
Kevin langsung masuk kedalam rumah besar yang sudah seminggu ini dirinya tinggalkan.
...Nadira....
"Lo dimana?".
"Di kamar gue?".
"Cepetan turun gue udah di bawah nih".
Dira yang mendapatkan pesan bahwa Kevin sudah di bawah dirinya bergegas memakai kerudung lagi, sudah 1 jam menunggu dirinya kira Kevin tidak jadi menjemputnya.
...Mas, Kevin🖤...
"Aku di kamar tamu mas".
"Iya tunggu sebentar lagi pakai kerudung".
"Temui mama dulu kalau sudah sampai".
Mana berani Dira memakai kamar Kevin.
...Nadira....
"Ya lo sini dulu baru gue bilang mama".
"Yang ada lo gak di ijinnin balik sama gue ke apart".
"Cepetan gue paling malas nunggu Dira".
Astagfirulloh punya suami gak sabaran amat, batin Dira.
Kebetulan mama Sarah keluar dari kamarnya, melirik ke ruang tengah ternyata ada Kevin yang masih memakai pakaian kerja dengan lengkap.
"Ngapain?".
"Ck aku ini anak mama", Kevin menceleos malas.
"Ya kan mama cuma tanya ngapain, makannya kalau sudah punya istri harus tau batasan".
"Ma udah deh, Dira aja gak mempermasalahkan kenapa mama dari sore seperti punya dendam saja sama anak nya sendiri".
"Terus kamu mau ngapain?, jemput Dira?".
"Iyalah jemput siapa lagi kalau bukan dia".
__ADS_1
"Cih makanya jadi laki laki jangan gatal, jangan banyak tingkah juga".
"Mama maaf Dira pulang bareng mas Kevin dulu ya", dengan tergesa gesa Dira datang ke ruang tengah.
"Iya Dira hati hati, ada apa apa kabarin mama langaung ya, kalau anak ini bikin ulah atau bikin sakit hati kamu bilang ke mama".
Setiap hari ma di bikin nyesek sama sakit hati mah, batin Dira.
"Xixixi iya ma", Dira terkekeh untuk bisa menutupi semuanya dan terlihat biasa biasa saja.
Di sepanjang perjalannan pulang keduanya sama sama diam tidak ada yang mengeluarkan suara baik Kevin maupum Dira, hanya ada suara musik yang sejak tadi menemani keduanya.
"Lo marah?" tanya Kevin sebab Dira terus melihat ke jendela mobil.
"Mau marah gak ada hak, lagian memang kalian serasi ko, aku sadar bukan siapa siapa kamu mas meskipun kita sepasang suami istri".
"Gue gak ada apa apa sama dia, Shanum sahabat gue dan Raka kami berteman sejak SMA dulu".
Seperti sedikit angin yang menyapu kegelisahan hati Dira.
"Gue kan sudah ingatkan elo jangan menaruh perasaan ke gue".
"Iya mas aku juga sadar diri".
Ayo Dira kenapa harus jatuh cinta pada laki laki yang tidak mencintaiumu sih.
Dira tidak tau rasa apa yang dirinya rasakan sekarang.
Sampai apartemen Dira langsung membuatkan Kevin pasta, pasta fettucini lebih gampang dari yang lain, sebab nasi juga tidak ada sedangkan ini sudah jam 11 malam.
Meskipun bermodal youtube namun rasanya tidak terlalu buruk, sebelum naik mereka tadi sempat membeli bahannya di supermarket bawah apartemen yang buka 24 jam.
"Maaf kalau tidak sesuai rasanya, aku baru pertamakali membuat ini", Dira menyodorkan piring berisi fettucini yang dirinya buat tadi.
"Yang penting gue gak laper", tidak ada kata terimakasih dari Kevin, laki laki itu langsung melahap makannan yang dira buatkan.
Karena kesal dengan Kevin yang tidak menghargai perjuangannya Dira langsung berlalu tanpa pamit.
Apa susah nya tinggal bilang Terimakasih Nadira, susah banget mengucapkan dua kata seperti itu juga, gerutu Dira.
Jauh jauh di jemput hanya ingin di buatkan makannan saja.
Sedangkan Kevin yang melihat Dira tidak pamit padanya merasa aneh juga.
"Dia kenapa seperti muka kesal, haihh bodo amat lah", melangsungkan makan lagi.
__ADS_1
Setelah makan Kevin langsung masuk ke kamarnya, tanpa membersihkan diri dan membuka sepatu laki laki itu langsung membantingkan badan ke kasurnya.
.
.
Dira bangun seperti biasa, meskipun dirinya baru bisa tidur di jam 2 pagi tetap saja setengah lima sudah terbangun lagi karea sudah terbiasa.
Setelah membereskan rumah dan membuat sarapan Dira masuk ke kamar Kevin.
"Astagfirullohalazim mas Kevin", sambil membuka sepatu lelaki itu Dira sambil membangunkan Kevin.
"Lain kali walawpun ngantuk buka dulu sepatu sama baju bekas dari luar mas, kamu ini jorok sekali untuk diri sendiri juga".
"Berisik lo masih pagi sudah ngomel terus".
"Mau gimana gak ngomel tidur masih pakai baju kerja lengkap, sepatu juga gak di lepas".
"Ahh gue masih ngantuk Dira".
"Sudah jam 6 mas bangun".
"Gue agak siangan hari ini ke kantor nya".
"Jangan salahin aku lagi ya kalau gak di bangunnin, aku mau kerja mas".
"Lo bisa gak diam saja di rumah, duit yang gue kasih emang kurang buat lo, sampai mau kerja terus".
"Bukan begitu mas".
Dira langsung meninggalkan kamar Kevin.
Enak sekali Kevin bicara seperti itu, dirinya sedang mati matian ngumpulin uang buat biyaya oprasi bapak nya.
Memang duit yang Kevin kasih sangatlah besar tapi Dira juga tidak mau besar kepala sebab tidak tau kedepannya akan seperti apa peenikahan mereka.
.
.
.
.
Bersambung.......
__ADS_1