KITA BERSAMA NAMUN TAK SAMA

KITA BERSAMA NAMUN TAK SAMA
Part. 61


__ADS_3

Ketukan pintu dari luar membuat Dira heran, masa iya ibunya baru saja pergi sudah datang lagi, terus mau masuk mengetuk pintu, aneh pikirnya.


Melihat jam bukan waktunya dokter kontrol, terus siapa?, duh jangan sampai pak Ricko tau terus mengikutinya sampai ruang rawat pak Irwan.


"Siapa nak?", tanya pak Irwan dengan lemah.


"Dira juga gak tau pak", menggelengkan kepala.


"Buka kasian dari tadi ketuk pintu terus".


"Iya pak", berjalan menuju pintu.


Deggg,,,,,,,, mereka, siapa satunya lagi Dira baru lihat kali ini.


"Mau apa datang kesini?", raut wajah takut sangat terlihat, apa mereka mau menuntut bapak lagi, apa mereka mau memasukan bapak ke penjara, atau mau membunuh langsung, menggeleng air matanya sudah lolos menyebrangi pipi mulusnya.


Melihat airmata istrinya turun tanpa permisi Kevin langsung membawa Dira kedalam pelukannya.


"Gue sudah bilang ubah muka seram kalian, kalau kaya gini jatohnya bukan mau minta maaf malah seperti mau merampok", sebelah kaki nya menendang kaki Han.


Di antara 4 laki laki disana muka Han yang tidak biasa biasa saja, titisan mafia susah di hilangkan.


Han yang dapat tendangan dari Kevin mengusap betisnya, yaa lumayan panas maklum sepatu yang di pakai Kevin sepatu uang kalau kata Dira.


"Ahhh iya jangan takut bu bos kami kesini gak ada maksud jahat", ucap Raka.


Galang terus menatap Dira, dia sekarang sudah besar sudah dewasa, bahkan sudah berada dalam pelukan peria lain bukan dalam pelukanku lagi.


"Ra", panggilnya dengan suara tercekat, "Maafin abang Ra".


Dira terdiam dalam isak nya, Ra ya Allah rindu sekali dengan panggilan Rara, abang.


Kelimanya masih berada di luar, sama sama terdiam hanya terdengar isak tangis Dira, Galang sudah berjongkok memegang kepala dan sesekali mengusap air mata.


Sebodoh ini, kenapa dirinya di lahirkan untuk menjadi orang bodoh.


Bu Irma yang sudah kembali melihat banyak orang di depan ruang rawat suaminya merasa kaget.


"Ada apa ini?".


Galang langsung mendongak tanpa ragu memeluk wanita paruh baya itu, dengan isak tangisnya terus mengucapkan kata maaf.


"Nak ibu sudah memaafkan kamu, kamu tidak salah semua ini terjadi karena salah paham, ayo kita masuk dulu tidak enak di luar banyak orang".

__ADS_1


Galang langsung berjalan menuju ranjang pasien, ada peria yang terbaring lemah disana.


"Pak maaf", berlutut menyesali kecerobohannya.


"Galang, berhenti meminta maaf bapak memaklumi semuanya, bapak tau bagaimana rasanya berada diposisi kamu", mengelus kepala laki laki yang sudah dirinya anggap anak.


Tidak ada yang salah di antara mereka, semuanya terjadi karena kesalah pahaman, karena ulah dari orang orang yang tidak punya perikemanusiaan.


Mungkin jika pak Irwan orang pintar dan ada duit bisa menguak semua kebusukan kedua saudara Ayah Galang, mereka sering terang terangan berkata padanya akan menyingkirkan bos nya dengan cara apapun.


Namun pak Irwan tidak punya bukti untuk membuka semuanya, hanya bisa berdo'a dan mengingatkan jangan terlalu percaya pada siapapun yang ada di dekat kita, sebab kita tidak tau isi hati mereka seperti apa.


"Kenapa masih nangis?", tanya Kevin tangan nya mengusap lelehan air mata Dira.


Dira menggeleng.


