
Shanum semakin merasa kesal karena melihat Kevin membawa bekal makan siang yan Dira buatkan.
"Ck lo sekarang sering banget bawa makan dari rumah, udah males banget makan bareng gue sama Raka ya?".
"Gue hargain Dira yang setiap hari masakin buat gue makan".
"Lo semakin berubah Kev gak kaya Kevin yang gue kenal".
"Gue gak berubah, gue gini gini aja", Kevin yang sedang kesal karena melihat laporan keuangannya menurun sampai tidak terasa membentak Shanum.
"Kenapa lo ngebentak gue, gue salah apa sih sama lo, gue kan cuma nanya doang".
"Gue lagi pusing Num, liat laporan yang lo kirim semuanya acak acakan, kenapa kerjaan lo minggu minggu ini semakin menurun?".
"Lo salahin gue lagi?, itu semua juga gara gara lo, lo yang udah berubah, lo selalu cuekin gue, lo tau gue sampai gak fokus kerja itu karena lo".
"Apa hubungannya dengan gue cuek dan kerjaan lo gak beres", bentak Kevin lagi.
"Gue kecewa sama lo Kev, lo berubah semenjak menikah, lo sudah cuek dan sekarang ngebentak marahin gue", Shanum langsung keluar dari ruangan Kevin.
Arghhhhh, teriak Kevin memenuhi ruangannya.
Kurang apa dirinya selama ini sebagai sahabat yang selalu ada dari semenjak dekat dengan Shanum dan Raka, walawpun sikap Kevin yang memang seperti ini, tidak memandang bulu apa yang ingin dirinya ucapkan langsung iya ucapkan, apa yang dirinya tidak suka langsung bilang tidak suka, tapi Kevin selalu ada buat Shanum yang tidak memiliki keluarga di Jakarta.
Begitupun dengan Raka yang sudah dirinya anggap saudara, ucapannya memang selalu pedas dan jarang sekali menghargai apa yang Raka lakukan untuknya, tapi mereka saling melengkapi dan memahami karakter masing masing, makanya tidak pernah bermusuhan walawpun selalu cekcok setiap hari, bahkan habis saling pukul pun.
.
__ADS_1
.
...Raka,Anjnk...
"Shanum nangis kenapa?".
"Dia udah kaya orang gila nih di ruangan gue lo apain?".
"Ck kata gue juga apa, jangan terlalu dekat seolah memberikan harapan begini kan jadinya".
.
.
...Kevin,Bos...
"Lo urus aja dia gue lagi pusing".
"Kalau dia berulah di luar batasan kirim langsung ke negaranya".
Ini pertamakali Shanum berulah, Kevin malas mengurus urusan yang tidak jelas dan tidak ada untung untuk dirinya.
Terserah Shanum mau bilang dirinya apa yang pastinya selama ini Kevin selalu sabar dan selalu ada untuknya.
Begitulah Kevin jika sedang benar benar pusing dan malas, dia akan bicara sesuai apa yang ada di otak nya meskipun itu semua menyakiti orang yang bersangkutan.
.
__ADS_1
.
Sedangkan Shanum yang berada di ruangan Raka sedang menangis pilu.
"Num sudah lah berhenti nangisnya, lo kan udah gue ingatin dari dulu, gue kenal Kevin dari sejak kecil, gue tau karakter dia kaya gimana", Raka sudah merasa jengah berisik mendengar tangisan Shanum.
Memang Raka dari sejak SMA dan bertemu dengan Shanum selalu mengingatkan wanita ini agar tidak menaruh perasan pada Kevin.
"Gue sakit hati, gue gak mau kehilangan Kevin Ka, tolong plis bantu gue".
"Lo harus iknlas terima takdir emang Kevin bukan jodoh lo".
"Kevin milik gue, gue gak akan pernah lepaskan Kevin sama siapapun".
"Num jangan gila ayolah, yang ada nanti lo kena amuk Kevin".
"Gue mau perjuanging milik dan hak gue Ka, lo kenapa gak ngertiin gue sih".
Ini pertamakalinya ketiga sahabat itu ribut, biasanya hanya Kevin dan Raka yang ribut meskipun tidak pernah lama bahkan dalam sekejap atau dua, tiga menit pun langsung bisa baik lagi.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung.........