Kisah Cinta Evelyn

Kisah Cinta Evelyn
BAB. 24


__ADS_3

" kenapa kamu melihatku seperti itu, jangan bilang kamu mau mengataiku menyedihkan. " kata Eve ketus


" Tidak Nona. " jawab Aldo


" Lalu kenapa kamu melihatku seperti itu? kata Eve lagi


" Nona, Tuan Mahez sangat mencintai anda dengan tulus. Aku mohon, Nona bisa meredam sedikit e, kasian Tuan Mahez. " kata Aldo melihat Evec,k


" Dari mana kamu tahu Mahez tulus mencintaiku. " tanya Evelyn


" Saya bisa melihatnya Nona. " kata Aldo


" Jika kamu memahaminya, kenapa tidak kamu saja yang menjadi istrinya. Kalian itu sangat cocok, seperti botol bertemu tutupnya. " tegas Evelyn


" Pergilah. Aku tak mau melihat wajahmu, aku tidak mau anak ku meniru sifat satu diantara kalian. " kata Evelin melihat pintu


" Anak anda harus meniru Tuan Mahez Nona, dia sangat tampan, pintar, dan ber kharisma. " kata Aldo


" Pergi aku bilang. Pergi.....! " teriak Evelin sambil melempar bantal ke wajah Aldo.


Mendengar keributan di dalam Mahez kembali masuk.


" Sayang, ada apa dengan mu? " tanya Mahez.


" Bawa pergi asisten kurang ajarmu dari hadapanku. " kata Evelin marah


" Sayang, kamu jangan marah marah seperti ini. Kasian baby di dalam sini. " kata Mahez lembut


" Jadi kamu juga membelanya, " kata Eve dengan mata yang sudah berair.


Mahez dan Aldo akhirnya diam, dia sudah tidak bisa bicara lagi. Mungkin kerena pengaruh kehamilan Eve menjadi sangat sensitif. Dia mudah sekali marah namun juga berubah sangat cengeng.


Terdengar pintu di buka, Bastian sudah kembali dengan pakaian kasual, terlihat lebih tampan. Walaupun masih terlihat memar memar di wajahnya.


Bastian berjalan mendekati Evelyn dan duduk di tepi ranjang pasien.


" Gimana sudah baikan? " tanya Bastian lembut dan dengan senyum yang memikat.

__ADS_1


Mahez yang melihat dirinya masih acak acakan menjadi cemburu, dia takut Evelyn akan tertarik pada Bastian yang sudah rapi.


" Sial, kenapa dia sudah rapi seperti itu. aku harus menghalangi Evelyn melihatnya. " batin Mahez


" Udah mendingan kak. " kata Evelyn


" Eve tidak akan baik, jika kamu masih berada di sini. " ketus Mahez sambil duduk di samping wajah Evelyn dan memunggunginya, agar Evelyn tak bisa melihat wajah Bastian


" Mahez. Aku akan memaafkanmu jika bersikap baik pada kak Tian. " kata Evelyn.


Bastian yang tak bisa melihat Evelyn pun berdiri.


" Bagus, pergilah. Aku harap kamu tidak kembali lagi. " kata Mahez tersenyum penuh kemenangan.


Namun siapa sangka, ternyata Bastian hanya berjalan mengintari ranjang dan duduk berpindah di sisi ranjang sebelah kanan, pindah ke sisi kiri, agar pandangannya tidak terhalang saat melihat Evelyn.


" Apa kamu menginginkan sesuatu? " tanya Bastian lembut. Tanpa mengindahkan suara Mahez yang menyakitkan


" Eve menginginkan kamu pergi. " jawab Mahez yang ikut duduk di ranjang sebelah kiri.


Bastian tak mengindahkan ucapan Mahez, dia tetap duduk di tempat walau dia tidak bisa melihat wajah Evelyn.


" Mahez, apa bisa kamu tunjukan wibawa mu. Kamu seolah orang yang tidak berpendidikan. " kata Bastian menatap tembok rumah sakit, karena dia tidak mau melihat wajah Mahez yang sudah melihatnya, dengan tatapan membunuh.


