
Nihan menceritakan semua yang terjadi tanpa ada yang di tutup tutupi, hanya saja Nihan tidak mengatakan jika dirinya sudah tidak gadis lagi. Evelyn hanya mendengarkan dengan seksama.
" Mungkin memang Aldo jodohmu. Nyakinlah semua akan baik baik saja. " kata Evelyn
" Kami akan menikah di hari yang sama dengan Elia. Dan yang lebih terkejut adalah calon suami Elia adalah Reyhan. Aku takut Reyhan hanya menjadikan Elia sebagai ajang balas dendamnya. " kata Nihan lagi
Evelyn hanya diam saja karena dia sebenarnya sudah mengetahui semuanya dari Elia sendiri. Namun Evelyn tak ingin menyampaikan pada Nihan, karena itu pasti akan membuatnya sedih. Evelyn nyakin jika Elia mampu membuat Reyhan bertekuk lutut padanya.
*
*
*
Sampailah mereka di parkiran rumah sakit, Karena Nihan seorang dokter disana, dia bisa memarkirkan mobilnya di basemant yang bersebelahan dengan lift. Mereka segera menuju ruangan dimana Nura di rawat.
Nihan membuka pintu ruangan Nura. Disana sudah ada Nura yang duduk, terlihat dia sedang menunggu seseorang. Karena sekarang dia sudah rapi seperti mau pulang.
" Nura... Kamu sudah sembuh? Kenapa sudah rapi,apa kamu akan pulang hari ini? " tanya Eve
" Apa kamu ingin aku jadi gila dan tak sembuh? " balas Nura
" Bukan begitu Nura, jika aku menginginkan kamu gila, aku tak akan membawamu kemari saat itu. " jawab Evelyn
" Iya aku tahu. Terima kasih Eve. " kata Nura memeluk Evelyn dan mengusap perutnya.
" Jadi kamu hanya berterima kasih pada Eve saja, kamu tidak berterima kasih pada dokter yang merawat mu? " protes Nihan
" Baiklah, nanti aku akan sampai kan terima kasih pada dokter Virza. " kata Nura memancing emosi Nihan
" Hey...kamu. Aku yang sudah merawat dan mempercayakan dokter terbaik untuk merawatmu. Jika tidak ada aku, mungkin kamu Masih gila. " kata Nihan
" Aku tidak gila ya. " kata Nura ketus
" Sudahlah, apa kalian tidak bisa berbaikan. Aku tahu kalian adalah wanita wanita hebat namun berhati lembut. " kata Eve
" Lembut dari mana, dokter galak seperti dia, jika aku pasiennya pasti akan cepat mati. " kata Nura
" Tahu seperti itu, aku suntik cairan rabies saja kemarin. Tak tahu balas budi. " ucap Nihan seenaknya.
__ADS_1
Evelyn hanya menggelengkan kepalanya melihat dua sahabatnya tak rukun.
Tak lama Arjun masuk, dia kaget saat melihat sudah ada dua wanita di kamar Nura. Jika Evelyn Arjun sudah mengenalnya, di sini tambah satu lagi wanita cantik.
" Semua sudah beres sayang. Kita bisa pulang. " kata Arjun
" Jelas saja beres, Mahez sudah membayar di awal sejak Nura di bawa ke sini. " ceplos Nihan spontan
Nura menatap Nihan tajam Nura.
" Jangan berterima kasih padaku, berterima kasihlah pada Nyonya Mahez. " kata Nihan dengan mengayunkan kedua tangannya kearah Evelyn.
" Terima kasih Nyonya Mahez, saya akan mengganti ke rekening Tuan Mahez secepatnya. " kata Arjun menunduk kepala untuk menghormati.
" Jangan sungkan, Nura adalah sodara saya. Tidak perlu di ganti. " kata Evelyn
Nura tersenyum senang karena Evelyn sudah mengakui dia sebagai saudara. Padahal dulu Nura sudah berupaya menyakiti hati Eve, namun tak ada dendam tersimpan di hati Eve.
" Terima kasih Eve. " kata Nura memeluk Evelyn
" Jangan berlebihan seperti itu, lihatlah kekasihmu cemburu. " ucap Nihan
Arjun yang tadinya memasang wajah tak suka karena Nura memeluk Evelyn hanya tersenyum kecut, mendengar mulut lepas Nura.
