
Sudah jam 10 malam Kevin masih belum pulang, tidak ada kabar berita dari laki laki itu, terakhir ngabarin pas mau makan siang, Raka juga sama di tlpon tidak aktif membuat perasaan Dira tidak tenang.
Menggonta ganti channel tv tetap aja tidak ada muka Kevin disana, padahal dari pagi sampai siang muka laki laki itu terus bersliweran di layar kaca.
Tidak lama terdengar pintu kamar terbuka, Dira sampai melompat dari sopa.
Kevin padahal sudah sangat hati hati membuka pintu takut membangunkan orang yang sedang tidur, setelah pintu terbuka di buat kaget karena melihat Dira yang lompat dari sopa.
"Mas kenapa lama?", langsung menyalami dan memeluk suaminya.
Astagfirulloh kaget banget sumpah, untung gue gak punya riwayat jantung, kalau punya bisa tamat riwayat gue.
Meskipun begitu tidak kalah bahagia ketika di sambut dengan pelukan hangat dari seorang wanita yang sudah menguasai penuh hatinya.
"Baru beres sayang maaf ya, kenapa belum tidur hmm?", mencium kepala dan mengelus punggung Dira.
"Nungguin kamu dari sore, kenapa gak ngabarin?".
"Maaf ponsel aku tadi siang kena banting Ricko jadi hancur gak bisa kabarin kamu".
"Kamunya gak kenapa napa kan?", menelisik muka dan tangan Kevin.
"Kan ada do'a dari kamu mama sama ibu yang bisa lindungin aku hehe, Alhamdulillah aku aman gak kenapa napa sayang, mandi dulu ya nanti lanjut peluk lagi kalau udah mandi".
Dira mengangguk langsung melepaskan pelukannya dari Kevin, merasa berdosa pada laki laki itu, tadi siang Dira sempat ngobrol dengan orang orang yang kerja di rumah mama Sarah, mereka bercerita setelah Dira meninggalkan Kevin laki laki itu sering datang dengan keadaan acak acakan.
Bertanya ke mama Sarah iya membenarkan, bahkan ponsel yang mama Sarah kasih juga dari Kevin, semua biyaya rumah sakit dari Kevin hanya melalui mama Sarah memberikannya.
Kevin keluar dari kamar mandi melihat Dira masih duduk di sopa, "Belum tidur kenapa?, ini sudah mau jam 11 sayang".
"Nungguin kamu, udah makan?".
__ADS_1
Kevin menggeleng tidak sempat makan sama sekali, kegilaan Ricko menguras waktu dan tenaganya.
"Mau makan apa?, aku panasin dulu ya".
"Maunya makan kamu sayang boleh kan?", senyum mengerikan bagi Dira.
"Mas aku serius tanya mau makan apa?, jangan suka di biarin perut kosong, aku kebawah sebentar panasin makan nya", langsung keluar tanpa menunggu persetujuan dari Kevin, sejujurnya Dira malu gak tau kemana arah tujuan ucapan Kevin tadi.
Akhhhh sabar Kev sabarrrr, sudah berada dalam genggaman lo tinggal menunggu waktu kapan tibanya, ikut keluar dari kamar menuruni anak tangga.
"Pada belum makan juga?", tanya Dira setelah masuk ke dapur ada Galang Han dan Raka.
Ketiganya menggeleng tanda belum, tapi pas melirik ke arah pintu dapur ada Kevin disana mau tak mau mereka keluar dari dapur.
"Ehhh pada mau kemana?".
"Keluar", jawab ketiganya kompak.
Kevin diam saja tanpa berkata apa apa, dalam hatinya ada sedikit gak ikhlas tapi sadar lagi tanpa bantuan mereka entah seperti apa dirinya sekarang, lagipula tidak mungkin Raka Galang dan Han menghianatinya kan.
Mereka makan dengan lahap sebenarnya dari tadi sudah sangat laper tapi tidak bisa ngapa ngapain, makannya cuma masuk dapur doang mengambil makannan apa yang bisa di makan.
Dira di sana sudah seperti ibu yang sedang mengawasi ke empat anaknya agar makan dengan benar.
"Parah makan tengah malam banyak banget lagi", Han menggerutu sendiri.
"Mana gue sudah hampir 3 bulan gak pernah olah raga", dengus Raka, karena sibuk terus.
Emang cuma gue doang yang aman, batin Galang yang sudah menjadi manusia terkalem sudah beberapa hari ini.
"Tadi laper giliran sudah makan pada ngedumel", saut Kevin kesal.
__ADS_1
"Tinggal besok pada olah raga", ucap Dira sambil tertawa, lagian makan kaya belum makan dari kemarin abis semua makannan yang Dira panasin.
Selesai makan dan membereskan semuanya Kevin dan Dira masuk kedalam kamar, berbeda dengan Raka Han dan Galang mereka malah nonton pertandingan bola di ruang tengah.
"Apa?, mas ko ngeliatinnya kaya gitu aku jadi takut?", perasaan Dira sudah was was melihat Kevin yang sudah semakin dekat padanya.
Kevin langsung mengangkat tubuh Dira membawanya ke atas kasur, "Tidur sayang sudah malam, maaf ngerepotin kamu tengah malam".
"Gak apa apa, tapi ini engap banget kamu peluk apa mau bunuh sih", huwaaa ibu Dira takuttt mas Kevin menakutkan.
"Mau yang lain boleh?", mencium kening Dira lama.
Bodoh banget aku selama ini nyianyiain istri sebaik kamu Nadira, maaf sayang maaf aku gak akan mengulangi kesalahan yang pada akhirnya hampir membuat aku gila sendiri.
Terimakasih sudah menerimaku kembali dan memberikan kesempatan kedua, aku sadar sudah menjadi suami yang banyak nyakitin kamu.
Meresapi dan menyadari kesalahannya selama ini Kevin sampai meneteskan air mata, bodohnya tidak mengerti perasaan sendiri.
.
.
.
.
.
.
Bersambung................💋
__ADS_1