
Ketiga wanita itu sibuk berdialog, entah apa yang mereka bahas. Sedangkan Aldo dan Mahez menepi, entah apa juga yang mereka bahas. Tinggal Reyhan yang duduk sendiri di kursi pelaminan. Matanya sibuk memandang Nihan, dia tak bisa menutupi jika perasaan nya, masih terpatri untuk Nihan.
Setelah puas menyapa dan juga selesai sesi foto foto, Evelyn di giring Mahez untuk pulang. Hati Evelyn sudah lega karena ia pikir Mahez tidak mengingat perjanjian yang ia lontarkan tadi. Bahkan di dalam mobil Eve sudah bisa senyum senyum sendiri.
" Jangan pikir aku lupa pada janjimu sayang. Aku akan memintanya saat sudah di rumah. Aku tak mau di hotel, terlalu banyak gangguan. banyak serangga di hotel. " jawab Mahez
" Serangga? " gumam Evelyn yang masih bisa di dengar oleh Mahez.
" Iya,, ternyata semua pengantin menyewa kamar hotel. Aku tak mau serangga serangga peliharaan mu datang membuat keributan. " jawab Mahe sekenanya.
Evelyn memutar bola mata malas, Suaminya ternyata sudah memperhitungkan kerugian yang di dapat jika bermalam di hotel. Padahal tadi Evelyn sudah menyusun rencana agar dia bisa lolos malam ini. Tapi tetap saja Mahez tak bisa di kalahkan.
Sesampai di rumah Mahez membukakan pintu mobil untuk istrinya, lalu dia berjalan terlebih dahulu ke kakamar. Sedangkan Evelyn berhenti di sofa ruang keluarga. Dia duduk dan mengangkat kedua kakinya ke atas sofa. Dia mengusap usap kakinya yang terasa keras. Akhir akhir ini Evelyn sering merasakan kelelahan. Mungkin karena dia mendekati hari kelahiran.
" Eve...... " panggil Mahez dari atas
" Sebentar sayang. " jawab Evelyn.
" Mirna ....! " panggil Evelyn yang melihat Mirna masih sibuk di dapur
" Bisakah kamu buatkan aku susu, malam ini. " perintah Evelyn
" Baik Non. " jawab Mirna
Tak ada waktu lima menit, Mirna sudah datang membawa nampan berisi susu coklat.
" Ini Non...." Mirna memberikan susu tersebut dan menaruhnya di meja.
Evelyn pun mengulurkan tangan nya agar di berikan langsung padanya.
" Sedang apa kamu di dapur Mirna, kenapa tidak tidur sudah malam. " tanya Evelyn sebelum meminum susu nya.
__ADS_1
" Saya sedang merebus kacang hijau, untuk di masak besok Non. Saya dengar kacang hijau bagus untuk kulit bayi. " jawab Mirna
" Kamu membuatkan untuk saya? " tanya Evelyn
" Iya Non... " kata Mirna
" Tapi besok kamu harus berangkat kuliah, sebaiknya kamu istirahat. " kata Evelyn
" Nona sudah berbaik hati pada saya, memberikan tumpangan rumah, gaji yang lebih. Saya tidak tahu harus bagaimana membalas kebaikan anda Non. Makanya aku ingin membuatkan sesuatu yang berguna untuk Non, dan anak Non. " kata Mirna
Evelyn terseyum, ia cukup senang. Walaupun ia tak punya saudara, tapi ia masih punya sahabat, dan orang orang baik yang mengelilinginya.
" Terima kasih ya Mir, oh ya... lebih baik kamu panggil aku Eve saja. Terdengar tak nyaman di telinga saya, jika di panggil Non. " kata Evelyn menaruh gelas ke meja namun tak sampai, akhirnya Mirna yang menaruhkan.
Mirna duduk di bawah kaki Evelyn dan meminatnya.
" Jangan di bawah, kamu duduk di sini saja. " kata Evelyn dengan menggeser kaki nya menepi di pinggiran sandaran sofa.
" Saya tidak berani Non,Tuan pasti akan mengira saya nglunjak Non. " jawab Mirna.
Mirna sangat gugup karena sekarang ia bisa melihat Mahez sudah berdiri bersandar tembok, menatap istrinya.