" Belagak sekali kamu. Aku juga tak minat mengantar. " kata Nihan ketus
Evelyn mencubit pinggang Nihan agar tidak terlalu pedas berbicara.
" Sudahlah Nihan, aku tahu mereka itu akan melepas rindu, jadi jika kamu ikut dengannya hanya akan mengulur waktu saja. Bukan begitu Tuan Arjun? " tanya Nihan gamblang.
Arjun gelagapan harus menjawab bagaimana, karena memang benar adanya. Lagi pula dia seperti mendapat skakmat dari Nihan. Arjun tak menyangka ada yang lebih ganas dari Nura.
" Tidak usah di jawab, karena pasti anda sedang susah berpikir. Lebih baik anda segera kemasi barang semua, dan segera pulang. " kata Nihan lagi.
Arjun pun menuruti perintah Nihan, biasanya dia pandai menjawab tapi sekarang dia jadi blank.
Mereka berempat menuju mobil Arjun, setelah keduanya masuk mobil, dan Arjun melajukan mobilnya, Nihan menarik tangan Evelyn untuk masuk kembali kerumah sakit dan membawanya ke sebuah kafe dekat rumah sakit tersebut.
" Khusus hari ini makan minum gratis. " Nihan membaca papan di kafe tersebut.
__ADS_1
" Acara apa sampai ada gratisan seperti ini. " tanya Eve yang di balas Nihan dengan mengedikan bahunya.
Datang seorang waitres mempersilahkan keduanya memilih menu.
" Benar hari gratis mba ? " tanya Eve penasaran
" Iya Nona. " jawab Waitress tersebut
" Kenapa begitu? " tanya Eve lagi
" Karena tempat ini jadi saksi Tuan Reyhan dan Dokter Elia mengikat janji, maka dari Tuan Reyhan mentraktir semua khusus hari ini. " jawab Waitress itu.
Evelyn hanya mengangguk angguk dan terseyum. Dia tahu ini pasti jebakan Elia untuk mengerjai Reyhan.
Sedangkan Nihan hanya sedikit tersenyum, dalam hatinya ada sedikit rasa cemburu. Bagaimana pun ia pernah ada rasa pada Reyhan.
" Begitu cepat kamu berpaling Rey, apa jangan jangan sebelumnya memang Reyhan sudah ada rasa pada Elia. " batin Nihan bertanya tanya.
Evelyn melihat ada perubahan di wajah Nihan, dia dapat memahami jika seandainya Nihan kecewa dengan Reyhan. Tapi bagaimana pun ini sudah jadi keputusan Nihan.
" Jika kamu memang masih berharap pada Reyhan, lebih baik kamu terus terang pada Reyhan. Mungkin jika kalian memang berjodoh, Reyhan akan membantumu membayar denda yang kamu tanggung. " kata Evelyn memegang tangan Nihan
Nihan terdiam sejenak, dia memikirkan jalan yang akan dia ambil.
" Tidak Eve, semua sudah jadi pilihanku. Aku sudah memilih Aldo. Lagi pula tak ada yang perlu di sesali, aku hanya takut jika Reyhan hanya mempermainkan Elia. " kata Nihan.
" Bukankah ada kalian yang akan siap membantu Elia. Lagi pula Aldo tak akan tinggal diam jika seandainya Elia menderita. " jelas Evelyn.
Nihan menganggukan kepala, mereka baru menyadari jika dari tadi waitres sedang menunggu mereka memesan menu. Akhirnya keduanya menentukan menu yang mereka pilih.
Mereka bercerita banyak tentang hari hari mereka sesekali terdengar tawa Nihan yang keras, Elia yang menyadari kedua nya di sana pun menghampiri.
" Siang kakak ipar, hari ini off tapi masih suka banget ke rumah sakit. " gurau Elia dengan mencium kedua pipi Nihan lanjut bersalaman dengan Evelyn dan mencium kedua pipinya pula.
Evelyn dapat melihat Elia sudah tidak seperti sebelumnya, sekarang Elia terlihat tegar dan tak menampakan jika dia menyimpan luka perih.
" Tadi mengantar Eve menjenguk madunya. makanya sekalian isi perut. berdekatan dengan mak lampir membuatku lapar. " kelakar Nihan
" Mak lampir? " tanya Elia tak mengerti
__ADS_1
" Iya mak lampir. " jawab Nihan, sedang Elia masih penasaran.
" Nura. " jawab Evelyn tersenyum dengan menggelengkan kepalanya.