
" Karena kamu bisa membuatku terbang ke awan, permainanmu sungguh memuaskan " bisik wanita itu.
Elia yang sejak tadi merasakan panas dari dalam dada, kini tak bisaembendung air mata lagi. Cincin yang semula ia pegangi kini ia lepas begitu saja. Cincin itu jwtuh menggelinding ke depan dan berhenti di depan sepasang kekasih tersebut. Sean semula ingin mengambilkan, menatap sebuah cincin yang ia pegang sekarang. Dia sangat mengenali cincin tersebut karena terukir namanya di dalam cincin itu.
Sean berbalik tepat pintu lift terbuka, Elia menabrak keduanya begitu saja, dengan masih mengelap air mata.
" Elia....... " jantung Sean seakan berhenti berdetak, dia merasakan sekujur tubuhnya melemas.
Wanita itu memeluk lengan Sean kembali dan mengajak keluar dari lift.
" Sayang, kamu kenapa? " tanya wanita itu tak mengerti.
" Lepaskan. Ini semua gara gara kamu. " kata Sean mendorong wanita itu hingga akan terjatuh. Sean seakan sadar segera berlari mengejar Elia namun terlambat karena Elia sudah mendapatkan taxi dan masuk ke dalam.
" Elia... buka pintunya. Dengarkan penjelasan ku, ini tidak seperti yang kamu pikirkan. " kata Sean panik.
" Jalan pak. " kata Elia pada sopir taxi itu, tanpa menghiraukan Sewn yang terus menggedor pintu kacanya.
Taxi itu berjalan melaju meninggalka. Sean yang berusah terus mengejar dengan sesekali matanys mencari taxi lain untuk mengejar taxi yang di naiki Elia, namun tak ada satu taxi pun yang lewat. Akhirnya Sean kembali ke Apartemen milik wanita itu. Dia berjalan ke basemant mengambil mobilnya. Sesekali dia menendang apa pun yang ada di sekitarnya.
" Sayang... kamu kenapa sih? " tanya wanita itu mendekati. Karena sebelumnya mereka berencana akan pergi ke sebuah restoran untuk makan.
__ADS_1
" Berhenti di sana dan jangan dekati aku lagi. " kata Sean membuka pintu mobil lalu masuk, tanpa memperdulikan wanita itu yang terus memaki dirinya.
Sean melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Yang ada dalam otak nya adalah pergi ke apartemen Elia dan meminta maaf. Sean tidak rela jika pernikahan yang sudah di depan mata harus gagal. Karena dalam hati Sean yang sebenarnya sangat mencintai Elia. Namun karena godaan dari wanita itu, akhirnya Sean yang sudah lama bertobat bisa terbujuk karena menunggu Elia tak kunjung bersedia di nikahi dengan alasan menunggu kakaknya.
Sesampainya di Lobby Sean memarkirkan mobilnya sembarangan, dia segera naik dengan lift menuju lantai lima, tempat Elia tinggali.
Sean menekan kode masuk namun sudah berubah. Dia dapat memastikan jika Elia ada di dalam.
" Elia .. Buka pintunya sayang. Dengarkan penjelasanku, ini semua tidak seperti yang kamu bayangkan. " pinta Sean. Setengah jam berlalu Elia tak kunjung membuka pintu. Sean sampai terduduk di lantai samping pintu Elia, dia tidak menghiraukan orang orang yang melewati ingin masuk ke ruangan masing masing. Karena kebetulan waktu menunjukan pukul enam sore, sudah waktu orang pulang bekerja.
Satu jam dua jam Sean terus menggedor pintu Elia, berharap Elia risih dan keluar untuk memarahinya. Sean sangat berharap Elia memarahinya namun bisa memaafkan nya.
" Tuan... Anda sangat mengganggu ketenangan kami. Bisakah kalian selesaikan masalah kalian di tempat lain, jangan libatkan orang lain, karena kami sudah seharian bekerja butuh ketenangan. " tegur salah satu penghuni apartemen itu.