" Lebih baik saya ke dapur dulu Non. Saya lupa mematikan kompor. " ucap Mirna langsung kabur lupa membawa gelas yang berada di meja.
Evelyn mersa aneh mendapati pembantunya, yang tadi hangat, sekarang seperti orang yang sedang ketakutan atau melihat sesuatu. Karena penasaran Evelyn menoleh kebelakang, dan benar saja ia melihat suaminya yang sedang berjalan kearahnya.
" Pantas saja Mirna ketakutan, ia benar benar melihat hantu. " gumam Eve pada dirinya sendiri
" Aku mendengarnya sayang. Kamu berani mengataiku ya sekarang. " kata Mahez duduk di samping istrinya.
" Tidak sayang, mana berani aku mengataimu. " kata Evelyn mengelak
__ADS_1
" Benarkah? Tapi aku mendengar ada yang mengatai Mirna melihat hantu. " jawab Mahez lagi
" Ahaahaa...... Tadi aku hanya bilang ekspresi Mirna seperti melihat hantu. " jawab Evelyn
" Sayang... kaki ku sepertinya bengkak. Bisakah kamu memijatnya. " kata Evelyn menampakan wajah memohon
" Mirna.... " Mahez memanggil Mirna yang sedang berada di dapur
" Iya Tuan. " jawab Mirna
" Tolong ambilkan minyak kelapa di kotak obat. " kata Mahez
" Baik Tuan " jawab Mirna
" Aku tak mau sayang. Nanti berminyak. " kata Evelyn
" Nanti aku mandikan, biar tidak lengket. " jawab Mahez tanpa ekspresi
" Kamu memang sengaja. " kata Evelyn menggerutu
" Jangan lupa janjimu sayang. Harusnya kamu sudah membayarnya. Tapi karena aku suami siaga, maka kamu harus membayar nya. " kata Mahez
" Membayar? Itu namanya bukan suami siaga, itu namanya pamrih. " kata Evelyn
" Ini Tuan. " kata Mirna sudah kembali dengan membawa botol kecil bening.
" Mirna buatkan aku kopi. " kata Mahez sudah menaburkan minyak di kaki Eve
" Baik Tuan. " jawab Mirna berlalu
" Mahez, bisakah kamu jika menyuruh dengan lembut. Jika tidak bisa dengan kata tolong. Biar kamu tidak terkesan menakutkan. " kata Eve
__ADS_1
" Kamu tahu sayang. Kenapa aku tak pernah menyuruh art untuk tinggal satu atap denganku. Itu karena aku tak mau mereka berprasangka, atau menyalah artikan kebaikan ku. Dulu pernah ada art yang bekerja disini. Itu juga karena rekomendasi dari Aldo yang kasian untuk biaya sekolah seperti Mirna. Namun dia menyalah artikan kebaikan ku, dia berani menggodaku. Aku merasa jijik dengan wanita seperti itu. Makanya sekarang aku nggak mau Mirna punya arti yang berbeda dengan ku. Aku tak masalah jika semua mengatakan aku kejam, karena mereka semua tak berarti untuk ku. Karena semua cinta dan kasihku hanya untuk orang yang berarti di hidupku. Dan itu kamu Eve, aku hanya perduli dengan kepedulian mu pada ku. Tak perduli dengan mereka yang menganggapku seperti apa. " jawab Mahez terus mengurut kaki istrinya
Mirna sedikit mendengar pembicaraan Mahez pada istrinya, kini ia benar benar mengerti jika Mahez sebenarnya tidak sekejam yang ia pikirkan. Ia berpikir sungguh beruntung Evelyn bisa mendapatkan cinta Mahez. Mirna tak pernah melihat sebelumnya, kedua majikannya berada di luar kamar bersama. Biasanya setelah pulang kerja, keduanya hanya terlihat makan malam bersama dan itu pun tanpa ada gurauan atau dialog suami istri, keduanya diam. Mirna sempat berpikir jika Evelyn hanya di jodohkan tanpa adanya cinta. Tapi sekarang ia melihat ada kehangatan dari keduannya, yang tidak mereka tutupi sekarang ini.