besar, justru Evelyn mudah tersentuh, menangis, bahkan marah marah tidak jelas. Bahkan ia berani melawan Mahez sekarang.


Mahez yang tak tega melihat istrinya menangis, akhirnya kembali luar tanpa menjelaskan. Mahez tak ingin berdebat dengan istrinya yang menangis, karena itu akan membuat kemarahan Evelyn semakin meledak.


Di luar, anak buahnya yang menjadi korban kemarahan Mahez. Mahez menyuruh tiga anak buahnya dan juga Ody membantu Mirna menyiapkan sambal teri, karena dalam waktu lima menit ,Ody sudah kembali membawa dua bungkus nasi uduk.


" Bisa cepat tidak. Apa kalian tidak tahu istriku menangis darah menginginkan sambal itu. Kalian itu berlima, tangan kalian semua sepuluh. ". ucap Mahez emosi.


Tak ada yang menjawab satu pun dari mereka, semua menjadi kikuk harus bagaimana, sedangkan Mirna susah payah menahan kantuknya akhirnya bisa membuka matanya lebar, mendengar kemarahan Mahez yang menggelegar.


Tepat sepuluh menit dari perjanjian yang dibuat, sambal itu selesai. Begitu sedap baunya, dan penampilan merah yang menyala.


Setelah di hidangkan di piring sambal itu di taruh di meja.


" Apa kalian pikir istriku tengah malam harus turun kesini dengan perut besarnya dan memakan disini. Kamu buka nasi itu di piring dan letakan di nampan. Aku akan membawanya. " ketus Mahez.

__ADS_1


Semua bergegas membantu menyiapkan nasi dan sambal dalam piring. Lalu menyediakan di nampan.


Kalian janji beri like dan gift ya.... Aku tunggu komentar kalian di kolom komentar .... Love you , my reader...❤️❤️❤️.


__ADS_2