Elia menangis terngiang ngiang wajah dan suara keduanya saat berada dalam satu lift tadi. Dia tidak pernah menyangka jika apa yang di ucapkan Aldo benar adanya. Jika seorang Sean tidak bisa berubah.
Elia berbaring di ranjang kasurnya, dia tengkurap dengan memukul mukul kasur.
" Kenapa semua menghukum ku seperti ini Tuhan. Apa aku tak pantas untuk di cintai Tuhan? Kenapa semuanya begitu jahat, kenapa mempermainkan aku seperti ini. Kenapa?? " kata Elia dengan terus menangis.
Hari ini adalah hari terpahit yang pernah di alami oleh Elia, Dia harus kehilangan kehormatan nya, namun masih harus menerima kenyataan jika Tunangan nya berselingkuh di belakang. Lama Elia melamun, akhirnya dia bangun menuju dapur.
__ADS_1
Elia mencari pisau, dalam pikirannya ingin mengakhiri hidupnya saja. Tunangan yang ia cintai ternyata bermain di belakangnya, dan sekarang pun dia bukan lagi seorang gadis yang berharga, karena apa yang ia banggakan hilang sudah di rebut paksa oleh laki laki tak ber peri kemanusiaan.
Elia mendapatkan pisau, dia bersedia mengulurkan tangan kirinya, dan tangan kanan dengan posisi memegang pisau itu. Dia memejamkan matanya, saat hendak melancarkan aksinya, Elia di kejutkan dengan suara ponsel dalam sakunya. Pikiran nya menjadi bercabang, haruskah ia mengakhiri hidupnya, atau melangsungkan hidup kembali dengan membalas dendam orang orang yang sudah menyakitinya.
Akhirnya Elia membuang pisau itu jauh dari nya, dia jayuh terduduk di lantai dapur. Dia menunduk kan kepalanya di atas dengkulnya, dengan menangis tersedu. Lama dering ponselnya berbunyi, hingga dia meraih dan mengeluarkan dari saku. Di ponsel tertera nama kak Nihan.
Elia melanjutkan menangis nya, entah kenapa ada rasa benci pada Nihan karena semua ini berawal dari dia. Elia mengenal Sean juga dari Nihan, walau sebenarnya Elia sendirilah yang mengejar Sean terlebih dahulu, saat Sean mengejar cinta Nihan. Karena Nihan tau Elia mencintai Sean, akhirnya Nihan mendekatkan mereka.
Lalu sekarang Reyhan merenggut kesuciannya karena Nihan juga. Kenapa Elia merasa hidup seakan tidak adil karena semua lelaki mencintai Nihan dan mengabaikannya.
" Apa salah ku Tuhan, sampai Engkau menghukum ku seberat ini Tuhan? " teriak Elia di sela tangisnya.
Elia membuka pesan dari Nihan.
' Elia, kamu di mana? Aku ingin bicara.' isi pesan Nihan.
Namun Elia hanya membuka tanpa membalas. Elia masih melamun di dapur akhir nya tertidur dengan kepala diatas dengkul yang ia angkat setengah lipat atas.
Pagi hari Elia bangin, badan nya terasa sakit dan pegal, dia merasa tidak enak badan. Akhirnya Elia bangin dan beranjak pindah ke kamar, ia tidak segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri, namun ia justru kembali tidur di ranjang. Dia kembali memejamkan matanya, sesekali ia mengingat kejadian kemarin, ia berharap dia hanya mimpi namun saat ia melihat jas yang ia pakai adalah milik Reyhan dia merasakan sesak di dada lagi. Akhirnya ia menangis sesenggukan lagi.
Sore hari Elia tidak makan apa pun, Dia mulai membuka ponselnya, dan melihat ada banyak panggilan dari Aldo, dan juga banyak pesan dari kakak tercintanya.
__ADS_1
" Elia, balas chat kakak. Aku sudah mencari mu ke apartemen tapi tak kau buka, bahkan kamu ganti kode akses nya. Apa yang terjadi sayang. Jangan buat aku khawatir. " isi pesan Aldo