" Untuk apa aku menunjukan pada curut jelek seperti mu ! " jawab Mahez


" Jaga ucapanmu es balok. " kata Bastian yang mulai tersulut emosi.


Evelyn yang tadinya jengkel, kini malah tersenyum. Bagaimana tidak, dua lelaki tampan dan kaya, jika di luar sana, mereka sangat di segani dan di hormati. Keduanya sangat berwibawa dan berkharisma, namun saat ini mereka seperti anak paud yang sedang berolok olok untuk memperebutkan permen.


" Kamu yang harus menjaga ucapanmu curut jelek. Mahez yang ikut memajukan wajahnya ke hadapan Bastian.


Keduanya saling bersitatap, bola mata mereka seperti ingin keluar dan ikut bertarung dengan mereka.


Aldo yang selalu membela Mahez, ikut berdiri disamping Mahez. Dia yang akan maju terlebih dahulu dalam membela Mahez.


Evelyn yang bisa menebak akan terjadi perang dunia ke empat pun segera menekan tombol darurat. Tak berapa lama datang seorang perawat laki laki.

__ADS_1


" Can I help you, sir? " tanya perawat laki laki itu.


" Yes, Can you get them all out of this room. I need peace and I want sleep. " kata Evelyn.


Perawat itu pun menyuruh keluar, namun tak ada satu pun dari mereka yang bergerak keluar. Hingga perawat itu keluar namun segera kembali dengan membawa tiga security yang menarik paksa ketiganya.


Evelyn tersenyum melihat ketiganya pasrah di bawa security keluar.


" Begini lebih baik. " gumam Evelyn dan mulai memejamkan matanya untuk tidur.


*


*


Tiga hari sudah Evelyn di rawat di rumah sakit. Kondisinya sudah jauh lebih baik. Sebenarnya dokter sudah mengijinkan Evelyn pulang dari kemarin tapi Mahez melarang, karena melihat wajah Eve yang masih pucat. Dia tidak mau mengambil resiko jika terjadi sesuatu dengan Evelyn dan calon baby nya.


Hingga hari ini Evelyn ngotot ingin pulang. Akhirnya Mahez pun mengijinkan, dengan syarat Eve harus ikut ke apartemen miliknya.


Dan mau tak mau Eve pun menuruti kemauan Mahez, lebih baik dia ikut ke apartemen Mahez, dari pada harus di rumah sakit sepanjang waktu.


" Mahez, aku tak mau naik kursi roda. Aku bisa jalan sendiri. " kata Evelyn yang malu jika harus duduk di kursi roda dan di dorong.


" Ini untuk keselamatan bayi kita Eve. Aku tak mau ambil resiko. " kqta Mahez yang terpotong oleh suara Evelyn


" Tak mau ambil resiko jika terjadi sesuatu pada bayi kita. Bayi kita dan bayi kita. Mahez, apa kamu tidak bisa hidup normal dan wajar. Aku baik baik saja. " protes Evelyn


Mahez diam tak mendengarkan ucapan Evelyn. Dia terus mendorong kursi roda, dan mengangkat tubuh Evelyn ke dalam mobil.


Seharusnya Evelyn bahagia, mendapatkan perhatian dan cinta Mahez. Tapi entah kenapa, Eve berubah sangat jengkel pada Mahez, apa yang di lakukan bahkan apa yang di ucapkan Mahez, selalu salah di mata Evelin.


Evelyn masuk di apartemen baru Mahez. Mahez sengaja membeli satu apartemen dengan satu kamar dan satu lantai. Dia tidak mau jika dua lantai, akan membuat Evelyn nekat ke lantai atas. Karena dia menyadari perubahan pada Evelyn. Apa yang di larang olehnya, maka justru akan di lakukan oleh Evelyn.


" Kamu itu pelit sekali Mahez, masak beli apartemen sempit begini. Berbeda dengan kak Tian dia membeli apartemen dua lantai dan dua kamar. " kata Evelyn


Kedua tangan Mahez mengepal, menahan panas di dadanya karena di sama kan dengan curut jelek. Karena jika di banding dengan nya, Bastian tidak ada di daftar saingannya.


Mahez mengambil ponsel di sakunya, terlihat dia melakukan panggilan pada seseorang.

__ADS_1


__ADS_2