
Menatap kedua orang tuanya yang begitu harmonis meskipun dalam keadaan serba pas pasan membuat Nadira meringis.
Pak Irwan sudah sadar sejak tadi malam, membuat Nadira bisa bernapas sedikit lega.
Ibu dan bapak saling melengkapi satu sama lain, meskipun banyak sekali cobaan yang datang merunduk kedalam rumah tangga keduanya, tapi mereka begitu sabar dan saling menguatkan.
"Ibu Pak, Dira keluar sebentar ya", ijinnya.
"Iya nak jangan terlalu lama ibu susah nanti mencarinya", ucap pak Irwan.
Sudah salah satu kebiasaan Dira pergi keluar sekedar mencari angin segar saat sedang di rumah sakit, pada akhirnya bu Irma selau panik mencarinya karena terlalu lama.
"Hehee iya siap pak bos", seraya hormat dan tertawa.
Melangkahkan kaki keluar dari ruangan rawat bapak nya, kamu sudah terbiasa melewati segala masalah kan, kenapa sekarang seolah tidak kuat, masih terus berjalan melewati lorong rumah sakit, tujuan Dira ke taman seperti biasa.
"Dira", pangil seorang wanita, suara itu sudah tidak asing lagi di telinganya, suara yang berwibawa namun penuh kelembutan.
Deg..... Mama darimana beliau tau kalau aku disini, kenapa mama datang di saat seperti ini, bagaimana kalau bertanya aku masih belum siap, aku tidak mau mengingat itu dulu untuk saat ini.
"Maaa", Dira membalikan badannya, wanita ini sangat berkelas, cantik elegan arghhh jauh sekali gaya hidupnya dengan kesederhanaan keluarga aku, menatap mertua yang berjalan ke arah nya.
"Mama tlpon gak aktif terus, kamu sedang apa disini?, siapa yang sakit, kamu sakit?".
Deretan pertanyaan yang membuat Dira bingung.
Mama Sarah menatap muka menantunya yang terlihat sangat lelah, terlihat sekali bahwa Dira habis nangis lingkaran mata hitam juga sangat jelas.
Berpura pura tidak tau apa apa agar Dira nyaman dengannya.
Pasti kamu habis nangis terus, lelah menunggu bapak kamu, bebanmu banyak sekali Dira, aku saja yang sudah tua belum tentu bisa melewati semuanya.
"Mmm mama sedang apa di sini?", sedikit gugup.
__ADS_1
"Oo hmm mama habis jenguk orang, anak nya teman mama", maafkan mama bohong Dira, tidak mungkin mama jujur kalau membuntuti kamu sampai sini.
Dira mengangguk, aku harus gimana lagi ngomongnya, ayo Dira berpikir jangan terlalu bodoh.
"Kamu sedang apa, apa ada yang sakit?, kenapa ada di rumah sakit ini kan terlalu jauh dari kota".
"Bukan Dira yang sakit ma, bapak yang sedang di rawat disini", gak bisa bohong mama Sarah terlalu baik padanya selama ini, lagian Dira punya masalah bukan sama mertuanya tapi sama Kevin suaminya.
Huwhhh harus ekstra sabar banget agar cepat mendapat jawaban hihii, mama Sarah tersenyum.
"Bapak di rawatnya dimana?, sakit apa duluan mama lihat terlihat sangat sehat beliau, ayo anter mama kesana mumpung lagi disini".
Aaaa sudah tidak bisa menolak kalau dengan 1 wanita ini, mama Sarah adalah salah satu yang ajakannya tidak bisa Dira tolak sama sekali.
"Ayo ma", manis sekali menantu dan mertua itu terlihat sangat akrab sayang sekali perlakuan anak nya yang diluar nurul.
"Pertanyaan mama tadi belum Dira jawab, kenapa mama tlpon gak aktif?".
Maaf ya Allah aku berbohong padanya.
"Ya sudah nanti mama suruh Kevin anterin kesini ya, anak itu terlalu sibuk dengan urusannya", sengaja sedikit memancing, ingin tau bagaimana reaksi Dira.
"Ehhh aa mmm gak usah ma, nanti besok kalau bapak sudah membaik Dira pulang kesana ko".
Insya Allah ya ma, Dira gak janji.
Kamu sampai sekarang masih menyimpan rapat kebusukan suami kamu, Kevin memang anakku tapi aku tidak mendukung niat jahat nya,
"Kalau gitu ni mama punya dua ponsel buat Dira 1 deh, supaya mama gak susah hubunginnya kaya kemarin udah panik banget".
"Maaa, maaf Dira menolak pemberian mama kali ini".
"Mama cuma ingin tau kabar kamu, seharian kemarin papa juga nanyain kamu terus ada kabar atau tidak, kalau Dira punya masalah sama Kevin jangan jauhin mama sama papa Dira, kami sudah menganggap kamu anak".
__ADS_1
Yang awalnya pura pura tidak tau, mama Sarah juga seorang perempuan tidak bisa menyembunyikan bagaimana perasaan nya jika berada di posisi Dira.
"Maafkan Dira belum bisa cerita ma, Dira harap mama mengerti", menunduk sedih.
"Iya sudah tidak apa apa sayang, uang rumah sakit biarkan mama yang tanggung jangan menolak mama tidak mau ada penolakan".
"Tapi ma Dira juga ada uang ko".
"Uang Dira simpan buat keperluan sendiri ya, mama akan tlpon papa supaya urus perpindahan rumah sakit, kita bawa ke rumah sakit yang ada di kota".
"Dira tidak ada uang untuk membayar semuanya nanti".
Menghela napas, kalau begini caranya Dira menjadi punya hutang budi.
"Cukup jadi anak mama, jangan tinggalin mama sama papa, antara kamu dan Kevin mama gak akan ikut campur itu mama serahkan ke kamu".
Kalau boleh jujur mama Sarah tidak mau sampai Kevin dan Dira berpisah, tapi kesalahan Kevin terlalu besar sangat sulit untuk di maafkan.
"Terimakasih ma", tidak bisa menolak, keadaan pak Irwan juga sebenarnya membutuhkan pasilitas yang lebih bagus.
Urusan utang atau apa Dira akan pikirkan nanti yang paling penting kesehatan pak Irwan sekarang.
.
.
.
.
"
Bersambung........💋
__ADS_1