"Woyy gak tau apa di sini banyak yang jomblo, pelukan terus dari tadi", ucap Han.


Baru sadar sejak tadi dirinya berada dalam pelukan Kevin, Dira langsung menjauh.


Semua mata tertuju pada Kevin dan Dira.


"Picek lo Lang jangan liatin istri gue terus", apapun akan Kevin dukung kecuali yang berhubungan dengan Dira.


"Gak ada, bukan adik kandung jangan harap lo bisa peluk istri gue".


"Dih posesif amat bos", Raka terkekeh, Kevin kepentok apasih padahal dari dulu punya teman cewek juga cuma Shanum doang, mungkin lebih ke kasihan dengan kisah hidupnya.


"Ra kamu gak kangen abang?", tanya Galang dengan sendu.


"Sayang gak aku ijinnin kamu peluk dia", langsung mengambil tangan Dira menggenggam nya dengan erat.


Dira juga sadar mereka sudah dewasa bukan muhrim lagi, apalagi dirinya sudah mempunyai suami.


Apasih, siapa juga yang mau peluk, tapi jujur Dira kangen banget.


Ampun tuhan, Han hanya bisa menggeleng, ternyata orang seperti Kevin tetap bisa kena sindrom bucin, "Gue kira lo akan jomblo seumur hidup, ternyata bisa bucin juga".


"Lo gak tau aja selama di tinggal bini nya masuk kantor sudah kaya orang gila, gue mulu lagi yang terus kena amuk", keluh Raka.


"Kan gue udah bilang emang cuma lo doang yang betah ada di sampingnya, bagus si bininya ninggalin punya suami seperti itu mana betah", Han semakin mengolok Kevin.


"Gue pindahin lo ke cabang", geram Kevin pada Raka, "Dan lo Han, gue bongkar semuanya sekarang juga".

__ADS_1


"Ampun bos ampun, gue kan cuma ngasih tau paktanya, bu bos bantu saya jangan diemin dia terus bisa bisa di ruangan kerjanya gak ada barang satupun abis di banting dia", dengan muka melas yang di buat buat.


Cih Raka cepu banget, membongkarnya di hadapan semua orang.


Berurusan dengan Kevin, Han juga tidak bebas sebab ada salah satu yang Kevin tutupin tentangnya.


Pak Irwan dan bu Irma hanya bisa menggeleng melihat sisi beda dari 4 peria disana, padahal tampang mereka seperti tidak pernah cekcok adu mulut karena hal sepele.


"Ehh lupa saya belum kenalan", Han berusaha mengalihkan topik dan mencairkan suasana.


"Bu, Pak kenalkan saya Handoko, panghil Han aja hehee baru lihat ya maklum anak rantauan", ucapnya.


"Salam kenal nak", bu mirah tersenyum.


"Nyonya bos gak mau kenalan sama saya?", kapan lagi bisa jailin Kevin.


"Han", tekan Kevin, kenapa teman temannya ini menyebalkan sekali, semakin kesini semakin merasa tidak aman.


Dira tersenyum tipis, "Kak Han salam kenal".


Buset ni cewek pantas Kevin tergila gila, gue disana gak pernah nemuin yang sebening ini, semuanya dempulan, batin Han, benar kata Raka istri orang emang suka lebih menantang.


"Handoko", tambah geram, mau gimana Kevin tidak semakin kesal, Han ngeliatin Dira sudah kaya Harimau sedang lapar di beri makan daging segar.


Kevin harus waspada ketiga temannya gila semua, Raka dari dulu memang sudah terang terangan kan, sedangkan dengan Galang, dia tidak tau seperti apa kisah mereka di masa kecil, tatapan Galang sangat beda ketika menatap Dira, dengan Handoko Kevin sangat tau sipat manusia satu ini, menetap di luar negri sudah tau kan bagaimana pergaulan disana.


Dira masih belum mau bicara banyak padanya, ternyata menghadapi situasi seperti ini rasanya lebih takut daripada tidak mendapatkan kepercayaan investor kemarin.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambunggggg...............💋

__ADS_1


Jangan lupa like and comment😘


__ADS_2